Tampilkan postingan dengan label catatan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label catatan. Tampilkan semua postingan

Kamis, 29 Juli 2010

Ini Bukan Sastra

Melayang fikiran melayang
Bagaikan layang terbang melayang layang…
Terkena badai,lalu goyang,putus dan menghilang…

“Kecewa…”
Kenapa ku harus kecewa,ini hanya dunia maya…..
Percuma saja aku kecewa…
Tak bisa mengapa selain iya saja…

“Biarkan saja…
Waktulah yang akan bicara,seperti bunga kamboja yang tumbuh dan mati pada waktunya…

“Mencela…
Buat apa…??
Ini hanya maya,yang letaknya entah dimana,dan yang pastinya tidak di hati saya…

¤catatan hina,yang kecewa hari ini…..

Selasa, 02 Februari 2010

Li(bi)do, Tubuh, dan Pencerahan Intim

Musim dingin yang ekstrim tak menghalangi ratusan pengunjung antre berjam-jam di depan sebuah gedung pertunjukkan. Keramahan para penjaga pintu sukses mengalirkan kehangatan pada tubuh yang diterpa minus derajat suhu udara malam itu. Jam pun terus berdetak dan merangkak, hingga tiba saat sebuah pintu yang kukuh mempersilahkan tetamunya melangkahkan kaki.

Tepat pukul sembilan lewat tiga puluh menit malam. Layar merah tua pelan terbuka. Irama musik India mengalun dinamis. Satu persatu, dewi-dewi dalam mitologi India muncul dari balik panggung berseni dan berteknologi canggih. Aksesori-aksesori indah kisah Ramayana dan Mahabharata membalut dua puluh persen tubuh sang penari. Bagian tubuh separo ke atas dibiarkan bebas terbuka. Gemulai dan gerak tubuh begitu tunduk pada hentakan musik dan kilatan lampu. Dinamis sekaligus rancak. Penari-penari Bluebelle Girls di LIDO Paris itu memendarkan pesona magis dan eksotisme adikarya anak manusia. Bagi pecinta seni kelas tinggi, tari kabaret itu benar-benar bukti cita rasa seni mahaadi. Sebaliknya, bagi penikmat seni lucah, gerutuan panjang pasti membuncah dari mulutnya yang nyinyir. That’s artistically interesting, but not empowering !

LIDO merupakan kreasi dua bersaudara Italia, Joseph dan Louis Clerico. LIDO sendiri diambil dari nama sebuah pantai eksotis di Italia. Inagurasi kabaret paling masyhur di dunia ini dilaksanakan pada 20 juni 1946 dengan pertunjukan pertama berjudul “Sans rimes ni raisons (tanpa rima dan tanpa rasio)”. Terletak di jantung Champs-Elysées, LIDO menjelma menjadi salah satu penanda gemerlap dan romantika kota Paris sebagai La ville de lumière (Kota Cahaya). Prestasi LIDO tidak bisa dilepaskan dari peran lima tokoh : Dua bersaudara Clerico (pendiri), Margareth Kelly (kareografer Bluebelle Girls), Pierre Louis-Guérin, dan Renée Fraday. Kelima abdi seni ini memang menjual keindahan tubuh. Tapi, mereka berhasil menyajikannya tanpa jatuh pada vulgarisme dan seni berselera rendah.

LIDO bukan sekedar gemulai eksotis tubuh perempuan. Ia bagian dari perdebatan sengit Abad Pencerahan XVIII mengenai hubungan rasio dan seks. Immanuel Kant dan Marquis de Sade adalah dua seteru dalam persoalan ini; bagaimana mendamaikan moral dan seks? Kant berpendapat bahwa akal dan seks itu sangat berbeda, bertentangan dan tak dapat disatukan. Akal mengantarkan manusia pada perintah-perintah moral, sedangkan seks selalu membelokkannya pada tindakan-tindakan tak bermoral. Dalam bukunya Leçon d’éthique (1780), Kant dengan keras mengatakan bahwa l’attirance sexuelle n’est pas une inclination pour un autre être humain, mais une inclination pour son sexe (daya pikat seksual bukanlah perasaan cinta kepada orang lain, tetapi kecenderungan pada seks itu sendiri). “Seks adalah aksi yang bertentangan dengan tuntutan-tuntutan rasio praktis”, tulis Sang filosof moral.

Di seberang lain, Sade dengan penuh pesona menyangkal tesis Kant dengan mengatakan bahwa akal (raison) dan kebebasan moral (liberté de moeurs) itu sejalan. Keduanya satu bagian yang tak dapat dipisahkan (juz’un la yatajaza’). Dari balik penjara, ia mengikuti gemuruh ide-ide rasionalisme Abad Pencerahan. Ia mengatakan bahwa rasio tidak hanya mendorong kebajikan-kebajikan Kristen (baca: agama) tetapi berfungsi juga sebagai instrumen-instrumen erotis. Dengan kata lain, rasio mendorong kebebasan moral. Sade melangkah jauh melampui apa yang ditesiskan Kant. Ia mempromosikan immoralisme. Karya-karyanya antara lain; La nouvelle Justine, Histoire de Juilette, 102 Journée de Sodome dan lainnya yang dapat diakses dalam http: //www.sade-ecrivain.com/.

Kebebasan sadian, kini, mewujud dalam kolaborasi ekspresi seni dan kapitalisme di abad modern ini dalam bentuk soft dan hard erotism. Kapitalisme memang mempunyai kekuatan infiltrasi superdahsyat. Ia merasuk ke setiap lini hidup. Pun dalam urusan tubuh dan keperempuanan. Di belahan dunia, bentuk seremoni ketelanjangan menjadi praktek industri yang mendatangkan uang. Ia menjadi lumrah bahkan sebuah keniscayaan. Ia menjadi tak terelakan bagi modernitas. Sebab, seks adalah hasrat libidinal yang berhak dinikmati oleh setiap individu. Sigmund Freud, dalam Trois essais sur la théorie sexuelle (1905), menyatakan bahwa seks dan kematian adalah dua hasrat fundamental manusia. Seks, dalam pandangan psikoanalisisnya, berfungsi sebagai medium kesenangan (plaisir), bukan reproduksi (reproduction) yang sudah ada semenjak masa kanak-kanak.

Kapitalisme dengan anggun mengangkat martabat tubuh perempuan sebagai subjek. Perempuan menjadi pemilik atas tubuhnya. Ia menguasai tiap inci keindahannya. Ia adalah ratu en soi même. Pada saat yang sama, tubuh dilemparkan dalam sampah kapitalisme. Tubuh adalah residu sekaligus objek yang berfungsi sebagai pemuas hasrat libidinal kapitalis. Ia kehilangan kuasa atas tubuhnya. Feminitas tubuh, lagi-lagi, lumpuh melawan kapitalisme yang mahamaskulin. Sorak sorai libido kapitalis menumpulkan nalar sekaligus moral. Tubuh tercabik-cabik dalam gemerlap!

Bagi sang moralis rigid, tubuh perempuan melumpuhkan rasio. Ia penyulut segala kebiadaban. Ia pembelok jalan kebenaran: jalan Tuhan. Eksotisme tubuh haram diperlihatkan. Ia wajib disembunyikan dalam ketebalan helai pakaian. Aturanpun perlu dipaksakan, supaya tak sejengkalpun tubuh memendarkan aroma kematian nalar dan iman. Bagi keduanya (kapitalis dan moralis), tubuh perempuan tak lebih dari diskursus libidinal yang berfungsi sebagai instrumen pelanggeng kekuasaan atas perempuan. Tak lebih dari itu.

Gagasan-gagasan Abad Pencerahan yang laik digaungkan adalah ide yang menempatkan tubuh dan keperempuanan pada “tempatnya yang pas”; ide emansipasi, egalitarianisme serta keseimbangan rasio dan libido. Tubuh dan keperempuanan bukan lagi dianggap sebagai simbol dan daya tarik seksual. Ia adalah wadag yang semestinya ditempatkan pada martabat yang mulia. Keindahan perempuan tidak layak dieksploitasi dan direduksi pada persoalan libido. Ia pun tak lantas ditutupi demi ekspektasi keimanan yang semu. Sebaliknya, wacana yang perlu terus digagas adalah menciptakan norma-norma yang adil dan bermanfaat untuk semuanya sembari tetap memelihara demokrasi seksual yang santun dan beradab. Inilah Pencerahan Intim yang kita harapkan.

*Andar Nubowo **Catatan kawan sesama Kompasioner



Senin, 18 Januari 2010

Ada Yang Hilang Dari Sang Pemimpi

Setelah tepat sebulan, sejak 17 Desember 2009 film Sang Pemimpi beredar, saya baru tadi malam menyaksikannya (Itupun aku dapatkan soft copy-nya dari salah seorang teman). Dan ternyata Di banding filmnya, saya jauh lebih suka membaca novelnya. Terlampau banyak detail-detail yang terlupakan dalam film itu termasuk detail karakter yang semuanya digambarkan apik dalam novel. Tapi, ada hal menarik yang bikin saya kepincut. Saya suka dengan penggambaran yang realistis tentang Belitong, lengkap dengan gaya bertuturnya.

Para pembuat film ini berusaha tetap membumi dalam menggambarkan Belitong. Tak hanya pemilihan lokasi suting, mereka juga memilih para pemain lokal untuk memerankan tokoh-tokoh di film itu. Bahkan gaya berbicara (logat) para pemain lokal ini dipertahankan seasli mungkin, sebagaimana logat Belitong sesungguhnya. Inilah yang menjadi kekuatan film ini dan hendak saya bahas dalam tulisan ini.

Film ini disajikan dengan realistis dan tidak sok-sok Jakarta sebagaimana banyak film Indonesia yang tengah tayang di bioskop. Film ini tidak malu-malu untuk nampak kampungan (udik) sebab yang hendak disajikan adalah upaya mereka yang berumah di kampung untuk menggapai mimpinya yang setinggi langit demi menjangkau altar ilmu pengetahuan di Paris. Kalimat-kalimatnya inspiratif sebagaimana yang dikatakan salah satu tokoh yakni Arai, ”Tak soal setinggi apapun mimpimu, namun sejauh mana upaya kerasmu untuk meraih semua mimpi tersebut.”

Dan yang mencengangkan saya adalah kalimat-kalimat inspiratif itu disampaikan dalam bahasa Melayu dengan aksen Belitong. Setelah mendengar sedikit ulasan dari teman sekelas saya (Semasa kuliah di FPBSI IKIP PGRI Semarang) yang intens mempelajari bahasa melayu, saya baru tahu kalau ternyata logat Melayu Belitong agak berbeda dengan logat Melayu di daerah lainnya termasuk Palembang, Riau, Jambi, bahkan Malaysia sekalipun. Logat Melayu Belitong lebih menyerupai logat Melayu Aceh sebab dahulu, Bangka dan Belitong mendapat pengaruh yang sangat kuat dari Aceh.

Saya membayangkan betapa hebatnya Indonesia yang memiliki begitu banyak variasi bahasa. Melalui film ini, kita diperkenalkan dengan variasi logat Belitong, dan melalui logat tersebut kita sedang meneropong keindonesiaan. Film ini bukanlah yang pertama. Sebelumnya, kita juga pernah menyaksikan film Denias, yang menggunakan bahasa Indonesia dengan logat Papua. Melalui variasi logat bahasa tersebut, kita seakan disadarkan bahwa Indonesia adalah sebuah rumah besar yang di dalamnya terdapat begitu banyak bahasa setempat yang hidup dan saling berinteraksi.

Kita disadarkan pula bahwa Indonesia bukanlah satu realitas Jakarta saja. Negeri ini adalah sebuah bangunan besar yang dikonstruksi oleh berbagai macam kebudayaan dan ribuan bahasa yang kesemuanya memberi pengertian pada kosa kata keindonesiaan. Kita disadarkan bahwa Indonesia adalah sebuah konsep yang maknanya terus diperkaya oleh manusia-manusia yang hidup dalam berbagai latar kebudayaan termasuk Belitong.

Anak-anak kecil dalam film Sang Pemimpi itu adalah salah satu kepingan yang membentuk keindonesiaan hari ini. Mereka menunjukkan keragaman dan kekayaan bangsa ini yang identitasnya terus tumbuh dan menjadi. Dan inilah kekuatan kita sebagai bangsa yang majemuk.

Semoga film seperti ini terus diperbanyak. Dan membuat kita sesekali meneropong Indonesia dari pinggiran, dari titik yang selama ini banyak diabaikan oleh mereka yang menguasai arus wacana negeri ini.

Sabtu, 16 Januari 2010

Buatmu, Kawan-Kawan Aktivis Mahasiswa "Pergerakan"

“Lawan globalisasi!! – Tolak militerisme!! – Hukum Mati para koruptor!! – Waspadai serangan pop kultur!! Lawan kapitalisme!! serta berderet-deret tanda seru lainnya” Semboyan, simbol, provokasi, ajakan, atau..?!/

Sekelompok manusia yang menamakan dirinya sebagai aktivis kampus, pejuang atau pembaharu dengan bangganya menggembar-gemborkan kata dan kalimat-kalimat diatas baik itu lewat senandung orasi, poster dan pamplet, maupun yel-yel yang mengiringi demonstrasi mereka.

Mahasiswa sebagai oposisi yang selalu mengambil garis tegas terhadap kekuasaan pemerintah yang sewenang-wenang terhadap rakyat, membuktikan salah satu eksistensinya melalui pergerakan yang vertical, dengan semangat yang menggebu-gebu… menyuarakan aspirasi rakyat, menggoyang semua sistem yang kaku para penguasa lewat demonstrasinya. 

Demonstrasi, kita singkat dengan kata demo, adalah alternatif dari sebuah pergerakan mahasiswa, ada yang turun kejalanan, kekantor-kantor pemerintah dan adapula yang melakukan ajakan dan penyadaran-penyadaran intelektual langsung kepada mahasiswa lainnya atau kawan-kawannya di kampus.

Demonstrasi pula yang mengantarkan mahasiswa tercatat dalam sejarah sebagai pelopor dari setiap moment yang di ikutinya, termasuk ketika kekuatan gabungan mahasiswa tahun 1998 yang berhasil menggulingkan kediktatoran rezim orde baru dibawah naungan saktinya Soeharto. Dan mahasiswa pula yang menjadi pelopor reformasi di tahun yang sama. Walaupun cukup disayangkan juga ketika alur reformasi itu sudah di buka dan dijalankan, seakan mahasiswa disini kehilangan jati diri dan tidak tahu harus melangkah kemana, sehingga pasca reformasi 1998 seakan menjadi era di mana mahasiswa terkesan diam, kehabisan isu, dan baru ketika ada kasus tindakan kekerasan aparat pada sejumlah mahasiswa UMI di makasar, seakan mahasiswa kembali mendapatkan angin segar pergerakannya, dan isu militerisme pun menjadi agenda dan bendera dari aksi mahasiswa selanjutnya dan hal itu berlanjut ke saat dimana Pemilu berlangsung, dengan tetap menempatkan jargon militerisme di dalamnya. Setelah semua isu itu sirna, mahasiswa kembali pada tidurnya diatas tuntutan dunia akademik yang disinyalir memang memaksa mahasiswa untuk tidak bebas bergerak. Tuntutan absen, tugas-tugas dosen dan ujian menjadi senjata ampuh yang perlahan mematikan kreasi mahasiswa di luar agenda studinya. 

Selain itu, demonstrasi juga seperti yang sering di jadikan alasan oleh kawan-kawan pergerakan, bahwasanya demonstrasi dilakukan karena pemerintah atau orang-orang petinggi baik di kampus maupun pejabat diluar tidak bisa diajak diskusi secara fair, mereka hanya bisa kasih janji tanpa adanya tindakan kongkret yang dijalankan, dan oleh karena itu para aktivis pergerakan memilih jalur demonstrasi untuk menyampaikan aspirasinya, aspirasi rakyat tentunya.

Apa yang perlu di pertanyakan dari eksistensi mereka?

Ketika kawan-kawan aktivis mengangkat satu isu pergerakannya, pastinya mereka juga telah jauh menelusuri makna dan tindak lanjut dari hal yang mereka perjuangkan tersebut. Dan sepatutnya juga dapat merealisasikannya di masyarakat tempat mereka tinggal, utamanya adalah masyarakat kampus. Dan semua ajakan dan arahan yang mereka senandungkan, sudah selayaknya pula dimulai jauh sebelum isu itu terjadi, minimal dimulai dari diri pribadi kawan aktivis sendiri..

Yang menjadi realita dan selalu ganjil untuk di amati dari pergerakan aktivis kita, adalah masalah ke konsistenan ruang dan waktu, dimana ketika mereka misalnya mengemborkan masalah militerisme, kapitalisme dan pop kultur, kenyataannya pada saat itu pula pengaruh dan produk militerisme, kapitalis dan pop cultur itu sendiri tanpa disadari atau tidak telah melekat pada diri mereka sendiri.

Kita tentunya dapat lihat dari cara dan semua artribut maupun pakaian yang sering dikenakan oleh para aktivis ketika melakukan aksinya maupun kesehariannya dikampus, berbagai merek dan pola hidup kapitalis adalah kenyataan yang ada pada kehidupan para aktivis kita.

Militer, lihat beberapa kasus yang dilakukan para aktivis ketika menggelar aksinya! Apakah berbagai bentuk bentrokan dan adu otot dengan aparat dan masyarakat adalah bukan tindakan militerisme? Jadi apa sich militerisme itu??/.. 

Korupsi? Uniko (usaha nipu kolot), pinjem tugas, bolos kuliah demi suatu aksi, titip absen, apakah itu juga tidak termasuk ke dalam kategori korupsi??

Jadi harus bagaimana sih, aktivis itu? Aktivis juga kan manusia?!

Manusia yang bijak adalah manusia yang tidak melupakan hal-hal terkecil dalam hidupnya… (pepatah kuno)

Tanpa maksud menggurui, dan tanpa mengesampingkan isu diluar, memang sudah sepantasnya kawan-kawan aktivis baik pergerakan maupun non pergerakan kita, lebih dulu mengutamakan masalah-masalah di lingkungan terdekatnya dulu, sebelum melangkah jauh ke isu luar yang lebih besar. Misalnya, masalah kecacatan akademik dan sistem pendidikan di kampus… Penyalahgunaan wewenang birokrat, penderitaan mahasiswa miskin di kampus.. dan masih banyak lagi hal-hal yang sudah sepatutnya diperjuangkan sampai tuntas di kampus sendiri… Baru ketika kampus mereka sudah mapan.. atau katakanlah ideal, barulah saatnya bagi para aktivis untuk menyikapi fenomena luar yang lebih luas, dimana hal itu pun harus dengan jaminan bahwa para aktivisnya adalah orang-orang yang benar-benar bisa bertanggung jawab, minimal terhadap dirinya sendiri, yang menjadi salah satu barometer atau contoh ideal bagi kawan-kawan mahasiswa lainnya yang masih tertidur…

Dan menurut catatan, di dalam satu kampus rata-rata di Semarang saja dapat diperkirakan jumlah aktivis yang ada rata-rata hanya 5-10 % nya saja dari keseluruhan mahasiswa yang ada, hal itu memang memberatkan bagi kawan aktivis, banyak hal terjadi dimana aksi mereka tidak mendapat dukungan dari kawan mahasiswa sekampusnya sendiri. Hal itu memang sangat ironis, tapi tidak akan menjadi beban ketika yang diperjuangkan adalah kepentingan bersama, dalam artian para kawan aktivis tersebut ikut memperjuangkan kepentingan mahasiswa lain yang terkesan apatis, yang notabene tidak berani untuk bicara dan bertindak walaupun pada dasarnya mereka juga merasakannya. Aksi untuk kepentingan bersama adalah langkah mulia dan pasti akan ada yang akan mendukung, walaupun kebanyakan hanya di dalam hati. Yang pasti posisi mahasiswa sebagai jangkar dan oposisi yang selalu mengambil garis tegas terhadap kekuasaan yang sewenang-wenang terhadap rakyat, baik itu rakyat kampus maupun masyarakat luas pada umumnya senantiasa harus selalu di jaga.

Terakhir, Arah perjuangan adalah merajut masa depan yang lebih baik, dan takkan pernah ada progres tanpa perubahan pergerakkan yang massif.