Tampilkan postingan dengan label Tan malaka. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Tan malaka. Tampilkan semua postingan

Jumat, 19 Juni 2009

Tan Malaka Dalam Misteri II

Tan Malaka (1897-1849)

GERILYAWAN REVOLUSIONER YANG LEGENDARIS

Tan Malaka –lengkapnya Ibrahim Datuk Tan Malaka—menurut keturunannya ia termasuk suku bangsa Minangkabau. Pada tanggal 2 Juni 1897 di desa Pandan Gadang –Sumatra Barat—Tan Malaka dilahirkan. Ia termasuk salah seorang tokoh bangsa yang sangat luar biasa, bahkan dapat dikatakan sejajar dengan tokoh-tokoh nasional yang membawa bangsa Indonesia sampai saat kemerdekaan seperti Soekarno, Hatta, Syahrir, Moh.Yamin dan lain-lain.

Pejuang yang militan, radikal dan revolusioner ini telah banyak melahirkan pemikiran-pemikiran yang orisinil, berbobot dan brilian hingga berperan besar dalam sejarah perjaungan kemerdekaan Indonesia. Dengan perjuangan yang gigih maka ia mendapat julukan tokoh revolusioner yang legendaris.

Pada tahun 1921 Tan Malaka telah terjun ke dalam gelanggang politik. Dengan semangat yang berkobar dari sebuah gubuk miskin, Tan Malaka banyak mengumpulkan pemuda-pemuda komunis. Pemuda cerdas ini banyak juga berdiskusi dengan Semaun (wakil ISDV) mengenai pergerakan revolusioner dalam pemerintahan Hindia Belanda. Selain itu juga merencanakan suatu pengorganisasian dalam bentuk pendidikan bagi anggota-anggota PKI dan SI (Syarekat Islam) untuk menyusun suatu sistem tentang kursus-kursus kader serta ajaran-ajaran komunis, gerakan-gerakan aksi komunis, keahlian berbicara, jurnalistik dan keahlian memimpin rakyat. Namun pemerintahan Belanda melarang pembentukan kursus-kursus semacam itu sehingga mengambil tindakan tegas bagi pesertanya.

Melihat hal itu Tan Malaka mempunyai niat untuk mendirikan sekolah-sekolah sebagai anak-anak anggota SI untuk penciptaan kader-kader baru. Juga dengan alasan pertama: memberi banyak jalan (kepada para murid) untuk mendapatkan mata pencaharian di dunia kapitalis (berhitung, menulis, membaca, ilmu bumi, bahasa Belanda, Melayu, Jawa dan lain-lain); kedua, memberikan kebebasan kepada murid untuk mengikuti kegemaran (hobby) mereka dalam bentuk perkumpulan-perkumpulan; ketiga, untuk memperbaiki nasib kaum kromo (lemah/miskin). Untuk mendirikan sekolah itu, ruang rapat SI Semarang diubah menjadi sekolah. Dan sekolah itu bertumbuh sangat cepat hingga sekolah itu semakin lama semakin besar.

Perjaungan Tan Malaka tidaklah hanya sebatas pada usaha mencerdaskan rakyat Indonesia pada saat itu, tapi juga pada gerakan-gerakan dalam melawan ketidakadilan seperti yang dilakukan para buruh terhadap pemerintahan Hindia Belanda lewat VSTP dan aksi-aksi pemogokan, disertai selebaran-selebaran sebagai alat propaganda yang ditujukan kepada rakyat agar rakyat dapat melihat adanya ketidakadilan yang diterima oleh kaum buruh.

Seperti dikatakan Tan Malaka pad apidatonya di depan para buruh “Semua gerakan buruh untuk mengeluarkan suatu pemogokan umum sebagai pernyataan simpati, apabila nanti menglami kegagalan maka pegawai yang akan diberhentikan akan didorongnya untuk berjuang dengan gigih dalam pergerakan revolusioner”.

Pergulatan Tan Malaka dengan partai komunis di dunia sangatlah jelas. Ia tidak hanya mempunyai hak untuk memberi usul-usul dan dan mengadakan kritik tetapi juga hak untuk mengucapkan vetonya atas aksi-aksi yang dilakukan partai komunis di daerah kerjanya. Tan Malaka juga harus mengadakan pengawasan supaya anggaran dasar, program dan taktik dari Komintern (Komunis Internasional) dan Profintern seperti yang telah ditentukan di kongres-kongres Moskow diikuti oleh kaum komunis dunia. Dengan demikian tanggung-jawabnya sebagai wakil Komintern lebih berat dari keanggotaannya di PKI.

Sebagai seorang pemimpin yang masih sangat muda ia meletakkan tanggung jawab yang saangat berat pada pundaknya. Tan Malaka dan sebagian kawan-kawannya memisahkan diri dan kemudian memutuskan hubungan dengan PKI, Sardjono-Alimin-Musso. Pemberontakan 1926 yang direkayasa dari Keputusan Prambanan yang berakibat bunuh diri bagi perjuangan nasional rakyat Indonesia melawan penjajah waktu itu. Pemberontakan 1926 hanya merupakan gejolak kerusuhan dan keributan kecil di beberapa daerah di Indonesia. Maka dengan mudah dalam waktu singkat pihak penjajah Belanda dapat mengakhirinya. Akibatnya ribuan pejuang politik ditangkap dan ditahan. Ada yang disiksa, ada yang dibunuh dan banyak yang dibuang ke Boven Digul Irian Jaya. Peristiwa ini dijadikan dalih oleh Belanda untuk menangkap, menahan dan membuang setiap orang yang melawan mereka, sekalipun bukan PKI. Maka perjaungan nasional mendapat pukulan yang sangat berat dan mengalami kemunduran besar serta lumpuh selama bertahun-tahun.

Tan Malaka yang berada di luar negeri pada waktu itu, berkumpul dengan beberapa temannya di Bangkok. Di ibukota Thailand itu, bersama Soebakat dan Djamaludddin Tamin, Juni 1927 Tan Malaka memproklamasikan berdirinya Partai Republik Indonesia (PARI). Dua tahun sebelumnya Tan Malaka telah menulis “Menuju Republik Indonesia”. Itu ditunjukkan kepada para pejuang intelektual di Indonesia dan di negeri Belanda. Terbitnya buku itu pertama kali di Kowloon, Cina, April 1925. Prof. Moh. Yamin sejarawan dan pakar hukum kenamaan kita, dalam karya tulisnya “Tan Malaka Bapak Republik Indonesia” memberi komentar: “Tak ubahnya daripada Jefferson Washington merancangkan Republik Amerika Serikat sebelum kemerdekaannya tercapai atau Rizal Bonifacio meramalkan Philippina sebelum revolusi Philippina pecah….”

Ciri khas gagasan Tan Malaka adalah: (1) Dibentuk dengan cara berpikir ilmiah berdasarkan ilmu bukti, (2) Bersifat Indonesia sentris, (3) Futuristik dan (4) Mandiri, konsekwen serta konsisten. Tan Malaka menuangkan gagasan-gagasannya ke dalam sekitar 27 buku, brosur dan ratusan artikel di berbagai surat kabar terbitan Hindia Belanda. Karya besarnya “MADILOG” mengajak dan memperkenalkan kepada bangsa Indonesia cara berpikir ilmiah bukan berpikir secara kaji atau hafalan, bukan secara “Text book thinking”, atau bukan dogmatis dan bukan doktriner.

Madilog merupakan istilah baru dalam cara berpikir, dengan menghubungkan ilmu bukti serta mengembangkan dengan jalan dan metode yang sesuai dengan akar dan urat kebudayaan Indonesia sebagai bagian dari kebudayaan dunia. Bukti adalah fakta dan fakta adalah lantainya ilmu bukti. Bagi filsafat, idealisme yang pokok dan pertama adalah budi (mind), kesatuan, pikiran dan penginderaan. Filsafat materialisme menganggap alam, benda dan realita nyata obyektif sekeliling sebagai yang ada, yang pokok dan yang pertama.

Bagi Madilog (Materialisme, Dialektika, Logika) yang pokok dan pertama adalah bukti, walau belum dapat diterangkan secara rasional dan logika tapi jika fakta sebagai landasan ilmu bukti itu ada secara konkrit, sekalipun ilmu pengetahuan secara rasional belum dapat menjelaskannya dan belum dapat menjawab apa, mengapa dan bagaimana.

Semua karya Tan Malaka danpermasalahannya dimulai dengan Indonesia. Konkritnya rakyat Indonesia, situasi dan kondisi nusantara serta kebudayaan, sejarah lalu diakhiri dengan bagaimana mengarahkan pemecahan masalahnya. Cara tradisi nyata bangsa Indonesia dengan latar belakang sejarahnya bukanlah cara berpikir yang “text book thinking” dan untuk mencapai Republik Indonesia sudah dicetuskan sejak tahun 1925 lewat “Naar de Republiek Indonesia”.

Jika kita membaca karya-karya Tan Malaka yang meliputi semua bidang kemasyarakatan, kenegaraan, politik, ekonomi, sosial, kebudayaan sampai kemiliteran (“Gerpolek”-Gerilya-Politik dan Ekonomi, 1948), maka akan kita temukan benang putih keilmiahan dan keIndonesiaan serta benang merah kemandirian, sikap konsekwen dan konsisten yang direnda jelas dalam gagasan-gagasan serta perjuangan implementasinya.

Peristiwa 3 Juli 1946 yang didahului dengan penangkapan dan penahanan Tan Malaka bersama pimpinan Persatuan Perjuangan, di dalam penjara tanpa pernah diadili selama dua setengah tahun. Setelah meletus pemberontakan FDR/PKI di Madiun, September 1948 dengan pimpinan Musso dan Amir Syarifuddin, Tan Malaka dikeluarkan begitu saja dari penjara akibat peristiwa itu.

Di luar, setelah mengevaluasi situasi yang amat parah bagi republik Indonesia akibat Perjanjian Linggarjati 1947 dan Renville 1948, yang merupakan buah dari hasil diplomasi Syahrir dan Perdana Menteri Amir Syarifuddin, Tan Malaka merintis pembentukan Partai MURBA, 7 November 1948 di Yogyakarta. Dan pada tahun 1949 tepatnya bulan Februari Tan Malaka gugur, hilang tak tentu rimbanya, mati tak tentu kuburnya di tengah-tengah perjuangan “Gerilya Pembela Proklamasi” di Pethok, Kediri, Jawa Timur.

Namun berdasarkan keputusan Presiden RI No. 53, yang ditandatangani Presiden Sukarno 28 Maret 1963 menetapkan bahwa Tan Malaka adalah seorang pahlawan kemerdekaan Nasional. (Bek)

BERGELAP-GELAPLAH DALAM TERANG, BERTERANG-TERANGLAH DALAM GELAP ! (TAN MALAKA)

Tan Malaka Dalam Misteri I

BEGITU banyak cerita tentang Tan Malaka—sang pacar merah Indonesia, tokoh yang suatu kali dielu-elukan sebagai ratu adil, dan di kali berikutnya dianggap sebagai orang yang paling ber­ba­haya oleh teman-temannya di era revolusi kemerdekaan Indo­nesia. Tetapi dari semua itu, un­tuk sementara, bagian yang pa­ling misterius adalah tentang ke­matiannya. Siapa yang membu­nuh Tan Malaka, karena apa, dan di mana kuburnya?

Dalam sebuah diskusi bertema ”Menguak Misteri Kematian Tan Malaka” yang digelar di Gedung Joang ’45, Menteng, Jakarta, ak­hir pekan lalu (13/1), sejarawan Harry A Poeze yang menulis se­jumlah buku tentang Tan Malaka mengatakan, dia tengah me­nyiap­­kan sebuah sequel yang ber­­cerita tentang saat-saat men­jelang eksekusi Tan Malaka.

Laki-laki berdarah Minang yang suatu kali di era 1920-an pernah ja­di guru di Medan dan punya na­ma asli Ibrahim itu, kata Poe­ze, dieksekusi di sekitar Kediri. Poeze yang juga peneliti Konin­klijk Instituut voor Taal Land en Volkenkunde (KITLV), Belanda, me­ngatakan bahwa dia menemu­kan tiga titik di Jawa Timur yang kemungkinan besar menjadi kuburan Tan Malaka.

Poeze yakin seyakin-yakin­nya—dia mengatakan keyakin­annya sebesar 99,99 persen—bahwa cerita tentang kematian Tan Malaka versinya yang akan terbit beberapa bulan lagi adalah benar. Menunggu sequel itu, Poeze hanya bersedia mem­bagi ini­sial pembunuh Tan Malaka: Su. Su yang mana?

Menjelang Ajal

Menjelang akhir Maret 1946, Tan Malaka ditangkap. Dia di­tu­duh berkomplot untuk menculik Perdana Menteri Sjahrir dan se­jumlah anggota kabinet. Be­berapa hari setelah penangkapan Tan Malaka, penculikan itu men­jadi kenyataan. Perdana Menteri Sjah­rir dan sejumlah anggota Ka­binet Sjahrir II diculik oleh—be­lakang­an setelah Sjahrir dibe­bas­kan diketahui adalah—Mayor Jen­deral Sudarsono, yang punya kai­tan dengan Persatuan Per­juangan.

Adalah Tan Malaka yang men­jadi motor pendiri Persatuan Per­juangan di Purwokerto awal ta­hun itu. PP dibentuk oleh 141 or­ganisasi, mulai dari partai politik seperti Masyumi dan PNI, sam­pai kesatuan-kesatuan laskar rak­yat. Mereka tak puas dengan di­plomasi Sjahrir yang mereka nilai terlalu lambat. Setelah membe­baskan Sjahrir, Soedarsono me­ngajukan sejumlah tuntutan ke­pada Presiden Sukarno. Antara la­in meminta agar Kabinet Sjah­rir II dibubarkan, dan Presiden Sukarno menyerahkan pimpin­an politik, sosial, dan ekonomi ke­pada Dewan Pimpinan Politik.

Permintaan itu tak dipenuhi. Seperti Tan Malaka, Soedarsono dan pengikutnya pun dijeb­los­kan ke penjara. Be­da­nya, Tan Ma­laka tak pernah diadili.

Dua tahun setelah mendekam di penjara, Tan Malaka dibebas­kan bulan September 1948. Me­nurut Poeze, Tan Malaka dibe­baskan kabinet Mohammad Hat­ta menyusul kepulangan Mu­so dari Moskow. Tan Malaka diper­caya dapat menjadi penyeim­bang, mengingat hubungan Tan Malaka dan Muso yang sama-sama kiri itu tidak begitu baik. Setelah Muso dan pemberonta­kan PKI di Madiun bulan Sep­tem­ber 1948 ditumpas tentara In­do­nesia, Tan Malaka mendirikan Partai Musyawarah Rakyat Ba­nyak (Murba). Tetapi ia tak me­mimpin partai itu. Tan Malaka me­milih bergerilya menghadapi Belanda di Kediri—tem­pat ter­ak­hir yang disinggahinya.

Merdeka Seratus Persen

Sejarawan Lembaga Ilmu Pen­getahuan Indonesia (LIPI) Aswi Warman Adam yang juga ber­bicara dalam diskusi di Gedung Joang itu meminta agar pemerin­tah merehabilitasi nama Tan Ma­laka. Gelar pahlawan kemer­de­kaan nasional yang diberikan Su­karno kepada Tan Malaka ta­hun 1963 silam memang tak pernah dicabut. Tetapi sejak Orde Baru berkuasa, nama Tan Malaka meng­hilang begitu saja dari buku sejarah.

Menurut hemat Aswi, ada baik­nya pemerintah membentuk tim khusus untuk mencari di mana kuburan Tan Malaka. Dengan uji forensik, hal ini tentu mudah. Setelah tulang belulangnya, atau apapun yang tertinggal dari diri­nya ditemukan, kuburan Tan Ma­laka dapat dipindah ke Taman Ma­kam Pahlawan Kalibata. Pun su­dah beberapa kali Aswi me­nyarankan agar nama Tan Mala­ka digunakan sebagai nama ban­dara internasional di Padang yang baru beroperasi sejak Juli 2005.

Sementara sejarawan Hilmar Farid yang juga berbicara dalam diskusi itu menilai, kalau pun ditemukan, biarlah Tan Malaka ber­baring abadi di tengah-tengah rakyat. Buat apa ke TMP Kali­ba­ta, toh tak semua peng­huninya ada­lah pahlawan sungguhan, kata dia.

Wartawan senior Rosihan An­war yang juga hadir berbagi ceri­ta. Dia hanya satu kali bertemu de­ngan Tan Malaka. Kala itu Feb­ruari 1946 di Gedung Sono Bu­doyo Solo. Sejumlah wartawan menggelar kongres yang mela­hir­kan Persatuan Wartawan Indone­sia (PWI). Tan Malaka hadir den­gan baju hitam-hitam dan topi helm hijau. Di podium dia berbicara tak kurang dari empat jam tentang materialisme, dialektika dan lo­gika (madilog) tanpa teks.

Lain lagi Adnan Buyung Nasu­tion. Dia juga punya cerita ten­tang Tan Malaka. Kata Bang Bu­yung, di tahun 1946, saat itu dia ba­ru berusia 12 tahun, Tan Mala­ka pernah ”bersembunyi” di rumah keluarga Nasution selama tiga bulan. Dia dan Tan Malaka berbagi kamar. Bang Buyung masih ingat salah satu ajaran mo­ral Tan Malaka: kalau seorang pe­rampok masuk ke dalam rumahmu, usir dia sekuat tenaga.

Mungkin secara sederhana, itu­lah merdeka seratus persen yang dipercaya Tan Malaka sampai maut menjemputnya. Tak ada ke­merdekaan bila masih ber­kompromi dengan penjajah.