Rabu, 08 April 2009

Pemusik Yang Sederhana dan Pejuang Revolusioner

Manu Chao adalah superstar dan pemusik terkenal, bukan saja di daratan eropa, tetapi juga di amerika latin, sebagian asia, dan afrika. Kehadirannya dalam dunia musik dipersamakan dengan legenda reggae asal Jamaika, Bob Marley. Kecuali itu, ia juga dianggap tokoh penting dalam mengubah kegiatan bermusik menjadi bagian dari gerakan anti globalisasi, persis seperti ketika Bob Dylan menjadi musik sebagai alat perdamaian dan persamaan hak-hak kaum sipil pada tahun 1960-an.


Manu Chao adalah selebriti terkenal, tapi rendah hati. Ia telah bermain di depan 100.000 di Zocalo, yang merupakan lapangan terbesar di Meksiko city. dia juga mendapat sanjungan 90.000 penonton di festival Coachella di Calfornia pada bulan april, dimana ia tampil setelah band Rage Againts The Machine. Dan di Glastonbury, ia benar-benar mengguncang penonton dengan lagu-lagunya; A Cosa, Clandestino, Tristeza Maleza, La primavera, radio bemba, dan lain-lain.

Album solonya yang pertama, clandestino (1998), yang dibuat pada sebuah studio kecil, ternyata terjual 2,5 juta di Perancis. Tahun 2001, ia kembali merilis album kedua, Esperanza, pada tahun 2001, dimana ia kembali mendapat pujian dan dukungan dari banyak penggemar. Manu Chao di ulas dihalaman depan wall-street journal pada saat itu.

Tiap hari, radio-radio kenamaan di eropa dibanjiri oleh request lagu-lagu Manu Chao. Pada tahun 2005, album radio bemba soundsystem mendapat penghargaan sebagai album terbaik pada tahun itu oleh Rollin Stone, MOJO, SPIN, Blender, National Public Radio dan sebagainya.

Kehidupan Politik

Dilahirkan di Spanyol, 21 juni 1961, dari seorang ayah Galisia dan ibunya yang Basque. Ketika masih kecil, manu (sapaan akrabnya) harus menyertai ayah dan ibunya yang pergi ke perancis untuk menghindari kediktatoran Fransisco Franco. Di perancis, Manu berkenalan dengan kemiskinan dan diskriminasi ekonomi, bersama dengan kaum imigran lainnya. Manu dibesarkan di pinggiran kota Paris, yaitu di Boulogne-Billancourt. Setiap sore, ia selalu bermain bola bersama anak-anak pekerja dari pabrik Renault.

Manu Chao bermain musik sambil berpolitik. Ia mengatakan; “musik adalah ekspresi, dan politik adalah bagian dari kehidupan saya”. “ayah dan ibu saya adalah seorang aktifis, dan sejak kecil saya mengetahui hal itu” ungkap Manu Chao. Kehidupan sebagai pelarian politik, membuat manu dan keluarganya harus berpindah-pindah dari kota yang satu ke kota yang lain.

Pada tahun 1980-an, pada saat masih bersama bandnya “manu negra”, ia dianjurkan melakukan tur ke Amerika Serikat. Tetapi, bukannya berlayar ke Amerika Serikat, malah berlayar ke Amerika Selatan dan bermain musik pada setiap pelabuhan yang dijumpainya. Pada tahun 1993, Manu Negra kembali ke Amerika latin. Di sana, manu negra membeli sebuah kereta tua dan berkeliling Kolombia, dimana ia berjumpa dengan gerilyawan bersenjata, petani, dan penjual obat. Pengalaman itu benar-benar mempengaruhi kesadaran politiknya. Ia makin politis dan membenci neokolonialisme.

Pada bulan maret 2006, Manu Chao tampil memukau membakar semangat anti-imperialisme rakyat Kuba, ketika ia tampil pada konser tunggal di Plaza Jose’ Marti, Havana, Kuba. Ia memulai lagunya dengan orasi pembuka; “gelorakan revolusi kuba, death yankee!”. Ia juga menyatakan solidaritas dan dukungannya kepada rakyat Kuba dan presiden Fidel Castro, yang telah dengan gagah berani menghadapi blockade imperialisme AS. Setelah itu, ia melanjutkan tour Amerika Latinnya ke Caracas, Venezuela, dimana ia bertemu dan belajar proses revolusioner dari tangan pertama, Hugo Chavez. Dia juga melanjutkan tournya Ke Bolivia, dimana Evo Morales telah menunggunya.

Dalam sebuah wawancara yang termuat di Radiochango, Manu jelas menghargai politik Chaves yang berani memutus hubungan dengan AS, bahkan melawannya. Dia sangat menyimak detik-detik kudeta terhadap Chaves, dan actor utama dari kudeta adalah AS. Terhadap gerakan ETA, meskipun orang ibunya adalah seorang Basque, ia tidak terlalu mendukung ide-ide negara berdiri sendiri, tetapi jelas ia mengutuk kekerasan dan penindasan di sana.

Manu Chao sangat kagum pada EZLN (Zapatista), karena meskipun gerakannya adalah bersenjata, tetapi lebih mendahulukan jalan damai. Dalam sebuah perjalanan ke pedalaman Chiapas, Manu Chao bernyanyi ditengah-tengah orang yang sedang memanggul senjata. Terhadap hal itu, ia mengatakan; “Anda tidak bisa melawan teror dengan teror, atau kekerasan dengan kekerasan. Kekerasan hanya bisa dilawan dengan menyediakan pendidikan, pangan, dan saling pengertian yang baik.”

Manu Chao bukan hanya mengeritik kapitalisme melalui lirik lagunya. Manu chao bergabung dalam demonstrasi di Genoa dan Barcelona. Dalam demonstrasi genoa, manu bergabung dengan 300.000 orang penentang kapitalisme. Bahkan, ia menyaksikan dengan mata sendiri bagaimana polisi melancarkan kekerasan terhadap para demonstran. Dia juga bernyanyi dalam pertemuan para aktifis di Forum Sosial Dunia(WSF), di Porto Allegre, dimana ia mengeritik bush dengan sangat pedas.

Banyak di antara lagunya bercerita tentang realitas penindasan. Rainin' in Paradise (Hujan di Nirwana), misalnya, mengkritik tajam pemerintah Amerika Serikat atas berbagai tragedi yang terjadi di Zaire, Kongo, Irak, Palestina, sampai di Kolombia. Demikian halnya lagu Clandestino (Bawah Tanah), La Primavera (Musim Semi), dan Politik Kills (Politik yang Membunuh), menggambarkan sikap politiknya.

Kesederhanaan

Meski masuk dalam deret selebriti dunia, manu chao tetap merendah. Bahkan, ia menolak musiknya diberi label “musik dunia” oleh BBC. Baginya, itu merupakan salah satu strategi neo-kolonialisme Inggris dan AS untuk menandai musisi dari luar dunia berbahasa inggris.

Dibalik kesederhanaanya, terutama bagi penggemarnya, nama Manu Chao terus melejit. Selain bermain musik diatas panggung dan studio, Manu dapat bermain musik dimana saja, kapan saja, dan dengan peralatan seadanya. Kadang ia bermain musik di kafe, di jalanan, di toko, di jalanan, di rumah-rumah warga, bahkan di perkampungan orang-orang miskin.

Mengenai pembajakan, yang paling ditentang keras oleh pemusik professional dan papan atas, manu malah tidak mempersoalkannya. Malah, lagu-lagunya dalam bentuk audio dan video disebar di internet dan dapat dicopy secara bebas. Ia juga tidak mempermasalahkan lagu-lagunya digandakan orang, tanpa perlu menyetorkan sejumlah uang. Manu lebih senang lagunya dinikmati orang, dihargai, dan jadi inspirasi, ketimbang tersimpan dalam studio, industry-industri musik, dan pusat-pusat penjualan kaset.

Dalam hal penjualan CD-CD-nya, manu berjuang keras agar tidak dikendalikan pasar. Anda dapat mengontrol label, tetapi tidak pada masalah distribusi. Manu berjuang keras agar CD nya dijual murah dan melalui proses sirkulasi yang alami. “kami menurunkan harga CD hingga 500 pesetas (mata uang spanyol)”; kata manu. Kami tidak mementingkan royalti, tetapi seluruh rakyat dapat membeli, itu yang terpenting.

The Clash dan Bob Marley sangat mempengaruhinya. Keduanya adalah pemusik dan juga aktifis politik yang radikal. Ia mengakui pengaruh The Clash pada albumnya, Bongo Bong. Sedangkan untuk penghargaannya kepada Bob Marley, ia menuliskan sebuah lagu berjudul “Mr. Bobby”.

Ia benar-benar mengagumi Diego Armando Maradona, pelatih tim nasional Argentina. Ketika itu, manu muda sempat membuat lagu berjudul “santa maradona”, ketika maradona muda menjadi pahlawan argentina dengan gol tangan tuhannya. Sekarang, dalam album La radiolina, ia mempersembahkan lagu “La Vida Tombola”, khusus untuk penghargaan kepada legenda sepak bola dunia tersebut. Seperti diketahui, Maradona bersama Chaves memimpin aksi puluhan ribu orang menentang FTAA dan kedatangan Bush ke Argentina, pada tahun 2003.

Lagu-lagu Manu juga menggambarkan budaya sehari-hari kaum yang terpinggirkan. Seperti pada hits Minha Galera (Orang-orangku) yang berirama pelan, Manu Chao angkat cerita tentang kerinduan pada kampung halaman, pada kawan-kawan penggemar sepak bola, pada musik daerah, gubuk-gubuk, tarian capoera, pada minuman khas daerah, dan pada asap marijuana. Dalam lagu yang lain, ia tuturkan ketertindasan dan harapan masa depan para pelacur. Lagu berjudul Me Llaman Calle (Aku Dipanggil Jalanan) ini diilhami kehidupan perempuan penghibur di sekitar kafe tongkrongannya, di Barcelona.

Ketika tampil di Brocklyn, dihadapan puluhan ribu penonton, Manu berkali-kali mengulang kata “Corazon”, yang berarti hati, dan meletakkan mikrofon di dadanya. Ia kemudian berkata; sebentar lagi sebuah badai akan datang. Dan tiba-tiba, benar saja, sebuah petir menyambar dan sejumlah peralatan panggung. Manu lantas bernyani Proxima estacion Esperanza'; “ hujan berfungsi sebagai perwujudan harapan, yaitu harapan pada politik negeri yang lebih bermartabat, hari depan yang lebih baik, dan hari depan dimana musik bukan lagi sekadar barang dagangan”.

Politik Kills (Politik Yang Membunuh)

Berbicara mengenai pandangan politik, manu mengatakan; sebelum berbicara mengenai aktifisme, maka setiap orang di dunia ini bertindak atas nama kejujuran, sehingga mereka dapat melangkah dengan baik. Itu juga kupelajari dari kakekku. Akan tetapi, kejujuran tidak dapat membawa anda lebih jauh, karena problem kehidupan cukup banyak dan beragam. Jadi kejujuran saja tidak cukup, anda harus berbuat lebih banyak.

Politik kills adalah lagu yang dibuat untuk melawan politik kebohongan dan pembodohan. Ia jelas menentang politik uang. Menurutnya, masalah terbesar dalam politik adalah uang. Kekuatan ekonomi lebih berkuasa dibandingkan politik itu sendiri. ini bukan demokrasi. Demokrasi telah dikendalikan oleh media.

Di Italia, Berlusconi memenangkan pemilihan presiden karena ia mengendalikan media terbesar. Demikian pula di Perancis, dimana Sarkozy memiliki tipe yang sama dengan Berlusconi. Manu menganggap mereka menang karena politik uang, politik kebohongan, dan pembodohan.

“akhirnya, makin orang yang tidak percaya dengan demokrasi, dan itu sangat berbahaya. Saya adalah seorang demokrat” ungkap Manu. Kita harus bertindak seminimal apapun, terutama untuk menggeser politisi yang dibesarkan oleh uang dan televisi. “ saya akan bersuara dengan mikrofon di tangan saya” demikian manu menjelaskan.

“anda tidak tidak dapat mengubah dunia. Saya pun tidak bisa mengubah dunia sendirian. Saya mungkin tidak dapat mengubah sebuah negara, tetapi saya dapat mengubah sebuah lingkungan kecil. Saya mencoba. Dan saya rasa, itu merupakan tanggung jawab semua orang. Saya tidak yakin sebuah revolusi besar akan datang dan mengubah segalanya seketika. Tetapi, saya percaya bahwa revolusi-revolusi kecil dapat mengubah segalanya dengan perlahan-lahan, setidaknya dilingkungan kita”.

Senin, 06 April 2009

VISI 2030; Mungkinkah Mimpi Jadi Kenyataan?!

VISI 2030; Mungkinkah Mimpi Jadi Kenyataan?!

posisi.jpg Realitas Ketidakmampuan SBY-JK Bermimpi menjadi orang besar tentu hak semua orang. Tidak memandang siapapun dia, termasuk di sini tentu saja mimpi sebuah bangsa. Setiap negara bisa membuat road map pembangunan bangsanya untuk mengejar cita-cita menjadi negara maju.
Toh, dulu Soekarno pernah menganjurkan kita untuk bermimpi setinggi-tingginya karena itu bukan sesuatu yang mustahil untuk didapatkan. Persoalannya sekarang adalah seberapa realistis mimpi-mimpi itu bisa kita wujudkan; seberapa besar syarat-syarat yang kita ciptakan untuk mewujudkan cita-cita tersebut. Mimpi akan menjadi kenyataan hanya jika kita mampu menyiapkan syarat-syarat materialnya dan mimpi hanya akan menjadi kosong jika sama sekali kita tidak memiliki basis materialnya. Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dan Wakil Presiden Jusuf Kalla menghadiri acara peluncuran buku Kerangka Dasar Visi Indonesia 2030 di Istana Negara, Kamis (22/3) siang. Buku ini hasil pemikiran Yayasan Indonesia Forum (kompas/22/3/2007). Visi Indonesia 2030 tersebut ditopang oleh empat pencapaian utama, yaitu pengelolaan kekayaan alam yang berkelanjutan, mendorong Indonesia supaya masuk dalam 5 besar kekuatan ekonomi dunia dengan pendapatan perkapita sebesar 18 ribu dolar AS/tahun, perwujudan kualitas hidup modern yang merata, serta mengantarkan sedikitnya 30 perusahaan Indonesia dalam daftar Fortune 500 Companies. Untuk mencapai misi tersebut, menurut Yayasan Indonesia Forum, mensyaratkan beberapa hal, pertama, ekonomi berbasiskan keseimbangan pasar terbuka dengan dukungan birokrasi yang efektif. Kedua, adanya pembangunan sumber daya alam, manusia, modal, serta teknologi yang berkualitas dan berkelanjutan. Ketiga, perekonomian yang terintegrasi dengan kawasan sekitar dan global. Visi Indonesia 2030 mengasumsikan pencapaian itu terealisasi jika pertumbuhan ekonomi riil rata-rata 7,62 persen, laju inflasi 4,95 persen, dan pertumbuhan penduduk rata-rata 1,12 persen per tahun. Pada 2030, dengan jumlah penduduk sebesar 285 juta jiwa, produk domestik bruto (PDB) Indonesia mencapai 5,1 triliun dollar AS. Untuk mencapai visi itu, menurut Chairul, harus ada sinergi tiga kelompok, yaitu wirausaha, birokrasi, dan pekerja pula. “Sinergi ini mengarah pada peningkatan daya saing global perekonomian Indonesia,” ujarnya. “Saya punya keyakinan, 100 tahun ke depan kita bisa mewujudkan cita-cita dan tujuan dalam Pembukaan UUD 1945. Mengapa kita perlu yakin? Kalau lihat lintasan perjalanan sejarah kita, itu memungkinkan. Jika kita ingin merekonstruksikan masa depan kita 100 tahun ke depan, mari kita lihat perjalanan bangsa 100 tahun ke belakang. Dengan demikian, kita paham perjalanan panjang sejarah untuk memiliki kemampuan dan ketangguhan dalam mewujudkan cita-cita,” ujar Presiden Susilo Bambang Yudhoyono,(kompas/22/3). Menurut Presiden Yudhoyono, Visi Indonesia 2030 itu bisa saja dianggap sebuah mimpi, tetapi jangan malu dengan mimpi itu. “Sebab, bangsa yang besar adalah bangsa yang mampu menciptakan mimpi dan mewujudkannya dalam realitas,” ujar Presiden. Tapi pernyataan presiden SBY sangat absurd karena realitas ekonomi yang bisa dijadikan platform melihat Indonesia ke depan justru sangat memprihatinkan. Realitas yang tidak pernah digambarkan SBY adalah: (1) tanggal 11 September 2006 lalu, Program Pembangunan Perserikatan Bangsa-Bangsa meluncurkan Laporan Tahunan Pembangunan Manusia (Human Development Report) 2006 yang bertajuk Beyond Scarcity: Power, Poverty, and the Global Water Crisis. Laporan itu selalu menjadi rujukan perencanaan pembangunan dan menjadi salah satu indikator kegagalan atau keberhasilan sebuah negara menyejahterakan rakyatnya. Selama satu dekade, Indonesia berada pada tier medium human development peringkat ke-110, terburuk di Asia Tenggara setelah Kamboja. Posisi Indonesia anjlok. Kemerosotan kualitas hidup manusia Indonesia juga ditunjukkan dalam laporan regional pencapaian Millennium Development Goal Asia Pacific yang diluncurkan 16 Oktober 2006 oleh ADB-UNDP-UNESCAP. Dalam laporan berjudul The Millennium Development Goal, Progress Report in Asia and the Pacific 2006, Indonesia ditempatkan pada peringkat terburuk negara-negara yang terancam gagal mencapai target MDGs tahun 2015 bersama Banglades, Laos, Mongolia, Myanmar, Pakistan, Papua Niugini, dan Filipina. Bank Dunia secara resmi meluncurkan hasil studi tentang kemiskinan di Indonesia (Kompas, 11 Desember 2006). Studi itu menghasilkan estimasi jumlah orang miskin hampir 109 juta (49 persen) dari total penduduk Indonesia. Sungguh sebuah kebohongan besar diungkapkan pemerintahan SBY-JK jika indonesia bisa merangkak menuju jajaran 5 negara maju di di dunia dengan basis material problem kemiskinan, turunnya Indeks Pembangunan Manusia (HDI), dan kegagalan ekonomi. (2) untuk mencapai Visi Indonesia 2030, Industrialisasi Nasional sebagai motor penggeraknya, alat untuk mencapai cita-cita tersebut justru mengalami kehancuran (deindutrialisasi). Bahkan dengan orientasi kebijakan liberalisasi pasar, pemerintah tunduk pada dominasi ekonomi-politik yang justru menghancurkan industri nasional. Kebijakan menaikkan harga BBM akhir tahun 2005 telah memukul industri dalam negeri. BUMN yang mestinya diperkuat dengan manajemen yang baik dan modal justru diobral satu-per satu ke tangan imperialis. Salah satu Point penting dari Letter Of Intent (LoI) yang ditandatangani rejim Habibie tahun 1998 adalah liberalisasi ekspor yang berakibat pemenuhan energi dan bahan baku industri semakin sulit. Bila pun sanggup dipenuhi, harus diperoleh dengan harga tinggi sehingga biaya produksi melonjak. Masalah ini, misalnya, tampak pada industri kayu, keramik, pupuk, dll. Dalam hal sumber energi, sebagian besar hasil eksploitasi sumber energi seperti minyak, gas, dan batubara dijual ke luar negeri. Industri nasional juga menghadapi persoalan liberalisasi impor yang berdampak pada kalahnya produk dalam negeri dibanding produk impor yang lebih murah dan berkualitas. Persoalan lainnya adalah liberalisasi investasi yang mengakibatkan modal dapat berpindah dalam waktu singkat tanpa memperhatikan kebutuhan pembangunan jangka panjang. (3) Indonesia terus-menerus dihambat oleh imperialisme. Sangat susah berharap kemajuan tenaga-tenaga produktif kita jika SBY-JK masih patuh dengan resep-resep neoliberal negara-negara imperialis dan kaki tangannya (IMF, WTO, Bank Dunia dan lain-lain). Sebagian besar APBN kita digunakan untuk membayar utang luar negeri yang notabene utang najis, dan jika kita kita terus menerus membayar surat obligasi para bangkir-bangkir - konglomerat hitam akan berakibat anggaran untuk mendorong program Industrialisasi nasional, untuk pendidikan dan kesehatan rakyat, dan program pokok lainnya untuk meningkatkan kesejahteraan Rakyat menjadi sangat sedikit. Dalam sebuah laporan disebutkan bahwa hanya 4 % angkatan kerja kita yang berpendidikan sarjana, sisanya 95% lebih berpendidikan lulusan SMA ke bawah, bagaimana mungkin bisa menyejajarkan diri dengan negara-industri maju jika SDM kita tidak pernah di bangun dan diprioritaskan pemerintah? Malah pendidikan sekarang dikomersialisasi layaknya barang dagangan untuk kepentingan imperialis. Bagaimana mungkin SBY-JK sanggup mendorong perkembangan tenaga produktif nasional dengan anggaran yang cukup jika anggaran tersebut masih terus-menerus digerogoti oleh Korupsi, bahkan komitmen pemberantasan korupsi SBY-JK sendiri patut dipertanyakan? Soeharto, Koruptor kakap beserta kroninya sampai hari ini belum diadili dan disita hartanya. Birokrasi yang memperkuat pemerintahan SBY-JK hingga ke daerah masih dikuasai mentalitas birokrasi orde baru: Doyan Kolusi-Korupsi-Nepotisme. Karena itu mustahil mencapai Visi indonesia 2030 dengan sumber daya birokrasi seperti ini. (4) Demokrasi sebagai prasyarat pokok untuk memberi ruang partisipasi bagi rakyat untuk menentukan kebijakan yang berpihak dan menguntungkan justru oleh pemerintahan SBY-JK dimanipulasi dengan demokrasi formal- Demokrasi Palsu. Mekanisme pemilu justru menghambat kekuatan politik alternatif dengan sejumlah model pembatasan/perampingan partai politik terutama partai politik Rakyat miskin. Upaya untuk menghambat partisipasi demokrasi rakyat bisa dilihat dalam RUU Parpol atau bentuk serangan langsung seperti penyeranan terhadap aksi PAPERNAS (sebuah Parpol baru yang mengusung program-program alternatif). Demokrasi akan menciptakan syarat-syarat-syarat politik bagi rakyat untuk menemukan kesadarannya, dan dari sini rakyat bisa mengorganisasikan diri untuk mendorong pembangunan nasional. SBY-JK Tidak Bisa!Tapi Rakyat Berkuasa Bisa Melakukannya Indonesia adalah negara yang memiliki kekayaan alam yang melimpah (sumber mineral, Batubara, energi seperti Minyak Bumi dan Gas Alam), Tanah yang subur untuk pertanian, sumber daya perairan, kekayaan hayati laut, dan Lain sebagainya. Jika dikelola dengan baik berdasarkan prinsip berdaulat dan kerjasama yang setara dengan bangsa-bangsa lain, bisa diperkirakan begitu besar pendapat dan keuntungan yang kita peroleh. Selain sumber daya alam, kita juga memiliki sumber daya manusia yang besar dengan jumlah penduduk lebih dari 200 juta orang ( Jumlah Angkatan kerja yang besar dan potensial) namun selama ini justru di abaikan dan dikerdilkan oleh rejim SBY-JK lewat Kebijakan Labour Market Flexibility (Sistem Kontrak dan Outsorcing). Bagi kami, jalan menuju visi 2030 yang ditawarkan pemerintahan SBY-JK sangat mustahil tetapi masih ada jalan lain yang sungguh sangat bisa dilakukan yakni hanya dengan dukungan rakyat sepenuhnya. Jalan ini adalah jalan alternatif—Jalan yang tidak mungkin di lakukan SBY-JK. Untuk menuju Jalan ini Rakyat harus membangun kekuatan alternatifnya karena syaratnya harus ada kemandirian dan kedaulatan ekonomi-politik. Jalan itu adalah: (1). Negara harus menjalankan program industrialisasi nasional; dengan memperkuat, melindungi industri nasional dari gempuran neoliberalisme. Negara harus menjamin ketersediaan Energi yang cukup untuk semua jenis industri, perusahaan penghasil energi (minyak, gas, dan batu bara) harus diambil-alih kepemilikannya ke tangan negara untuk memastikan tercukupinya kebutuhan energi dalam negeri. Sebaliknya, kerja sama energi dengan negeri-negeri seperti Venezuela, Libya dan Iran perlu ditingkatkan. (2). Menghentikan Kebijakan Privatisasi BUMN. BUMN harus diperkuat manajemennya, dan difasilitasi oleh negara untuk menjadi tulang punggung industri nasional yang kuat dan kompetitif. Semua unsur-unsur Orde Baru yang tidak demokratik harus diganti dan semua kasus korupsinya diungkap dan diadili. (3) Negara menjamin tersedianya pasar bagi industri yang masih membutuhkan proteksi dengan pengenaan pajak atau cukai yang tinggi terhadap komoditi sejenis, yang diimpor dari luar negeri. Untuk jenis komoditi tertentu, perlu disediakan jalur distribusi yang dapat diakses oleh masyarakat luas dengan harga yang disubsidi. (4) Tersedianya sumber daya manusia yang berkualitas. Dalam konteks ini, pendidikan dan kesehatan harus digratiskan. Pendidikan harus layak dan berkualitas, dan merata di seluruh Indonesia. Akses Kesehatan harus diprioritaskan pada klinik –klinik kesehatan di setiap RT/RW dengan fasilitas kesehatan yang modern, untuk tahap awal bisa melakukan kerjasama dengan Kuba dan Venezuela. (5) Memajukan tenaga produktif pertanian dengan cara: a) mengalokasikan kredit yang memadai dengan jaminan oleh pemerintah dan bunga rendah kepada petani melalui bank pertanian; b) mobilisasi potensi seluruh lembaga riset pertanian untuk mengembangkan teknologi pertanian yang sesuai dengan karakter geografis dan sosial-budaya Indonesia. Pengembangan tersebut meliputi masalah pembibitan, mekanisasi proses tanam dan panen, pengairan, listrik, serta infrastruktur lainnya; c) mendorong terbangunnya contoh pertanian kolektif dengan pengolahan lahan bersama serta penerapan teknologi yang lebih maju. Penggarapan ini dilakukan secara demokratis dengan melibatkan petani dalam mengambil keputusan, baik saat proses produksi maupun pemasaran; d) mengembangkan industri pengolahan hasil pertanian dalam setiap batasan teritori tertentu sesuai dengan komoditi pertanian yang diproduksi. Perlu dijelaskan, program teknologisasi pertanian ini tidak akan menciptakan pengangguran baru, sebaliknya akan membuka lapangan kerja. Karena dari setiap pengembangan tenaga produktif akan membutuhkan tenaga-tenaga kerja baru. (6) Memberikan perhatian terhadap industri kecil dan menengah dengan sarana dan kemudahan akses terhadap kredit mikro, bahan baku produksi yang murah, serta jaminan ketersediaan pasar. Untuk Menjalankan Program di atas, kami sadar bahwa butuh dukungan modal yang sangat besar, maka Kita mengupayakan jalan pembiayaannya dari cara-cara sebagai berikut: (1) penghapusan Utang; Selama ini APBN banyak diprioritaskan untuk membayar utang luar negeri. (2) Mengambil Alih (Nasionalisasi) Industri Pertambangan Asing; (3) Menarik Surat Obligasi Rekapitalisasi perbankan yang justru dinikmati para bangkir, konglomerat hitam. (4) Menyita Harta Koruptor dengan prioritas kasus korupsi Soeharto dan Kroni-Kroninya. Jalan ini hanya mungkin dijalankan oleh Rakyat sendiri. Tidak mungkin dijalankan oleh pemerintahan SBY-JK yang notabene adalah boneka dari Imperialisme.***

Dominggus Oktavianus: Gairah Rakyat Untuk Bangkit Berpolitik adalah Jalan Meretas Perubahan.

Dominggus Oktavianus: Gairah Rakyat Untuk Bangkit Berpolitik adalah Jalan Meretas Perubahan.
Rabu, 01 April 2009

Rabu, 1 Maret 2009 | 14.30

dom.jpgBeberapa waktu yang lalu, redaksi berdikari online melakukan wawancara khusus dengan seorang caleg aktifis kerakyatan, Dominggus Oktavianus, yang maju dari dapil NTT I (Manggarai Barat, Manggarai, Manggarai Timur, Ngada, Nagakeo, Ende, Sikka, Flotim, Lembata, Alor). Wawancara ini dilakukan oleh kawan Ulfa Ilyas melalui telpon, dan memperbincangkan seputar persiapan dan kerja keras bung Dominggus dalam menyongsong pemilu 2009. Sekedar untuk diketahui, Bung Dominggus juga menjabat sebagai Ketua Umum Front Nasional Perjuangan Buruh Indonesia (FNPBI).

Berikut petikan wawancaranya:

Ulfa Ilyas (BO) :
Bagaimana perjalanan kampanye bung Dominggus? Apa ada hambatan?

Dominggus Oktavianus :

Hambatan yang bersifat politik, untuk sementara ini, sepertinya belum ada. Saya dan kawan-kawan masih terus melakukan perjalanan, melakukan dialog, berdiskusi dengan masyarakat yang pada umumnya adalah petani dan nelayan. Sejauh ini, hambatan yang muncul masih bersifat tekhnis, seperti transfortasi antar daerah. Akan tetapi, hambatan-hambatan ini terus kami terobos, terutama, karena dukungan kawan-kawan dan tim Sukarelawan Perjuangan Rakyat untuk Pembebasan Tanah Air (SPARTAN), yang berada di daratan Flores.


Ulfa Ilyas (BO):
Bagaimana respon masyarakat NTT dengan kehadiran caleg aktivis seperti anda?

Dominggus Okatvianus:

Respon dari rakyat NTT sangat positif. Bagi mereka, baru kali ini dalam kerangka politik di NTT ada caleg dan partai yang tidak lagi mengobral janji-janji, tetapi menawarkan suatu ajakan untuk berjuangan bersama untuk merubah situasi. Untuk pertama kalinya, rakyat kami terlibat dalam organisasi-organisasi perjuangan, dan menunjuk wakil-wakil mereka sendiri untuk bertarung dalam arena politik.

Sederhananya, rakyat lebih membutuhkan hal-hal yang konret, bukan janji-janji abstrak. Para caleg aktifis bukan saja mengajak rakyat berdiskusi, tetapi juga mengajari mereka tentang bagaimana melakukan perjuangan politik. selain itu, berkali-kali para caleg aktifis dan rakyat bahu-membahu dalam aksi-aksi merebut hak-hak rakyat, seperti pelayanan pendidikan dan kesehatan gratis, perbaikan jalan, listrik, dll. Jadi, caleg aktifis tidak datang membawa pil obat, tetapi juga mengajarkan cara menghindarkan penyakit dan bagaimana membuat obatnya.


Ulfa Ilyas (BO):
Seperti dietahui, NTT adalah daerah yang miskin, bahkan kemiskinan masyarakatnya sudah pada taraf yang paling bawah, Sehingga nyaris tidak menyisakan harapan. Bagaimana anda membangkitkan harapan rakyat untuk merubah situasi ini?

Dominggu Oktavianus :

Ajang pemilu ini, benar-benar kita mamfaatkan untuk bertemu dengan rakyat luas, mendengarkan persoalan mereka, dan mendiskusikan penyelesaian masalahnya. Dalam setiap diskusi-diskusi, kami membawa materi-materi dan leaflet tentang persoalan dominan yang dihadapi rakyat, serta memperlihatkan jalan untuk merubahnya.

Secara umum, 1,2 juta rakyat NTT bergantung pada pertanian, sedangkan 4 juta orang hidup di pesisir. Sektor pertanian terutama terkonsentrasi pada penghasil komoditi mente, kakao, kemiri, dan lain-lain. Masalah utama mereka adalah harga atas komoditi mereka, yang selama ini tidak dapat memberikan nilai tambah kepada petani. Sementara tanaman pangan belum begitu banyak dibudidayakan. Guna mengangkat kesejahteraan petani, maka kami mengajukan program pengembangan budidaya tanaman pangan yang disubsidi oleh pemerintah. Ini juga membutuhkan dukungan modal dan teknologi. Selain itu, pemerintah harus aktif dalam menciptakan pasar dan menstabilkan harga komoditi pertanian. Industri pengolahan juga perlu dibangun, disamping untuk menampung tenaga kerja, juga dimaksudkan untuk memberikan nilai tambah pada harga jual produk pertanian.

Di NTT, setiap tahun juga rakyat kesulitan mengakses air (air untuk pertanian, industri, dan air bersih). Sehingga, diperlukan sebuah pembangunan infrastruktur pengairan yang dapat mengairi seluruh wilayah NTT, bukan cuma hotel-hotel mewah.

Pembangunan infrastrktur juga meliputi pembangunan jalan raya, pelabuhan, listrik, sekolah, pusat pelayanan kesehatan, dan lain-lain. Ini memang membutuhkan anggaran yang besar. Tetapi, menurut saya, potensi kekayaan alam NTT berupa kekayaan tambang, kelautan, pertanian, jika dikelola dengan prinsip kemandirian, bisa menghadirkan mobilisasi anggaran untuk mendanai proses pembangunan itu.

Selain itu, kita juga mengkampanyekan program-program nasional, seperti masalah pengambil alihan perusahaan tambang asing, penghapusan utang luar negeri, dan industrialisasi nasional. kita menjelaskan perlunya memperjuangkan kemandirian bangsa.

Ulfa Ilyas (BO):
seperti diketahui, masalah kemiskinan selau di manipulasi partai besar untuk meraup dukungan rakyat. selain itu, karena kemiskinan partai politik dan caleg berduit begitu gampang membeli suara rakyat. Bagaimana anda berjuang meyakinkan rakyat NTT untuk melawan politik semacam ini.

Dominggus Oktavianus :

Ini merupakan problem besar. Dalam era demokrasi liberal, para elit yang berkontribusi pada pemiskinan rakyat, ternyata mempergunakan jalur demokrasi untuk mengeksploitasi kemiskinan, tentunya guna mendapatkan dukungan luas. Di satu sisi, ini merupakan efek dari penerapan demokrasi liberal dan disokong media, sedangkan pada sisi lain, control rakyat terhadap janji-janji politik parpol cukup lemah.

Dalam setiap diskusi, kita menyampaikan kepada rakyat agar melihat rekam jejak atau"pengalaman masa lalu" si caleg atau parpol. Jika masa lalunya buruk dan menindas rakyat, meskipun berjanji mau membela rakyat, maka seharusnya tidak perlu dipercayai lagi. Ini hanya merupakan salah satu cara politisi dan parpol lama untuk mengambil "hati" masyarakat.

Kemudian, ada sebuah situasi dimana rakyat sudah terlalu sering dibohongi dan dikhianati oleh politisi dan parpol. Hal ini, tentunya, mendorong mereka untuk selektif dalam memilih partai politik. Hanya saja, kadang-kadang, kemiskinan memaksa mereka bertindak pragmatis. Sehingga, mereka begitu mudah dibeli suaranya oleh partai dan caleg tertentu.

Dalam setiap diskusi, kita menjernihkan pemahaman rakyat untuk tidak mudah terseret pada janji-janji palsu, dan tidak mudah terseret melawan politik uang. Kita menyebarkan selebaran dan aktif mendiskusikan mengenai perlunya melawan politik uang. Di NTT, misalnya, ada kecenderungan masyarakat di daerah yang kami lewati untuk bertindak kritis. Mereka pada umumnya sudah mengerti sepak terjang caleg dan partai pelaku politik uang. Mereka juga kami dorong untuk aktif mengkritisi janji-janji para caleg dan parpol, serta menciptakan wadah politik untuk menagih janji itu. Bagi saya, yang terpenting adalah bagaimana membangun dan memperluas wadah-wadah perjuangan rakyat, tentunya yang bersifat permanen.



Ulfa Ilyas (BO):
Apa prioritas kampanye dan program bung dominggu untuk rakyat NTT?

Dominggus Oktavianus :

Untuk program prioritas, kami menyusunnya berdasarkan apa yang menjadi kebutuhan paling pokok dan mendesak rakyat NTT. Ini penting untuk membentengi rakyat dari kemiskinan, supaya tidak makin terperosok lagi. Tetapi, yang terpenting adalah menciptakan dasar (basis) bagi kemajuan rakyat NTT di masa depan.

Di bidang pertanian, kami memfokuskan pada penyediaan modal, teknologi, serta jaminan pasar dan harga yang layak bagi komoditi produk pertanian. Tanah sebagai sarana berproduksi juga harus diberikan kepada rakyat. tentunya, negara harus aktif memproteksi lahan petani dari keserakahan perusahaan multinasional. Bagi nelayan, harus ada bantuan teknologi dan permodalan, supaya mereka bisa menaikkan produktifitas. Selain itu, industri pengolahan hasil pertanian, kelautan, dan perikanan perlu dikembangkan. Disamping dapat memberi nilai tambah pada komoditi dan produk petani dan nelayan, juga bisa memberikan pemasukan bagi anggaran pembangunan (APBD).

Di samping itu, pengembangan SDM menjadi kebutuhan pokok di NTT. APBD harus dikelola untuk membiayai pendidikan dan kesehatan. Fasilitas pendidikan; gedung, perpustakaan, bus sekolah, sarana olahraga, buku-buku, dan nutrisi harus diperbanyak, dan harus dapat diakses oleh seluruh kalangan masyarakat NTT. Demikian pula dengan sarana kesehatan; jumlah tenaga paramedis harus ditambah, pusat pelayanan kesehatan harus diperbanyak, dan kualitas pelayanannya juga harus ditingkatkan.

Terakhir, harus ada pembangunan infrastruktur, seperti jalan, listrik, sarana irigasi, dan lain-lain. Sementara ini, pembangunan di NTT berjalan lambat karena tidak ditopang oleh infrastruktur yang baik. Sebagai contoh jalan, banyak desa dan kampung belum terhubung dengan baik karena tidak adanya infrastruktur jalan yang memadai.

Guna menjalankan ini semua, harus ada seorang sosok pemimpin atau perwakilan rakyat NTT di parlemen dan eksekutif, yang benar-benar punya komitmen politik untuk menjalankan hal ini.


Ulfa Ilyas (BO):
Bagaimana bung Dominggus melihat peluang hadirnya perubahan di bumi NTT?

Dominggus Oktavianus :

Saya sedang melihat gairah rakyat untuk bangkit. Dan bagi saya, gairah kebangkitan ini adalah jalan terang bagi lahirnya perubahan. Sebelum kami datang, ada begitu banyak kantong-kantong massa yang hendak bersikap golput dalam pemilu. Tetapi, setelah kami datang dan menjelaskan, mereka kini menjadi bagian dari gerakan perubahan ini. mereka begitu aktif mengorganisir sesame rakyat. hasilnya, berdirinya sejumlah wadah-wadah dan organisasi perjuangan rakyat.

Jadi, menurut saya, kebangkitan dan daya kritis rakyat pada saat ini adalah bunga-bunga perubahan yang sedang bersiap tumbuh dan mekar. Dan pada saat itu, NTT dan bangsa Indonesia bisa menyongsong perubahan untuk masa depan yang lebih baik.