Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 16 Januari 2010

Bulan Terkapar di Trotoar (Catatan Dari Seorang Kawan)

Bulan terkapar di trotoar. Tubuhnya kotor dan ada bercak-bercak darah pada wajah serta lambung kirinya. Dan, lihatlah, kini ia menggeliat, mencoba untuk bangkit. Mula-mula ia mengangkat kepalanya dan melihat sekeliling. Lalu, memiringkan tubuhnya dan mencoba mengangkat badannya dengan menekankan kedua telapak tangannya ke trotoar. Tapi, usaha itu gagal, tubuhnya kembali rebah. "Ya Allah, apa yang telah terjadi denganku," gumamnya.


Bulan meraba tulang-tulang rusuknya. Ada rasa sangat nyeri di sana. Mungkin tulang-tulang rusuknya telah patah. Bulan meraba pinggangnya. Ada rasa sangat ngilu di situ. Mungkin tulang pinggulnya terkilir atau retak. Bulan meraba lambung kirinya. Ada rasa sangat pedih di situ, dan darah merembes menembus kaosnya. Bulan mengusap bercak-bercak darah pada hidung, pipi dan pelipisnya, lalu meraba kepalanya. Jilbabnya telah tiada, entah terlempar ke mana. "Seharusnya aku sudah mati…Tuhan menyelamatkanku," batinnya.


Bulan tidak tahu berapa jam ia pingsan. Ketika kesadarannya pulih, hari sudah larut malam. Bentrok antara aparat keamanan dan demonstran telah lama reda. Suasana jalan di depan kompleks gedung MPR pun sudah lengang. Ia yakin masih hidup ketika merasakan pada hampir semua bagian tubuhnya. Ia merasa ada keajaiban, kekuatan gaib, yang melindunginya: Tuhan. Jika tidak, ia pasti sudah mati dengan tubuh remuk diinjak-injak sepatu puluhan tentara dan ratusan mahasiswa.


Tapi, Bulan merasa malaikat maut belum pergi jauh darinya. Mahluk gaib itu masih mengintai dari balik kegelapan malam dan tiap saat siap mencabut nyawanya. Sebab, dalam dingin malam ia masih terkapar sendiri, tak berdaya di trotoar, tanpa ada yang menolongnya. Mungkin ia akan pingsan lagi, dan tidak akan tersadar lagi, karena langsung dijemput oleh malaikat maut dengan kereta kuda, untuk dihadapkan ke Tuhannya. Mungkin ia akan kehabisan darah dan tidak tertolong lagi.


Bulan meraba lagi lambung kirinya. Rembesan darah makin membasahkan kaosnya, bahkan terus menetes ke trotoar. "Mungkin lambungku tertembus peluru nyasar," pikirnya. "Ya Allah, kuatkanlah hamba...," gumamnya.


Bulan mencoba untuk bangkit lagi dengan sisa-sia tenaganya, tapi gagal lagi. Sudah tidak ada sisa tenaga lagi yang cukup hanya untuk mengangkat tubuhnya sendiri. Maka, yang dapat ia lakukan hanyalah berbaring pasrah dan menyerah pada Sang Nasib. Terlintas dalam pikiran, kenapa tidak ada yang menolongnya. Dinaikkan ke atas truk tentara dan dibawa ke rumah sakit, misalnya. Atau diangkut dengan ambulan PMI? Bukankah tadi banyak anak-anak PMI dan ada dua ambulan bersama mereka untuk siaga menolong para demonstran yang terluka?


"Di manakah kini mereka. Apakah aku dianggap sampah yang tidak perlu ditolong?" batinnya. "Ah, tidak. Tidak mungkin! Mungkin ambulan PMI dan truk tentara telah penuh, karena terlalu banyak demonstran yang terluka, dan aku sengaja dibaringkan di sini untuk dijemput nanti… Tapi, kenapa sampai begini larut belum juga ada yang menjemputku? Apakah mereka lupa dan tidak ada yang melihatku lagi, karena aku terbaring dengan pakaian hitam-hitam di tengah kegelapan malam?"

***

Ketika berangkat berdemonstari bersama kawan-kawan sekampusnya siang tadi Bulan memang sengaja memakai kaos lengan panjang dan celana hitam sebagai tanda berduka bagi bangsanya yang sedang dilanda krisis ekonomi. Ia pun ingin menyatakan duka sedalam-dalamnya karena kebebasan sudah mati di negerinya dan sudah 30 tahun rakyat ditindas oleh rezim yang otoriter, sehingga tiap ada kawan yang menyapanya "merdeka", ia selalu menjawab, "belum!"


Dan, pada demo mahasiswa yang menandai gelombang reformasi itu ia ingin menyatakan rasa dukanya secara total, sehingga lipstik yang ia pakai pun cokelat kehitaman, dengan jilbab hitam dan sepatu cat yang sengaja ia olesi dengan spidol hitam. "Tapi, kalau sekarang aku mati di sini, adakah yang akan berduka? Masih adakah orang yang akan peduli padaku?" batinnya.


Kenyataanya kini Bulan terkapar sendiri, sekarat, di trotoar, dan tidak ada seorang pun yang menolongnya. Ia heran, kenapa sampai selarut itu tidak ada yang melihat, menemukan, dan menolongnya. Padahal, masih ada satu dua orang pejalan kaki yang sekali-sekali melewati jalan beraspal tidak jauh dari tempatnya terbaring. Beberapa tentara juga masih tampak berjaga di pintu gerbang kompleks gedung bundar yang sedikit terbuka. Jalanan memang lengang, dan tidak ada satu pun kendaraan yang lewat, karena diblokade tentara. "Mustahil kalau tidak ada seorang pun yang melihatku terbaring di sini," pikirnya. "Jangan-jangan aku dianggap gelandangan yang sengaja tidur di sini, sehingga tidak perlu mereka usik?"


Bulan khawatir jangan-jangan orang-orang Jakarta memang sudah tidak memiliki kepedulian lagi pada nasib orang lain. Mereka egois, hanya suntuk pada urusan diri sendiri, dan ia menjadi korban ketidakpedulian itu. "Apakah tentara-tentara yang siaga di pintu gerbang itu juga tidak melihatku? Apakah semua orang telah menganggapku sebagai sampah yang pantas dibiarkan teronggok begitu saja di pinggir jalan, dan cukup diserahkan kepada petugas kebersihan untuk dilemparkan ke truk sampah?"


Bulan mencoba mengumpulkan kembali sisa-sisa tenaganya. Dengan itulah dia ingin menolong dirinya sendiri. Jika orang lain sudah tidak peduli lagi padanya, maka dialah yang harus menolong dirinya sendiri. Begitu pikirnya. "Hidup ini keras, Bulan. Karena itu, kamu harus kuat, dan jangan sekali-kali hanya bergantung pada orang lain. Hanya kamulah yang dapat menolong hidupmu sendiri," kata ayahnya, dua tahun lalu, ketika ia pamit untuk berangkat kuliah di Jakarta.

***

Bulan kembali melihat sekeliling dengan sedikit mengangkat kepalanya. Dua orang tentara masih tampak berjaga-jaga di gerbang masuk kompleks gedung MPR yang dibuka sedikit dan hanya cukup untuk dilalui pejalan kaki. Tampak beberapa aktivis berjaket kuning melewati penjagaan dan dibiarkan masuk. Bulan lantas melihat ke dalam melalui celah pagar besi. Tampak ratusan mahasiswa masih bergerombol di teras gedung MPR. Banyak di antara mereka yang naik ke atap gedung bundar. Spanduk-spanduk berbentangan di atap gedung, tapi mata Bulan berkunang-kunang, tak dapat menangkap dengan jelas bunyi tulisan pada spanduk-spanduk itu.


Tiba-tiba angin malam bertiup sangat kencang, disertai serpihan-serpihan air. Mungkin serpihan-serpihan embun yang diterbangkan dari pohonan, atau hujan rintik-rintik. Malam itu langit memang mendung, seperti ikut berduka pada negeri yang rakyatnya sedang dilanda derita akibat krisis ekonomi, dan saat itu mereka telah kehilangan kesabarannya sehingga mendesak pemimpin negeri mereka agar segera turun dari kursi kekuasaannya. Bersama para mahasiswa mereka pun melakukan aksi-aksi demonstrasi secara besar-besaran. Dan, itulah yang mereka sebut sebagai gerakan reformasi.


Tapi, tidak mudah untuk menurunkan presiden mereka yang telah berkuasa selama 30 tahun lebih. Mereka harus berhadapan dengan aparat keamanan, pentungan, gas air mata, semprotan air, dan peluru-peluru karet yang kadang terselipi peluru beneran. Mungkin mereka para penyusup atau oknum-oknum yang sengaja disusupkan untuk memperkeruh keadaan.


Bersama para aktivis mahasiswa sekampusnya Bulan pun ikut turun ke jalan --untuk ketiga kalinya. Pada demo pertama dan kedua ia merasa asyik-asyik saja, ikut meneriakkan yel-yel di barisan paling depan sambil membentangkan spanduk. Ketika dibubarkan oleh aparat keamanan ia sempat menyelamatkan diri meskipun matanya jadi pedih karena gas air mata. Tapi, pada demo ketiga ia bernasib sial. Setelah terjungkal karena hantaman "meriam air", ia terinjak-injak tentara dan ratusan mahasiswa. Saat itulah dia merasa benar-benar akan mati, dan hanya bisa bergumam "Allahu Akbar" sebelum berjuta kunang-kunang dan kegelapan menyergap kesadarannya.


Dalam kegelapan, Bulan benar-benar kehilangan matahari. Ia terbang jauh menempuh lorong panjang yang tak sampai-sampai ke ujungnya. Di kanan kiri lorong tampak beribu-ribu, bahkan mungkin berjuta-juta tangan, dalam bayang-bayang putih, berderet melambai-lambai padanya. Sempat terbersit dalam pikirannya bahwa ia telah mati dan saat itu ruhnya sedang terbang kembali menuju Tuhannya. Tapi, penerbangan itu dirasanya begitu lama, begitu jauh, dan tak sampai-sampai. Ia ingin berteriak karena kelelahan, tapi tak ada suara yang keluar dari kerongkongannya. Ia ingin menjerit karena kehausan, tapi tak ada minuman yang dapat diraihnya. "Kenapa perjalanan menuju Tuhan begitu menyengsarakan? Apakah karena aku terlalu banyak dosa dan kini sedang menuju neraka?" pikirnya.


Di puncak kesengsaraan itulah tiba-tiba secercah cahaya menyongsongnya di ujung lorong. Bulan mencoba berontak dari kegelapan, mempercepat terbangnya, untuk meraih cahaya itu. Begitu tangannya berhasil menggapai cahaya, ia pun menggeliat sekuat-kuatnya untuk melepaskan diri dari tangan-tangan kegelapan yang terus mencengkeramnya untuk mengembalikannya ke lorong panjang yang hampa itu. Dengan sekuat tenaga akhirnya ia berhasil meloloskan diri dan masuk ke gerbang cahaya. Saat itulah ia membuka matanya, dan menyadari dirinya terkapar dalam gelap malam di luar pagar halaman kompleks gedung MPR.

***

Ingat penerbangan panjang yang melelahkan itu, tubuh Bulan tiba-tiba menggigil hebat. Malam memang telah beranjak ke dini hari, dan udara Jakarta benar-benar terasa dingin sehabis gerimis. Apalagi trotoar tempat ia terbaring juga basah. Angin berkesiur cukup keras, menerpa tubuh dan menggigilkan tengkuknya. Sesekali gerimis menderas dan cepat mereda kembali. Dua tentara yang masih berjaga di gerbang gedung bundar pun sudah menutup tubuh mereka dengan mantel.


Bulan merasa tangan-tangan maut kembali mendekatinya, untuk meraih ruhnya dan menerbangkannya kembali ke lorong panjang tadi, untuk benar-benar menemui Tuhannya. Bulan tahu tiap mahluk hidup pasti akan mati. Begitu juga dirinya. Jika saatnya telah tiba, dia pun akan mati juga. "Tapi, jangan secepat ini, ya Allah. Aku masih terlalu muda. Aku belum siap menghadapMu. Masih banyak yang harus aku lakukan. Masih banyak yang harus aku sempurnakan," gumamnya.


Bulan ingat shalatnya yang masih bolong-bolong. Apalagi saat-saat mengikuti unjuk rasa, karena sebagian besar waktunya habis di jalan. Ia ingat harapan ayah dan ibunya yang memimpikannya menjadi pengacara untuk meneruskan karier sang ayah. Mereka tentu akan sangat kecewa, kalau ia pulang bukan bersama gelar sarjana hukum, tapi bersama peti mayat. "Ya Allah, hamba benar-benar belum siap menghadapMu. Berilah hamba kekuatan dan kesempatan untuk meraih cita-cita itu," doa Bulan dalam hati.


Tapi gerimis tidak juga reda dan dingin malam makin menggigilkan tubuh Bulan. Ia ingin sekali berteriak untuk meminta tolong, tapi tak ada lagi pejalan kaki yang lewat. Sedang dua tentara yang berjaga di gerbang masuk gedung bundar terlalu jauh darinya dan ia yakin tidak akan mendengar teriakannya yang pasti sangat lirih, karena ia sudah kehabisan tenaga. Satu-satunya harapan tercepat adalah datangnya para petugas kebersihan kota yang memang mulai bekerja pada dini hari. Ia berharap mereka akan menemukannya dalam keadaan masih sadar, dan masih menganggapnya sebagai manusia sehingga tidak dilempar ke truk sampah tapi segera dilarikan ke rumah sakit.


Namun, harapan itu tidak kunjung tiba juga, dan ia merasa terlalu lama menunggu. Lama sekali. Dan, sebelum "pasukan kuning" itu datang, kepala Bulan tiba-tiba terasa sangat ringan sehingga ia merasa seperti melayang-layang di udara. Sedetik kemudian berjuta kunang-kunang menyergapnya dan menyeretnya ke dalam kegelapan yang sangat dalam, kembali menerbangkannya ke lorong panjang tak berujung. Bulan tak tahu, kali ini penerbangannya akan sampai ke mana.***
*)Ahmadun Y Herfanda

Senin, 19 Januari 2009

Cerpen

Tangisan Seorang Laki-laki

Laki-laki muda itu tepekur di atas jembatan layang Pancoran. Selama sepuluh tahun dia melewati jembatan itu pada jam sibuk. Pagi berangkat dan sore pulang kantor.

Runitinas selama sepuluh tahun berlangsung biasa. Hingga pada suatu sore, laki-laki muda itu melihat pemandangan aneh. Ketika mobil yang dikendarainya melintas di atas jembatan, dia melihat seorang perempuan tua sedang menangis di dekat lampu merah. Anehnya perempuan tua itu menatapnya cukup lama.

Sudah sembilan kali tatapan aneh itu menerpa matanya, di tempat dan waktu yang sama, perempatan lampu merah, di kolong jembatan Pancoran pukul 18.00 WIB. Merasa penasaran, pada hari keduabelas dia lewat kolong dari arah jalan Gatot Subroto langsung lurus ke arah jalan MT Haryono. Anehnya, perempuan tua itu tidak ada! Padahal kemarin sore dia jelas-jelas melihatnya.

Tidak puas, besoknya laki-laki muda itu kembali lewat kolong jembatan layang Pancoran. Namun hasilnya nihil! Untuk beberapa saat laki-laki muda itu terdiam, dia baru sadar setelah mobil di belakangnya membunyikan klakson. Gelagapan dia memasukkan persneling ke gigi satu lantas tancap gas. Dihembusnya nafas kuat-kuat.

“Kemana perginya perempuan tua itu?” gumamnya tak habis pikir. Sebelas hari, di tempat dan waktu yang sama dia melihat dengan mata kepala sendiri perempuan tua itu menangis di dekat tiang listrik lampu merah perempatan Pancoran. Tatapan sendu yang dibarengi linangan air mata, sungguh menyayat-nyayat hati laki-laki muda itu. Seolah dia dibawa ke suatu masa yang berada di bawah bayang-bayang sadarnya. Dicobanya mengingat-ingat, namun tidak bisa.

Besoknya lagi, laki-laki muda itu memutuskan untuk ganti melewati jembatan layang. Siapa tahu kalau lewat jembatan, perempuan tua itu ada. Tepat pukul 18.00 WIB dia sampai di atas jembatan. Dibukanya kaca jendela mobil, jantungnya tiba-tiba berdetak lebih kencang. Benar! Perempuan tua itu ada di sana! Dia berdiri menatapnya sambil berlinang air mata.

Laki-laki muda itu memacu mobilnya. Setelah turun dari jembatan, dia menepi dan nekat parkir di pinggir jalan sebelum pertigaan Gelael. Dengan sekuat tenaga dia berlari ke arah perempatan lampu merah Pancoran. Kali ini dia ingin bertemu perempuan tua itu.

Orang-orang yang melihat laki-laki muda itu berlari-lari ke arah perempatan Pancoran keheranan.

“Gila tuh orang, seperti dikejar setan aja,” kata seorang pelajar berseragam abu-abu putih yang nyaris tertabrak laki-laki muda itu.
Seorang ibu-ibu yang sedang berjalan ke arah yang berlawanan benar-benar tertabrak sehingga tas yang ditentengnya jatuh. “Hei, lihat dong! Main tabrak aja!”

Laki-laki muda itu tidak peduli. Kali ini dia harus bertemu dan berbicara dengan perempuan tua itu. Pada saat berlari itu samar-samar dia membayangkan seraut wajah. Wajah yang lama dikenalnya tetapi entah di mana? Ketika seraut wajah itu hampir jelas tergambar tiba-tiba saja kabur. Sepertinya ada kabut tipis yang menutupinya.

Sampai di dekat lampu merah perempatan Pancoran, laki-laki muda itu celingukan. Ditajamkan pandangan matanya. Sekarang dia berada satu meter dari tiang lampu merah, namun perempuan tua itu raib entah ke mana. Digosok-gosok matanya, tetap saja tidak ada.

“Dik, lihat ibu tua yang tadi berdiri di sini?”
Dia bertanya pada pengamen yang berdiri tak jauh darinya.
“Ngak, Om, saya baru saja sampai.”
Sekali lagi laki-laki muda itu celingukan. Saat dia berlari ke arah perempatan Pancoran paling hanya lima menit. Namun perempuan tua itu sudah lenyap. Seberapa cepat dia bisa menghilang di keramaian lalu lintas pada jam-jam sibuk seperti ini?

“Jangan-jangan dia naik metro mini atau mikrolet yang suka ngetem di dekat perempatan sambil menunggu lampu merah berganti hijau,” pikir laki-laki muda itu.

Dia lantas merasa tidak mungkin menemukannya. Sebab, dalam waktu lima menit angkutan umum yang dinaiki perempuan tua itu bisa saja sudah menempuh jarak beberapa kilo. Merasa tidak berhasil, laki-laki muda itu lantas meninggalkan perempatan Pancoran.
“Kamu harus temukan perempuan tua itu.”
Laki-laki muda itu bicara sendiri.
“Ke mana kamu menghilang, perempuan tua. Bantulah aku mengingat kembali siapa diriku. Aku ingin tahu masa laluku. Aku ingin tahu darimana asal-usulku. Hanya kamu yang bisa membantuku.”

Malam harinya, laki-laki muda itu tak bisa tidur. Membayangkan wajah perempuan tua yang sedang menitikkan air mata, membuat laki-laki itu miris. Merasa tidak bisa menguasai kegelisahannya, laki-laki itu memutuskan untuk ke jembatan layang Pancoran.

Malam masih menyisakan remang dan menyebar hawa dingin. Meskipun di bawah jembatan ada penerangan lampu namun tidak sebenderang kala mentari mengirimkan hangatnya ke bumi.

Tiba-tiba dari arah jalan Supomo tampak sesosok bayangan. Jantung laki-laki itu berdetak lebih kencang. Tak salah lagi, dia adalah perempuan tua yang dicarinya!

Perempuan tua itu memandangnya sendu dan pelahan air matanya mengalir menelusuri pipinya yang keriput. Bertemu dengan perempuan tua tersebut dalam suasana dingin, sepi dan jauh berbeda dengan biasanya, membuat laki-laki itu terbayang peristiwa sepuluh tahun lalu.

Ya, perempuan tua itu mengingatkan dia kepada ibunya.
Saat berusia sebelas tahun, laki-laki itu tinggal bersama kedua orang tua dan lima saudaranya. Dia anak terkecil. Lingkungan tempat tinggalnya adalah perkampungan kumuh di kota Pontianak. Ayahnya pengguran dan suka berjudi. Ibunya menjadi pembantu rumah tangga untuk menghidupi keluarga. Kakak-kakaknya bersekolah hanya sampai SD. Setelah tamat SD mereka cari makan sendiri-sendiri.

Kelima kakaknya itu jadi preman, mencari uang dengan jalan haram dan merugikan orang lain. Ada yang jadi pencopet, maling, penodong, penjambret dan sejenisnya. Kelima kakaknya semua laki-laki. Memang lingkungan tempat tinggalnya buruk, semua penghuni bekerja seperti itu. Mereka suka berjudi dan minum-minum.

Laki-laki itu suka ikut ibunya bekerja di rumah Pak Danu. Majikannya yang bekerja di BUMN, menyukainya karena dia rajin, selalu mendapat ranking di sekolah, selalu shalat dan sangat sopan. Dia berbeda dengan kelima kakaknya dan masyarakat di lingkungan tempat tinggalnya. Ibarat mutiara dalam lumpur, dia tampak berkilau. Jadi, ketika Pak Danu mutasi ke Jakarta, anak laki-laki itu dibawanya. Ibunya sangat sedih, sebab hanya anak bungsunya tumpuan harapannya. Namun demi masa depan yang lebih baik sang ibu merelakannya. Semalaman si ibu mendekapnya saat tidur dan membasahi rambutnya dengan air mata.

Perempuan tua itu telah membuka kembali ingatannya. Laki-laki itu menitikkan air mata. Ya, alangkah berdosanya dia. Ibu yang begitu tulus dan menyayanginya, dilupakan begitu saja karena dirinya sibuk bekerja di Jakarta.

“Maafkan aku, Ibu, aku memang anak durhaka yang tidak tahu berterima kasih.”

Air mata laki-laki itu terus mengalir membasahi kedua pipinya. Dia merasa telah menjadi anak yang tidak berbakti kepada orang tuanya. Sekarang baru disadari kalau selama ini dia terlalu mengejar impiannya hingga melupakan asal-usulnya. Semua itu terjadi seperti air mengalir dan tidak disadarinya. Karena, setiap manusia menginginkan perubahan dalam hidupnya.

Semula laki-laki itu hanya menginginkan untuk menjadi salah satu yang terbaik. Dia ingin menunjukkan kepada keluarga dan masyarakat bahwa tidak semua keluarga buruk itu akan menjadi buruk pula. Namun di sisi yang lain, ada perasaan malu mengakui asal-usul keluarganya yang miskin.

Semakin mengingat ibu dan keluarganya di kampung, laki-laki itu menjadi semakin menyesali perbuatannya. Membayangkan betapa ibunya berjuang sendirian menghidupi keluarga. Membayangkan bagaimana ayahnya hanya berjudi dan suka memukuli ibunya, hatinya terasa pedih. Air matanya terus mengalir.

Tanpa disadari, sinar matahari di ufuk timur mulai menyeruak Menerobos gedung-gedung bertingkat di sekeliling jembatan layang Pancoran. Warnanya yang kuning keemasan memberikan nuansa cerah dan hangat. Lalu lintas menggeliat bergairah. Jalanan pun mulai bernyawa. Namun laki-laki itu masih mematung di atas jembatan layang. Dia semakin keras menangis.

Orang-orang yang lewat heran melihatnya. Laki-laki itu tidak peduli, dia terus menangis meraung-raung. Hingga akhirnya dilihatnya perempuan tua yang menangis itu melambai ke arahnya dan merentangkan kedua tangannya. Laki-laki itu pun tersenyum. Dia ingin menemani perempuan tua itu. Maka, tanpa rasa takut laki-laki itu pun terjun dari atas jembatan Pancoran.( *)

Kemana Kau Matahari

Kemana Kau Matahari


Pernahkah kau merasakan sesuatu yang biasa hadir mengisi hari-harimu, tiba-tiba lenyap begitu saja. Hari-harimu pasti berubah jadi pucat pasi tanpa gairah. Saat kau hendak mengembalikan sesuatu yang hilang itu dengan sekuat daya, namun tak kunjung tergapai. Kau pasti jadi kecewa seraya menengadahkan tangan penuh harap lewat kalimat doa yang tak putus-putusnya.

Bukankah kau jadi kehilangan kehangatan karena tak ada helai-helai sinar ultraviolet yang membuat senyumnya begitu ranum selama ini. Matahari bagimu tentu tak sekadar benda langit yang memburaikan kemilau cahaya tetapi sudah menjadi sebuah peristiwa yang menyatu dengan ragamu. Bayangkanlah bila matahari tak terbit lagi. Tidak hanya kau tapi jutaan orang kebingungan dan menebar tanya sambil merangkak hati-hati mencari liang langit, tempat matahari menyembul secara perkasa dan penuh cahaya.

Kaulah matahari itu, bidadariku. Berhari-hari kau merekat kasih hingga tak terkoyak oleh waktu, tiba-tiba kita harus berpencar di bawah langit menuju sudut-sudut yang kosong. Kekosongan itu kita bawa melewati jejalan kesedihan. Kita harus terpisah jauh menjalani kodrat diri yang termaktub di singgasana luhl mahfudz. Semula kita begitu dekat. Lantas terpisah jauh oleh lempengan waktu.

Kita mengisi halaman-halaman kosong kehidupan kita dengan denyut nadi. Sesudahnya, kita bertemu bagai angin mengecup pucuk-pucuk daun dan berlalu begitu mudah. Dan kita pun bertemu lagi dengan perasaan yang asing hingga kita begitu sulit memahami siapa diri kita sebenarnya.

Di ruang kosong yang semula dipenuhi pernik cahaya matahari, kita bertatap muka penuh gairah. Di penjuru ruang kosong itu bergantungan bola-bola rindu penuh warna dan aroma. Bola-bola itu bergesekan satu dengan lain mengalirkan irama-irama lembut Beethoven atau Papavarotti. Irama itu menyayat-nyayat hati kita hingga mengukir potongan sejarah baru. Bagaikan sepasang angsa putih yang menari-nari di bawah gemerlapan cahaya langit, sejarah itu terus ditulisi berkepanjangan. Lewat ratusan kitab, laksa aksara. Namun, setiap perjalanan pasti ada ujungnya. Setiap pelayaran ada pelabuhan singgahnya. Setiap cuaca benderang niscaya ditingkahi temaram bahkan kegelapan.

Andai sejarah boleh terus diperpanjang membawa mitos dan legendanya, maka dirimu boleh jadi termaktub pada pohon ranji sejarah itu. Boleh jadi, kau akan tampil sebagai permaisuri atau pun Tuanku Putri yang molek. Mungkin, berada di bawah bayang-bayang Engku Putri Hamidah, Puan Bulang Cahaya atau pun siapa saja yang pernah mengusung regalia kerajaan yang membesarkan marwah perempuan.

Aku tiba-tiba jadi kehilangan sesuatu yang begitu akrab di antara kutub-kutub kosong itu. Kusebut saja, kutub rindu. Aku tak mungkin menuangkan tumpukan warna di kanvas yang penuh garis dan kata ibarat sebab lukisan agung ini tak kunjung selesai. Masih diperlukan banyak sentuhan kuas dan cairan cat warna-warni hingga lukisan ini mendekati sempurna. Kita telah menggoreskan kain kanvas kosong itu sejak mula hingga waktu jeda yang tanpa batas.

Masih ingatkah kau bagaimana langit-langit kamar itu penuh getar dan kabar. Tiap pintu dan tingkap dipenuhi ikrar kita. Dan bola lampu temaram memburaikan janji-janji. Sebuah percintaan agung sedang dipentaskan di bawah arahan sutradara semesta. Kau membilang percik air yang berjatuhan di danau kecil di sudut pekarangan jiwa dalam kecup dan harum mawar.

Bahkan, tubuh kita terguyuri embun yang terbang menembus kisi-kisi tingkap hingga tubuh kita jadi dingin. Malam-malam penuh mimpi dan keceriaan bagaikan sepasang angsa yang mengibas-ngibaskan bulu-bulu beningnya. Kau redupkan cahaya lampu di tiap penjuru hingga sejarah dapat dituliskan secara khidmat dan penuh makna. Kau menatap langit-langit kamar sambil membisikkan untaian puisi yang kau tulis dengan desah napasmu. Kita merecup semua getar irama percintaan itu tiada batas.

Malam itu siapa pun tak butuh matahari. Sebab, ada bulan yang bersaksi. Kita hanya butuh setitik cahaya guna penentu arah belaka. Selebihnya sunyi menyebat kita dan tiupan angin yang melompat lewat kisi-kisi jendela yang agak terdedah. Dengan apakah kulukiskan pertemuan kita, Kekasih? Chairil sempat bertanya seketika.

Ah, tak cukup kata memberi makna, katamu. Dan isyarat sepasang angsa yang saling menggosokkan paruh-paruhnya. Bagaikan peladang kita pun sudah pula bertanam dan menebar benih. Kelak, katamu, akan ada buah yang bakal dipetik sebagai kebulatan hati yang begitu mudah terjadi tanpa paksa dan janji.

Dan kita pun terus saja bertanam agar daun-daun yang bertumbuh kelak dapat menangkap fotosintesa matahari. Di tiap helai daun itu bermunculan nama kita sebagai sebuah keabadian. Andai matahari tak terbit lagi saat pagi merona, kita masih menyimpan sedikit cahaya di helai-helai daun yang berguncang dihembus angin sepanjang hari.

Sungguh, matahari tak terbit pagi ini. Bagai aku kehilangan dirimu yang berhari-hari menangkap cahaya hingga memekarkan kelopak bunga di jiwa. Percintaan ini penuh wangi dan warna. Penuh hijau daun dan kupu-kupu yang menyemai spora di mahkota bunga.

Begitulah saat kau berada jauh kembali ke garis hidupmu, aku begitu ternganga sebab cahaya tak ada. Memang, tak pernah matahari tak terbit memeluk bumi. Tapi, bagi kita, kala berada jauh, keadaan begitu gelap dan sunyi tiba-tiba. Kita merasa begitu kehilangan. Kita merasa ada yang terenggut tanpa sengaja. Serasa ada yang tercerabut dari akar yang semula menghunjam jauh di tanah.

Kita bagaikan orang tak punya pilihan saat berada di persimpangan tak bertanda. Syukurlah, kita tak pernah kehilangan arah tempat bertuju di perjalanan berikutnya. Hidup ini penuh gurindam dan bidal Melayu yang memagari ruang dan langkah kita menuju titik terjauh yang harus dilompati. Kata-kata yang berdesakan di bait puisi dan lirik lagu menebar wangi hari-hari.

takkan kutemui wanita seperti dirimu
takkan kudapatkan rasa cinta ini
kubayangkan bila engkau datang
kupeluk bahagia
kan daku
kuserahkan seluruh hidupku
menjadi penjaga hatiku

Suara Ari Lasso lewat Penjaga Hati itu mengalir pelan-pelan dari tembok-tembok kegelapan yang mengepungku. Benar kata emak dulu, kita akan tahu akan makna sesuatu ketika ia telah berlalu. Apalagi berada jauh yang tak tersentuh.

Matahari tak terbit pagi ini. Begitulah kita merasakan saat diri kita berada di kutub yang berjauhan. Diperlukan garis waktu untuk mempertemukan kedua tebing kutub itu. Atau, kita harus kuat merenangi laut salju yang kental atau menyelam di bawah bongkahan es yang dingin menyengat tubuh. Begitu diperlukan segala daya untuk menemukan sesuatu yang lenyap begitu cepat saat diri memerlukan setitik cahaya.

Apa perasaanmu kini? Kau telan kesendirian itu di kejauhan sambil berharap matahari akan bercahaya segera menerangi kisi-kisi hati yang tersaput luka rindu kita. Andai kita bisa menolak gumpal awan dan menyeruakkan matahari kembali, begitulah takdir yang hendak kita bentangkan di kitab sejarah sepanjang masa. Tapi, kita akan cepat lelah. Menyeruakkan awan untuk menyembulkan garang matahari bukanlah hal yang mudah. Kita butuh sejuta tangan dan cakar untuk menaklukkan segenap awan dan matahari itu.

Kau ingat kan, kisah Qays dan Laila atau Romeo dan Juliet yang memburaikan banyak kenangan bagi jutaan orang. Kau pun ada dalam bagian kisah yang tak pernah lekang di panas dan lapuk di hujan itu. Selalu ada manik-manik kasih mengalir di samudera kehidupan yang maha-luas ini. Meski kadangkala suaramu tersekat melempar tanya kala anugerah kasih ini terbit di ujung usia. Tak bolehkah kita mereguk kebahagiaan di sisa waktu yang masih tersedia meski semua jalan yang terbuka di depan bagai tak berujung jua. “Aku takut bila aku berubah. Tapi tak akan pernah, pangeranku,” ucapmu pelan.

Garis panjang waktu itu mendedahkan kemungkinan-kemungkinan yang sulit diraba. Banyak ancaman yang siap mengepung kita hingga merobek tabir setia. Ya, kesetiaan tak kasat-mata. Hanya ada di bilik hati. Ingin aku menjenguk bilik hatimu setiap saat, tapi tak bisa. Pintu hati itu tak setiap waktu bisa terbuka.

Andai kau bangun esok pagi, nankan selalu matahari akan terbit seperti janji yang diucapkannya pada semesta. Di helai cahaya matahari itu selalu ada kehangatan yang meresap di keping-keping jiwamu.