Tampilkan postingan dengan label Sajak. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sajak. Tampilkan semua postingan

Kamis, 29 Juli 2010

Ini Bukan Sastra

Melayang fikiran melayang
Bagaikan layang terbang melayang layang…
Terkena badai,lalu goyang,putus dan menghilang…

“Kecewa…”
Kenapa ku harus kecewa,ini hanya dunia maya…..
Percuma saja aku kecewa…
Tak bisa mengapa selain iya saja…

“Biarkan saja…
Waktulah yang akan bicara,seperti bunga kamboja yang tumbuh dan mati pada waktunya…

“Mencela…
Buat apa…??
Ini hanya maya,yang letaknya entah dimana,dan yang pastinya tidak di hati saya…

¤catatan hina,yang kecewa hari ini…..

Minggu, 11 Oktober 2009

Teatrika “PUTIH BIRU”

Aku ingin menjadi ilalang saja yang tak tuhan beri nafsu

Aku ingin jadi duri saja yang tak diberi Tuhan nurani tuk menyakiti

Aku ingin jadi binatang saja yang tak tuhan anugerahi akal

Karna pada kenyataanya aku selalu tidak bisa bertindak seperti manusia yang berakal jika berada di dekatmu

Perjalanan kita telah jauh

Aku telah mendapat banyak pelajaran berharga dari mu

Mengingatmu seperti melahap berton-ton cabe yang sisakan pedas, perih, panas dan air mata

Aku ingin muntahkan tapi rasa yang menyertai pedas dimulutku senyaman hartal nirwana Ketika keringatmu menyekat, membanjiri ruangan tempat kita menulis berlembar-lembar kisah,

Aku mulai pengap, nafasku satu dua,hidungku tersumbat, dan dadaku telah dipenuhi keringat

Ingin sekali aku menyeka segala pengap yang merayap,tapi pesona yang terbekas seharum kasturi surga

Betapa kilau tubuh kita yang basah oleh ludah dan keringat membuat angin merinding


Sebaiknya kita berkaca pada titik-titik air yang mulai menggenang di panggung permainan kita

Apa hendak kau akhiri teatrika bertajuk gairah dan air mata ini?

Jika ya, kita akan memulai sebuah kisah baru

Kita akan membuat pertunjukan yang maha dahsyat

Kita akan bersenggama dalam beberapa baris kata

Dan mungkin orgesme akan kita dapat dari ujung penamu dan kelamin tintaku

Kita akan bercinta dengan alas kertas yang maha luas

Imajinasikan dirimu sesukamu

Orgasmekan aku, tentunya dengan ujung penamu diatas kertas putih biru

Akan banyak yang melihat bersenggamaan kita

Maka mari bermain cantik

Mari bermain liar

Mari tumpahkan air mata seluruh dunia

Mari gelakkan tawa ke angkasa

Menyentuh setiap hati dengan ujung penamu dan kelamin tintaku

Akan ada banyak orang yang menunggu persenggamaan kita

Mereka akan membentangkan kertas putih biru itu

Ayolah…………

Rabu, 26 Agustus 2009

Hidup dan Mati

hidup tak kan berakhir!
hidup tak kan berhenti seiring degupan jantung yang kian mengencang
sebab hidup ini begitu indah
begitu lengkap dengan perkakas-perkakasnya

di sini….
di rumah yang dibangun tuhan dengan cinta-Nya
rumah abadi
yang tak satupun mampu menghancurkan
sekalipun para dewa dan malaikat…

di rumah ini
aku bahagia
aku telah mencapai puncak tujuan dalam hidup dan matiku
di rumah ini…

tapi kau salah! (kata tuhan)

ternyata,
rumah itu tidak kekal!
rumah itu penuh bercak….
penuh kotoran dari sekian orang yang mengharapkan
penuh lumuran darah dari tangan-tangan mereka
tak sempurna

ya….

sekalipun rumah yang berada di atas neraka itu…
terlalu banyak orang menumpahkan darah
terlalu banyak orang terjebak egoisme
terlalu banyak orang tersesat
terlalu banyak orang menuding sesat

mereka rela berdesakan masuk
mereka rela antri
bahkan hingga ratusan tahun
hanya demi jatah kamar lusuh
sekalipun di bawah kolong meja emas
sekalipun dekat pintu selokan susu
sekalipun di pingggiran sungai yang semerbak

Sebab Sebuah Rumah di atas Neraka

rumah diatas neraka itu!

telah banyak menimbulkan derita
tapi banyak menumbuhkan cinta

sebab rumah itu
rumah impian…
rumah masa depan
aku pun tau itu
lantas?
bagaimana dengan neraka?

dan ternyata
tidak ada yang kekal dan abadi selain kasih-Nya

Senin, 03 Agustus 2009

Kadang cinta-pun butuh arah

Kau tahu?
ingin rasanya kugulung seluruh bumi
atau kukeringkan samudera
hingga dunia semuanya sahara
namun belumlah cukup
bagaimana rasanya cinta menjadi prahara

Kau tahu?
everest yang menjulang
atau atlantik yang dalam
itu belum cukup untuk menggambarkan
semua cintaku dari hati terdalam
bahkan tujuh langit seolah tak berarti
atau bayu yang mengitari bumi
sungguh, cinta ini teramat dalam

Kau tahu?
apa yang kukenang tentangmu
tak akan mampu luntur
walau kita berpisah
dan mungkin kelak berlainan arah
atau saat kita sama-sama telah rabun dan menua
cintaku padamu masih tetap terjaga

Kau tahu?
aku mungkin telah salah
inginku kuat mengubah arah
namun aku tak ingin kau pincang akan arah
cinta tak terlalu logis untuk semua masalah
andai mereka-mereka tahu,
bahwa cinta pun memiliki arah

Kuharap,
hidup memberi kita pilihan yang terbaik
yang mungkin teramat sulit
bahkan terlalu mudah menelan racun
namun cinta tak terlalu logis untuk semua masalah

Cinta adalah persatuan,
namun aku teramat bingung
bagaimana jalan cinta berpikiran
mengutak-atik kau dan aku
hingga sepele pun menjadi masalah
sudah kukatakan,
cinta tak terlalu logis untuk semua masalah

Mungkin jalan kita telah ada yang salah
mungkin ego kita tak pernah mau kalah
menyatukan dua kepala dalam satu arah
bagaimana?
haruskan cinta kalah atau kita yang mengalah

Kau tahu?
Hanya ada satu kalimat untukmu dalam seluruh nafasku
sayang, aku cinta kamu

Sempat Rasa Ini Jadi Milikmu

Dulu di suatu waktu, di titian masa, dalam belenggu realita
Aku mencintaimu serupa aku membencimu
Aku membencimu serupa aku mencintaimu
sempat, sekali sua, lalu jumpa selanjutnya
kuungkap suatu makna, menjadi sesuatu yang susah kuartikan
sempat, pada kesempatan di depan sosokmu, di depan wajahmu, aku menatap
adakah kesempatan itu ikut kau ciptakan?

Dulu, di suatu waktu, di titian masa, dalam belenggu realita
rasa, menetap di dasar hati dan enggan untuk beranjak
kuusir namun mengejar
rasa, mengoyak logika namun kunikmati
kuobati namun justru bersarang
adakah rasa itu pernah kau cerna?

Dulu, di suatu waktu, di titian masa, dalam belenggu realita
ini, kuartikan sebagai cinta
ini, kuartikan sebagai buah rasa
ini, kuartikan sebagai proses
ini, kuartikan sebagai pelajaran
ini, kuartikan sebagai rencana
ini, kuartikan sebagai mimpi
ini, kuartikan sebagai bencana
ini, kuartikan sebagai kebohongan
ini, kuartikan sebagai penantian
ini, kuartikan sebagai kebodohan
ini, kuartikan sebagai pembuka pikiran
adakah kau sempat mengartikan semua ini?

Dulu di suatu waktu, di titian masa, dalam belenggu realita
jadi, kunikmati apa yang kusebut cinta
jadi, kucicipi apa yang kusebut buah rasa
jadi, kupahami apa yang kusebut pelajaran
jadi, kupelajari apa yang kusebut rencana
jadi, kugapai apa yang kusebut mimpi
jadi, kuantisipasi apa yang kusebut bencana
jadi, kuungkap apa yang kusebut kebohongan
jadi, kuberdoa untuk apa yang kusebut penantian
jadi, kusesali apa yang kusebut kebodohan
jadi, kusaring apa yang kusebut sebagai pembuka pikiran
adakah kau menjadikannya sama denganku?

Dulu di suatu waktu, di titian masa, dalam belenggu realita
milikmu, rasa itu
milikmu, keputusan itu
milikmu, jawab itu
dan aku? aku hanya diam dan berkata dalam hati "SEMPAT RASA INI JADI MILIKMU"

Senin, 19 Januari 2009

Sajak Duka

Sajak Duka


Sajak duka kutulis untukmu
Bait-baitnya adalah air mata
Aksaranya serpihan hati yang terluka

Sajak duka kutulis untukmu
Penuh doa agar engkau membacanya
Mengejawantahkannya
Bila kau muak, bertambahlah dukaku

Selarik puisi duka kupersembahkan untukmu
Dengan air mata
Minus tawa
Tanpa senyum

Puisi dukaku telah kau terima
Ia merasukimu
Meluruhkan tirani hatimu
Adakah kau memahami dukaku