Rabu, 03 Februari 2010

Kenapa harus takut dengan kerbau? Tanya kenapa???

Hari-hari belakangan ini binatang kerbau yang biasanya hanya berkubang lumpur di sawah tiba-tiba naik kasta, dibicarakan oleh presiden, dijadikan bahan perdebatan di televisi, jadi bahan tulisan di kompasiana. Semua berawal ketika pada demo 28 Januari lalu turut berdemo kerbau Si Bu Ya (plesetan dari Es Be Ye?) yang menyeruak di antara kerumunan pendemo. Kerbau Si Bu Ya langsung menyedot perhatian karena di bagian pantatnya ditempeli dengan foto SBY selain tulisan Si Bu Ya besar-besar di badannya.

Alkisah Presiden SBY tersinggung berat karena merasa disamakan dengan kerbau yang badannya gemuk. bodoh dan pemalas. Saya tak mau turut dalam gonjang ganjing soal kerbau itu, saya justru kasihan dengan binatang bertanduk itu. Bayangkan saja sudah populasinya tergusur oleh populasi traktor yang tak terkendali, sekarang dijadikan symbol kebodohan dan kemalasan. Siapa bilang kerbau bodoh dan malas? Secara turun temurun kerbau menjadi sahabat petani, menjadi pembajak sawah yang tak kenal lelah,pintar dan bertenaga besar dan tidak banyak ulah.

Dengan kepintarannya kerbau bisa mengerti aba-aba dari petani, kapan harus jalan, kapan harus belok, kapan harus berhenti. Kerbau juga bukanlah binatang pemalas, bahkan binatang pekerja keras dan tahan banting. Saya tidak tahu sejak kapan kerbau dijadikan symbol kebodohan dan kemalasan padahal di masa lalu kerbau adalah nama yang agung bahkan dipakai sebagai nama bangsawan. Kalau anda penggemar kesenian tradisional kethoprak pasti pernah mendengar nama Kebo Marcuet, Kebo Anabrang yang berasal dari kasta bangsawan.

Dalam khasanah kesenian jawa, dikenal pula nama gending Kebo Giro (kebo = kerbau), yang biasanya ditabuh untuk mengiringi ucapara perkawinan yang agung. Keraton Yogyakarta bahkan mempunyai kerbau keramat berkulit bule, sampai-sampai orang rela berebut kotorannya karena diyakini akan mendatangkan rejeki.

Bangsa kita sepertinya memang gemar mencari symbol-symbol dari sesuatu yang sebenarnya maknanya baik menjadi sesuatu yang buruk dan hina. Catat saja selain kerbau yang dijadikan symbol kebodohan dan kemalasan, makanan tempe juga dijadikan symbol kemiskinan dan keterbelakangan dan segala hal yang buruk. Mental lemah dibilang mental tempe, bangsa yang miskin dibilang bangsa tempe, padahal tempe adalah produk makanan asli Indonesia yang punya nilai ekonomis yang tinggi dan menjadi sumber rejeki bagi banyak orang. Tempe juga telah dikomsumsi oleh semua lapisan masyarakat sampai-sampai semua orang kebingungan ketika harga kedelai sebagai bahan baku tempe tiba-tiba melonjak.

Kembali ke soal kerbau, tanpa disadari kesalahkaprahan dalam penggunaan symbol kerbau tersebut ternyata selaras dengan cara pandang masyarakat petani terhadap kerbau. Petani tak banyak lagi yang memelihara kerbau dan memilih menggunakan jasa traktor untuk mengolah sawahnya padahal secara ekonomi sangat memakan biaya dibandingkan membajak sawah menggunakan kerbau. Lenguhan kerbau telah tergantikan oleh lenguhan traktor. Namun sekarang orang mulai sadar bahwa peran kerbau tak bisa digantikan oleh traktor. Injakan kerbau membuat tanah menjadi gembur, dan kotorannya membuat petani tak tergantung kepada pupuk buatan pabrik.

Kotoran kerbau bahkan bisa diolah menjadi biogas yang membuat petani tak harus tercekik untuk membeli gas yang kian hari harganya kian mencekik. Kerbau bahkan bisa menjangkau lahan yang tidak rata, lahan pegunungan yang tak terjangkau oleh traktor. Bayangkan jika petani kembali memelihara kerbau, berapa banyak mereka bisa berhemat dan ujung-ujungnya kesejahteraan akan meningkat.

Dalam konteks pembangunan yang ramah terhadap alam, keberadaan kerbau jelas sangat menentukan. Sekarang sudah mulai tumbuh kesadaran untuk meninggalkan cara pertanian yang merusak alam (pestisida, pupuk pabrik) lewat gerakan pertanian organik. Peran kerbau menjadi sangat menentukan karena darinyalah produk pupuk alami dihasilkan, sudah begitu tenaganya dibutuhkan untuk menggantikan traktor yang menghasilkan polusi dan menyedot solar(saya pernah melihat tayangan di Metro TV tentang pertanian sebagai penyumbang terbesar bagi pemanasan global). Selain itu produk dari pertanian organik juga dihargai jauh lebih mahal daripada hasil pertanian non organik yang tentu akan mengangkat derajat hidup petani. Pertanian yang berwawasan lingkungan harusnya menjadi keniscayaan di tengah issue pemanasan global, sayangnya gaungnya justru kalah kencang dari gonjang ganjing Kerbau Si Bu Ya. Bukti bahwa pemerintah tidak punya politik pertanian yang berwawasan alam dan tidak menggagas politik pertanian yang mendorong petani menjadi mandiri. Jangan-jangan karena pemerintah sudah terlanjur under estimate terhadap kerbau.

Saya yang wong ndeso kini sangat merindukan lenguhan kerbau yang tak kenal lelah membajak sawah, bukan merindukan keluhan orang yang tersinggung disamakan dengan kerbau. Kalau saya jadi orang tersebut saya akan bilang…Siapa takut dibilang kerbau?


Selasa, 02 Februari 2010

Li(bi)do, Tubuh, dan Pencerahan Intim

Musim dingin yang ekstrim tak menghalangi ratusan pengunjung antre berjam-jam di depan sebuah gedung pertunjukkan. Keramahan para penjaga pintu sukses mengalirkan kehangatan pada tubuh yang diterpa minus derajat suhu udara malam itu. Jam pun terus berdetak dan merangkak, hingga tiba saat sebuah pintu yang kukuh mempersilahkan tetamunya melangkahkan kaki.

Tepat pukul sembilan lewat tiga puluh menit malam. Layar merah tua pelan terbuka. Irama musik India mengalun dinamis. Satu persatu, dewi-dewi dalam mitologi India muncul dari balik panggung berseni dan berteknologi canggih. Aksesori-aksesori indah kisah Ramayana dan Mahabharata membalut dua puluh persen tubuh sang penari. Bagian tubuh separo ke atas dibiarkan bebas terbuka. Gemulai dan gerak tubuh begitu tunduk pada hentakan musik dan kilatan lampu. Dinamis sekaligus rancak. Penari-penari Bluebelle Girls di LIDO Paris itu memendarkan pesona magis dan eksotisme adikarya anak manusia. Bagi pecinta seni kelas tinggi, tari kabaret itu benar-benar bukti cita rasa seni mahaadi. Sebaliknya, bagi penikmat seni lucah, gerutuan panjang pasti membuncah dari mulutnya yang nyinyir. That’s artistically interesting, but not empowering !

LIDO merupakan kreasi dua bersaudara Italia, Joseph dan Louis Clerico. LIDO sendiri diambil dari nama sebuah pantai eksotis di Italia. Inagurasi kabaret paling masyhur di dunia ini dilaksanakan pada 20 juni 1946 dengan pertunjukan pertama berjudul “Sans rimes ni raisons (tanpa rima dan tanpa rasio)”. Terletak di jantung Champs-Elysées, LIDO menjelma menjadi salah satu penanda gemerlap dan romantika kota Paris sebagai La ville de lumière (Kota Cahaya). Prestasi LIDO tidak bisa dilepaskan dari peran lima tokoh : Dua bersaudara Clerico (pendiri), Margareth Kelly (kareografer Bluebelle Girls), Pierre Louis-Guérin, dan Renée Fraday. Kelima abdi seni ini memang menjual keindahan tubuh. Tapi, mereka berhasil menyajikannya tanpa jatuh pada vulgarisme dan seni berselera rendah.

LIDO bukan sekedar gemulai eksotis tubuh perempuan. Ia bagian dari perdebatan sengit Abad Pencerahan XVIII mengenai hubungan rasio dan seks. Immanuel Kant dan Marquis de Sade adalah dua seteru dalam persoalan ini; bagaimana mendamaikan moral dan seks? Kant berpendapat bahwa akal dan seks itu sangat berbeda, bertentangan dan tak dapat disatukan. Akal mengantarkan manusia pada perintah-perintah moral, sedangkan seks selalu membelokkannya pada tindakan-tindakan tak bermoral. Dalam bukunya Leçon d’éthique (1780), Kant dengan keras mengatakan bahwa l’attirance sexuelle n’est pas une inclination pour un autre être humain, mais une inclination pour son sexe (daya pikat seksual bukanlah perasaan cinta kepada orang lain, tetapi kecenderungan pada seks itu sendiri). “Seks adalah aksi yang bertentangan dengan tuntutan-tuntutan rasio praktis”, tulis Sang filosof moral.

Di seberang lain, Sade dengan penuh pesona menyangkal tesis Kant dengan mengatakan bahwa akal (raison) dan kebebasan moral (liberté de moeurs) itu sejalan. Keduanya satu bagian yang tak dapat dipisahkan (juz’un la yatajaza’). Dari balik penjara, ia mengikuti gemuruh ide-ide rasionalisme Abad Pencerahan. Ia mengatakan bahwa rasio tidak hanya mendorong kebajikan-kebajikan Kristen (baca: agama) tetapi berfungsi juga sebagai instrumen-instrumen erotis. Dengan kata lain, rasio mendorong kebebasan moral. Sade melangkah jauh melampui apa yang ditesiskan Kant. Ia mempromosikan immoralisme. Karya-karyanya antara lain; La nouvelle Justine, Histoire de Juilette, 102 Journée de Sodome dan lainnya yang dapat diakses dalam http: //www.sade-ecrivain.com/.

Kebebasan sadian, kini, mewujud dalam kolaborasi ekspresi seni dan kapitalisme di abad modern ini dalam bentuk soft dan hard erotism. Kapitalisme memang mempunyai kekuatan infiltrasi superdahsyat. Ia merasuk ke setiap lini hidup. Pun dalam urusan tubuh dan keperempuanan. Di belahan dunia, bentuk seremoni ketelanjangan menjadi praktek industri yang mendatangkan uang. Ia menjadi lumrah bahkan sebuah keniscayaan. Ia menjadi tak terelakan bagi modernitas. Sebab, seks adalah hasrat libidinal yang berhak dinikmati oleh setiap individu. Sigmund Freud, dalam Trois essais sur la théorie sexuelle (1905), menyatakan bahwa seks dan kematian adalah dua hasrat fundamental manusia. Seks, dalam pandangan psikoanalisisnya, berfungsi sebagai medium kesenangan (plaisir), bukan reproduksi (reproduction) yang sudah ada semenjak masa kanak-kanak.

Kapitalisme dengan anggun mengangkat martabat tubuh perempuan sebagai subjek. Perempuan menjadi pemilik atas tubuhnya. Ia menguasai tiap inci keindahannya. Ia adalah ratu en soi même. Pada saat yang sama, tubuh dilemparkan dalam sampah kapitalisme. Tubuh adalah residu sekaligus objek yang berfungsi sebagai pemuas hasrat libidinal kapitalis. Ia kehilangan kuasa atas tubuhnya. Feminitas tubuh, lagi-lagi, lumpuh melawan kapitalisme yang mahamaskulin. Sorak sorai libido kapitalis menumpulkan nalar sekaligus moral. Tubuh tercabik-cabik dalam gemerlap!

Bagi sang moralis rigid, tubuh perempuan melumpuhkan rasio. Ia penyulut segala kebiadaban. Ia pembelok jalan kebenaran: jalan Tuhan. Eksotisme tubuh haram diperlihatkan. Ia wajib disembunyikan dalam ketebalan helai pakaian. Aturanpun perlu dipaksakan, supaya tak sejengkalpun tubuh memendarkan aroma kematian nalar dan iman. Bagi keduanya (kapitalis dan moralis), tubuh perempuan tak lebih dari diskursus libidinal yang berfungsi sebagai instrumen pelanggeng kekuasaan atas perempuan. Tak lebih dari itu.

Gagasan-gagasan Abad Pencerahan yang laik digaungkan adalah ide yang menempatkan tubuh dan keperempuanan pada “tempatnya yang pas”; ide emansipasi, egalitarianisme serta keseimbangan rasio dan libido. Tubuh dan keperempuanan bukan lagi dianggap sebagai simbol dan daya tarik seksual. Ia adalah wadag yang semestinya ditempatkan pada martabat yang mulia. Keindahan perempuan tidak layak dieksploitasi dan direduksi pada persoalan libido. Ia pun tak lantas ditutupi demi ekspektasi keimanan yang semu. Sebaliknya, wacana yang perlu terus digagas adalah menciptakan norma-norma yang adil dan bermanfaat untuk semuanya sembari tetap memelihara demokrasi seksual yang santun dan beradab. Inilah Pencerahan Intim yang kita harapkan.

*Andar Nubowo **Catatan kawan sesama Kompasioner



Senin, 01 Februari 2010

Renungan

Alam bawah sadarku bergerak

Alam bawah sadarku bergejolak

Alam bawah sadarku berontak

Alam bawah sadarku berteriak


Hai alam pikir, segeralah bekerja

Hai alam pikir, segeralah berputar

Hai alam pikir, segeralah berbuat

Hai alam pikir, segeralah bertindak


Hari berganti hari

Memori itu hampir meredup

Tahun berganti tahun

Nostalgia itu seakan hilang


Telah datang Dia

Dengan suatu perubahan

Perubahan yang mencengangkan

Mengingatkan kita akan masa lalu


Gelap dalam kegembiraan

Terang dalam kesedihan


Gejolak hati anak kecil

Gembira mendapatkan mainan

Gejolak pikir anak remaja

Haru biru dalam kesmaraan


Semu dan nyata menjadi satu

Hati dan pikir melebur

Air dan api berbaur

Laut dan daratan tak berbatas


Dia menghampiri, pikiranku terus menahan

Dia telah dekat, hatiku hanya untuk_MU

Inilah saatnya

Menunjukkan auman sejati ciptaan yang paling mulia