Tampilkan postingan dengan label puisi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label puisi. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 22 Januari 2011

Aku telah memilihmu…

Aku telah memilihmu…
Tuk temaniku di kala siang tak bermentari
Saat malam tak berbintang
Agar dapat terangiku dengan senyuman

Aku telah memilihmu…
Ketika terik sinar menyengat dan membakar
Saat bulan sabit atau purnama
Untuk temaniku menyusuri dunia

Aku telah memilihmu…
Dengan hati yang tak memilih waktu
Sepenuh cinta tanpa masa
Semenjak harap masih mendengung hampa

Senin, 01 Maret 2010

Dua Puisi u/ Mu

I

Berputarnya hari, kembalinya awal
Ku coba menabur ceria
Walau lumut dukaku menjalar lusuh
Kisahku tlah berganti

Hanya aku yang renta di uruk usia
Menatap mentari terbenam dalam mata cekung
Sembab karena air mataku
Lusuh karena penyesalanku

Setelah ku mengerti
Aku bukanlah yang terbaik untukmu
Maafkanlah keterbatasan hatiku
Ampuni ketidaksabaranku

Aku sadar, dialah yang sempurna untukmu
Yang sanggup menghapus aku dari hatimu
Tak dapat ku pungkiri
Hanya engkaulah yang mengerti aku,tak pernah mau menyakiti aku

Dalam lubuk doaku
Aku berharap yang terbaik untukmu
S’moga kau slalu bahagia
Dan aku t’lah merelakanmu sepenuh hatiku…

Selamat Tinggal KekasihKu Semogga Kau bahagia bersamanya....

II

entah ada apa denganku
rasanya begitu sakit
ketika melihatmu bersamanya
ketika mendengarmu berbagi cerita dengannya
ketika kau menangis dan tertawa bersamanya

tapi...............
ini memang kesalahanku
aku yang mengabaikanmu
aku yang menyakitimu
aku yang membuatmu menyerah
menyerah pada perasaanmu padaku

sayang.........
selamat tinggal
semoga kau bahagia dengannya
semoga kau temukan cintamu bersamanya
aku akan mencoba membalut luka ini
tanpamu disisiku, dihatiku dan dihidupku.

Senin, 14 Desember 2009

Selamat Ulang Tahun Kawan

Rentang waktu

terkadang membuat kita lupa


bahwa kita semakin dewasa

Rentang waktu

terkadang membuat kita lupa

bahwa kita telah melanggar titah Yang Kuasa

Rentang waktu

terkadang membuat kita sadar

bahwa kita hanya manusia

yang tak punya apa-apa

selain jasad yang tak berguna

Rentang waktu

terkadang membuat kita sadar

bahwa Tuhan tidak melihat harta dan rupa

melainkan hati yang ada di dalam dada

dan amal jasad yang lata

Walau Einstein berkata bahwa rentang waktu itu berbeda

tergantung dalam keadaan apa kita berada

Namun Tuhan telah berkata,

“Hanya Akulah yang tahu umur manusia”.

Sekular barat berkata,

“Waktu adalah dollar di dalam kantung”

Namun Hasan Al-Bana berkata,

“Waktu adalah pedang, potong atau terpotong”.

Waktu…..

Alam terus menari dalam simfoninya

Waktu…..

Umur manusia didikte olehnya

Waktu….. setiap detaknya

memakukan kita di persimpangan jalan

jalan Tuhan atau jalan setan

Rentang waktu…..

semoga tak melalaikan kita

tuk terus berjalan di jalan-Nya

Rabu, 02 Desember 2009

Malaikat ku,...

Malaikatku …
Bantu aku ungkap kisah nyata ini
Dan menghadirkan sejuta kisahnya
Ku tahu kehidupan ini sangatlah misteri
Yang terkadang kita tak bisa mengerti

Malaikat ku
Kau sangat berarti bagiku
Aku tak ingin kehilanganmu

Malaikatku
Diantara rerintikan hujan ini
Bantu aku menemukan sedikit kehangatan
Bantu aku menemukan keindahan ,dalam kehampaan

Malaikatku
Berikanlah aku sedikit keyakinan,
bahwa sedetik kehidupan ini adalah kebahagiaan untukku..
walau itu hanyalah khayalan …

berikanlah aku sebuah pilihan
"kebahagiaan atau kebahagiaan"

Kamis, 19 November 2009

Aku merindukanmu sayang

malam ini aku merindukanmu
bagai kemarau panjang yang menunggu sang hujan
bagai petugas penjinak api yang menunggu bara padam
dan sungguh rasa ini menghujam dalam,...

Ketika aku merindukanmu…
Kutuliskan semua rasa yang ada
Kucoba rangkai menjadi bait-bait puisi indah
Seadanya rasa ini, sedalamnya hatiku

Ketika aku merindukanmu…
Tak terasa tetes airmata jatuh di pipiku
Dikala tak sedikitpun dapat kutemui adamu
Lirih pun tak kudengar suara manismu

Ketika aku merindukanmu…
Aku ingin waktu berputar ke masa lalu
Saat dimana aku ada disampingmu
Ketika dirimu belum pergi dari kehidupanku

Ketika aku merindukanmu…
Langit yang biru pun terasa kelabu
Panas mentari tak mampu hangatkan jiwaku
Tak ada rasa indah dalam kehidupanku

Ketika aku merindukanmu…
Berjuta angan inginkan kembali kehadiranmu
Walau harus berjalan jauh menjemputmu
Kurela demi bahagianya hatiku

Ketika aku merindukanmu…
Semua langkah tanpamu terasa kaku
Tak ada tawa terlahir serenyah bersamamu
Hidup sepenuhnya terasa pilu

Ketika aku merindukanmu…
Ingin rasanya aku menuruti semua egoku
Raih bahagiaku, mungkin acuhkan bahagiamu
Syukurku, ketika merindukanmu tak ku lakukan itu

Ketika aku merindukanmu…
Kutatap langit, kulihat engkau menatapku
Kutatap air, kuingat kenangan bersamamu
Kutatap hidupku, begitu kosong tanpamu

Ketika aku merindukanmu…
Aku bersedih kala teringat dia disampingmu
Begitu ingin kuhapuskan kerinduan ini
Namun hati masih ingin mengharapkan kembalimu

Ketika aku merindukanmu…
Berjuta tanya menyeruak dipikiranku
Adakah juga kau rasakan kerinduan padaku
Tak terbersitkah keinginan bertemu lagi denganku

Ketika aku merindukanmu…
Tak sedikitpun kusesali pertemuan awal itu
Tak ada hasrat untuk memisahkanmu
Tak ada rasa ingin membelenggu jiwamu

Ketika aku merindukanmu…
Ratusan malam kuhabiskan menunggu
Banyak mimpi kutabur di taman hatiku
Berharap esok kau berdiri di depan pintu hatiku

Ketika aku merindukanmu…
Terkadang datang ragu, coba tepiskan indahmu
Terkadang kupeluk bayangmu yang semu
Kutatap fotomu, berharap engkau melihatku

Ketika aku merindukanmu…
Berjuta penyesalan hadir atas semua khilafku
Berandai dapat kuperbaiki masa lalu
Seandainya dapat, kutata ulang kehidupanku

Ketika aku merindukanmu…
Terselip tanya “adakah kau menyesal mengenalku ?”
Terselip tanya “tak bisakah kau miliki saja diriku ?”
Terselip tanya “begitu mudahkah hapuskan diriku dari kehidupanmu ?”

Ketika aku merindukanmu…
Setengahnya kumerasa malu, karna mungkin hanya aku
Di sampingmu bukan diriku, mungkinkah dipikirmu ada diriku
Hingga dihatimu, masih bisa merindukan sosok lemahku

Ketika aku merindukanmu…
Hanya ungkapan rasa ini yang kumampu
Meski takkan pernah dapat menjadi obat bagiku
Sedikitnya melepaskan sedikit rasa dari hatiku

Ketika aku merindukanmu…
Kurelakan semua rasa sayang ini menunggu
Kubiarkan diri ini mengenang memori masa lalu
Kuyakinkan hatiku jangan memilih tuk ragu

Ketika aku merindukanmu…
Harapan tumbuh, serasa ku mampu sendiri dulu
Kubiarkan hati putih tanpa debu cinta yang lain
Mencoba buktikan betapa setianya diriku

Ketika aku merindukanmu…
Kuberikan semua rasa sayang yang tulus untukmu
Kuhapus ingatan tentang ketaksempurnaanmu
Kuyakinkah hati sesungguhnya kita adalah satu

Ketika aku merindukanmu…
Kusadari betapa lemahnya diriku tanpamu
Kuteringat betapa kasarnya diriku dulu
Betapa ingin memohon dirimu kembali padaku

Ketika aku merindukanmu…
Kucoba merangkai semua imaji bahwa kau pun merindu
Kucoba bermimpi kau pun memimpikan keberadaanku
Kucoba menunggu, buktikan takdir dan inginku

Ketika aku merindukanmu…
Tak kuasa logika atas semua rasa dalam hatiku
Tak kuasa raga atas keberadaan jiwa lemahku
Tulus mencintaimu, dari ketidaksempurnaanmu

Ketika aku merindukanmu…
Kupintakan dirimu sehat s’lalu hingga batas waktu
Berkhayal kelak dapat kulihat kembali sosok indahmu
dan kudengar lagi… suara manja dan manismu

Ketika aku merindukanmu…
Kuterpaku dengan kata-kata cinta dan setia
Tulus dan tanpa harus dirasa oleh berdua
Hingga sering membuatku menjadi rapuh

Ketika aku merindukanmu…
Menjadi seperti inilah diriku
Terlihat jelas seluruh isi hati dan pikiranku

Hanya karena aku merindukanmu…
Kurasakan putih dan tulusnya cinta
Indahnya memberi, teguhnya rasa
Bagaimana hati mencoba setia

Ketika aku merindukanmu…
Rindu hanyalah satu-satunya kata di hatiku

Selasa, 03 November 2009

Puisi Ulang tahun,...

Hari berganti pagi

Tetes embun basahi bumi ini

Bergantinya hari membawa kedewasaan diri

Dan menambahkan hitungan angka usia diri

Aku berdiri di sini

Menyambut datangnya pagi dan kedewasaan diri

Bersama embun pagi

Ku hitung angka pada usia yang telah bertambah ini

Aku masih berdiri di sini

Mengucap asa di hari bahagia

Semoga dengan bertambah usia

Cinta yang kau punya semakin meraja

Tiada apa yang bisa ku beri

Selain Cinta dan doa tulus dari hati

Karena semua itu lebih berarti

Dalam perjalanan hidup yang kita lalui

Aku masih tetap berdiri di sini

Bersama serangkai cinta dan doa ini

Semoga bahagia senantiasa melintasi

Garis hidup yang kita jalani

Hingga tiba saat kita menutup mata ini

Kamis, 29 Oktober 2009

Aku bukanlah siapa - siapa hanya pecinta yang lemah yang ungkapkan hati dengan kata - kata karena seluruh hati memuja

puisi satu

Kau
bagai nada dalam angan
selalu terhembus dalam alam bawah sadar
merasuki tiap angan ku
meresap dalam aliran darahku
kau
cinta yang ingin kumiliki
senja yang selalu ku nanti

wahai kau bidadari
berilah aku senyumanmu
senyuman yang mampu buatku melayang
berikan ku kekuatan tuk terus bertahan

wahai kau pujaan hati
berikan ku sinaranmu
berikan ku belaian lembutmu
berikan aku ruang dihatimu

Puisi dua

maafkan aku bidadari
aku buaikan tiap mimpi dengan bayangmu
mengharapkan belaian
hati yang tak pernah terbalas

memang aku cintaimu bidadari
mengharapkanmu dari tiap tetes embun pagi
namun menghilang begitu saja
begitu mentari datang

Puisi tiga

Terima kasih bunda
kau beri aku segala cinta
yang bahkan tak pernah habis tertutup samudra
dan tak pernah berakhir seiring sinar mentari
kau selalu ada untukku bunda
beriku senyum hangat diantara penat
beriku kesejukan diantara kebimbangan hati
dan sadarkanku yang tenggelam dalam gelap


puisi empat

Aku
memang hanya sekedar bayangan
tak pernah bisa menyentuh senyummu
hanya sinarmu yang tampak di kejauhan

Walau hembusan angin selalu menyebut namamu
tak pernah sekalipun kau datang untukku
ku biarkan lepas semua embun pagi
biarkan menghilang seiring sang mentari memusnahkan hatiku

Jangan pernah memandangku cantik
aku hanya kebohongan yang akan berlalu
segera aku akan menyadari
dan kepergianku akan menyadarkanku


Puisi Lima

Biarkan aku sendiri sebentar
Aku masih bernafas di sini
coba untuk perlahan berdiri
jangan mengasihaniku aku tak kan retak

Semua memang salahku
begitu tinggi ku cintaimu
begitu dalam ku percaya padamu
sampai aku begitu tenggelam

Percayala bahwa tak pernah kau hianatiku
Karena yang ku inginkan hanya yang terbaik bagimu
Biarkan ku bawa mimipiku tenggelam
bersama kelamnya angin malam

puisi enam

sampai saat ini ku masih bernafas
mencoba tuk menjaga hatiku yang rapuh
dari semua bayang hitam masa lalu
yang kembali ganggu tidurku

maaf kan aku atas semua anganku
semua tanda kembali resahkanku
kembali memaksaku tuk berkaca sekali lagi
kusadari tak mungkin semua bayang ku raih.

puisi tujuh

Kembali lagi pertanyaan itu hadir
milik siapa hati nya itu
milik siapa sinaran indah dimatanya itu
kepada siapa cintanya terpaut

Bahagia itu selalu hadir
namun bayang keraguan tak pernah sirna
siapa yang kupandang di depanku
aku sudah tak tau lagi

Kadang ku rasa hatiku miliknya
namun kadang kurasa hanya bayangan
kadang kurasa cinta itu begitu dekat
namun kadang cinta itu begitu jauh

puisi delapan

aku berdiri di sini
terdiam dalam kebekuan dan kegelapan
memandang dalam keraguan hati
yang tak pernah berhenti mencari

siapa kamu dan apa maumu
begitu indah namun miliki duri
tak nampak namun mampu sakiti
butakan hatiku yang tak mengerti

kau berikan aku cahaya redup
kau tutupi jalanku dengan kabut
aku buta arah buta tujuan
sampai kusadari bahwa semua hanya kepalsuan

Senin, 28 September 2009

Hatiku, Ingin, Cinta,...

HATIKU

hatiku selembar daun melayang jatuh di rumput:
nanti dulu, biarkan aku sejenak
terbaring disini;
ada yang masih ingin ku pandang.
yang selama ini senantiasa luput;
sesaat adalah abadi sebelum kausapu
tamanmu setiap pagi

INGIN

aku ingin mencintaimu dengan sederhana:
dengan kata yang tak sempat diucapkan
kayu kepada api yang menjadikannya abu

aku ingin mencintaimu dengan sederhana:
dengan isyarat yang tak sempat disampaikan
awan kepada hujan yang menjadikannya tiada

CINTA

Aku ingin melihat matamu yang indah
simfoni nan syahdu
mengalun melalui lorong hatiku
sukma gemulai mengikuti irama jiwa
segala cerita hanyalah sejahtera
bagi anak bangsanya.

Aku ingin melihat matamu yang indah
sebuah telaga bening yang sejuk airnya
tempat bermain dan berenang-renang
lumut dan batu-batu adalah pembersih jiwa
aroma semesta adalah bunga
yang ada di dalam hati.

Aku ingin melihat matamu yang indah
tempat bersemayam para leluhur yang perkasa
para penakluk serigala durjana
semua kejahatan tunduk bertekuk lutut
dan tak berdaya
sehingga amanlah segala makhluk di dunia
taman tempat berteduh dan hutan-hutan
yang terjaga dari segala mara bahaya.


Aku ingin melihat matamu yang indah
pertemuan yang berujung bahagia
akan selalu terlaksana
tiada kehidupan
tanpa sayap kata-katamu yang indah
dan cinta senantiasa hidup abadi
di dalam dunia.

For you neng,...

TAMAN CINTA

Aku ingin mengajakmu berjalan-jalan
di atas taman yang indah ini.
Lihatlah hangatnya mentari sore
mengintip di balik tirai mega.
Benarlah ungkapan bahwa alam ini diciptakannya
bagi kita yang hidup di dunia.
Dua insan yang mabuk anggur cinta
melihatmu titisan sukma dewa asmara.
Letupan gelora birahi membakar jagat semesta.
Samudera tertinggi badai sunaminya.
Dan aku adalah penguasa lautan itu.
Mabuk di samudera alkohol cinta
menciptakan pandangan
yang indah mempesona.

PERTANYAAN BELUM DIJAWAB

bersembunyi
dalam gelap
terbang menuju mimpi
untuk melupakan
untuk dilupakan
: diriku milik malam
berapa jauh melangkah
entah kapan kembali
berapa banyak perih tertoreh
aku tak tahu….aku tak tahu
menapak jarak
tak tahu tempat tujuan
kapan malam akan pergi
kapan muncul matahari
aku tak tahu…. aku tak tahu
teriring detak jantung
teriring nafas
mengendap dibenak
ingin terlelap tanpa gerak
ku tersenyum saat menangis
ku tertawa ketika terluka

Rabu, 26 Agustus 2009

Hidup dan Mati

hidup tak kan berakhir!
hidup tak kan berhenti seiring degupan jantung yang kian mengencang
sebab hidup ini begitu indah
begitu lengkap dengan perkakas-perkakasnya

di sini….
di rumah yang dibangun tuhan dengan cinta-Nya
rumah abadi
yang tak satupun mampu menghancurkan
sekalipun para dewa dan malaikat…

di rumah ini
aku bahagia
aku telah mencapai puncak tujuan dalam hidup dan matiku
di rumah ini…

tapi kau salah! (kata tuhan)

ternyata,
rumah itu tidak kekal!
rumah itu penuh bercak….
penuh kotoran dari sekian orang yang mengharapkan
penuh lumuran darah dari tangan-tangan mereka
tak sempurna

ya….

sekalipun rumah yang berada di atas neraka itu…
terlalu banyak orang menumpahkan darah
terlalu banyak orang terjebak egoisme
terlalu banyak orang tersesat
terlalu banyak orang menuding sesat

mereka rela berdesakan masuk
mereka rela antri
bahkan hingga ratusan tahun
hanya demi jatah kamar lusuh
sekalipun di bawah kolong meja emas
sekalipun dekat pintu selokan susu
sekalipun di pingggiran sungai yang semerbak

Sebab Sebuah Rumah di atas Neraka

rumah diatas neraka itu!

telah banyak menimbulkan derita
tapi banyak menumbuhkan cinta

sebab rumah itu
rumah impian…
rumah masa depan
aku pun tau itu
lantas?
bagaimana dengan neraka?

dan ternyata
tidak ada yang kekal dan abadi selain kasih-Nya

Senin, 03 Agustus 2009

Sempat Rasa Ini Jadi Milikmu

Dulu di suatu waktu, di titian masa, dalam belenggu realita
Aku mencintaimu serupa aku membencimu
Aku membencimu serupa aku mencintaimu
sempat, sekali sua, lalu jumpa selanjutnya
kuungkap suatu makna, menjadi sesuatu yang susah kuartikan
sempat, pada kesempatan di depan sosokmu, di depan wajahmu, aku menatap
adakah kesempatan itu ikut kau ciptakan?

Dulu, di suatu waktu, di titian masa, dalam belenggu realita
rasa, menetap di dasar hati dan enggan untuk beranjak
kuusir namun mengejar
rasa, mengoyak logika namun kunikmati
kuobati namun justru bersarang
adakah rasa itu pernah kau cerna?

Dulu, di suatu waktu, di titian masa, dalam belenggu realita
ini, kuartikan sebagai cinta
ini, kuartikan sebagai buah rasa
ini, kuartikan sebagai proses
ini, kuartikan sebagai pelajaran
ini, kuartikan sebagai rencana
ini, kuartikan sebagai mimpi
ini, kuartikan sebagai bencana
ini, kuartikan sebagai kebohongan
ini, kuartikan sebagai penantian
ini, kuartikan sebagai kebodohan
ini, kuartikan sebagai pembuka pikiran
adakah kau sempat mengartikan semua ini?

Dulu di suatu waktu, di titian masa, dalam belenggu realita
jadi, kunikmati apa yang kusebut cinta
jadi, kucicipi apa yang kusebut buah rasa
jadi, kupahami apa yang kusebut pelajaran
jadi, kupelajari apa yang kusebut rencana
jadi, kugapai apa yang kusebut mimpi
jadi, kuantisipasi apa yang kusebut bencana
jadi, kuungkap apa yang kusebut kebohongan
jadi, kuberdoa untuk apa yang kusebut penantian
jadi, kusesali apa yang kusebut kebodohan
jadi, kusaring apa yang kusebut sebagai pembuka pikiran
adakah kau menjadikannya sama denganku?

Dulu di suatu waktu, di titian masa, dalam belenggu realita
milikmu, rasa itu
milikmu, keputusan itu
milikmu, jawab itu
dan aku? aku hanya diam dan berkata dalam hati "SEMPAT RASA INI JADI MILIKMU"

Selasa, 07 Juli 2009

"???"

bukan ku tak mau
mengucap segala kelebihanmu
bukannya aku tak harus
menghujani kata setia padamu

bukan karna jenuh
atau tlah berkurang
kasih sayang ini

yg terasa mengering
tanpa bunga kata

tlah berulang kali
ku siapkan waktu yg terbaik
untukku akan memberi
beribu kata mesra kepadamu
juga seribu mimpi
yg mungkin terwujud
esok atau lusa

datang menghampiri kita berdua

dan bila waktunya tiba
untuk memulainya
pastilah ku ragu
tak sanggup menyusun
semua kata-kata ini

ajarilah aku bahasa cintamu
agar mudah kuucap kepadamu
ajarilah aku cara mencintamu
biar kita berdua sejalan selamanya

ajarilah aku cara mencintamu
biar kita berdua sejalan selamanya

Sabtu, 27 Juni 2009

Maafkan Aku Yang Lebih Mencintai-Nya

Maafkan Aku Yang Lebih Mencintai-Nya

Bila mentari beranjak ke peraduan
Ku ingin rasa ini tetap ku bawa
Memancang diatas hatiku yang paling tinggi
Mengibarkan panji kebahagiaan

Jejak yang tertinggal kerap bermain disudut pikiranku
Membalut kesepian yang terkapar ditepian malam
Tersedu bersama kenyataan yang terserak
Karena ada yang lain dalam hatiku!

Maafkan aku, marahmu tersulut oleh apiku
Tuangkan caci itu pada bejanaku
Tuliskan serapahmu pada kitab kalbuku
Maafkan aku jika harus mengucap, "Kau bukan segalaku!"

Jangan tanyakan besar cintaku untukmu
Tak perlu lagi kau ragukan warna cintaku
Kau harus membaca setiap lembaran buku cintaku
Hingga kau tahu, aku tetap mencintaimu sepenuh ragaku
Meski kau harus mengalah saat aku bercumbu dengan-Nya

Maafkan aku kekasihku!

Maafkan aku kekasihku!

Dengarlah nyanyian burung hantu
Karena itu nyanyian hatiku

Rasakan segarnya lambaian angin
Karena itu yang kuinginkan

Lihatlah ombak yang menderu di atas pantai
Karena itulah perasaanku saat ini

Perhatikanlah seorang pembunuh
Yang sedang disidang oleh hakim
Dan memasrahkan nyawanya pada hukum,
Itulah yang akan kulakukan
Jika waktu sedang menjadi malaikat untuk kita

Semoga malaikat cepat menghampiriku
Agar aku dapat meninggalkan gundahku
Di laut lepas
Dan melangkah bersamamu
Kembali ..

Selasa, 17 Maret 2009

Untuk Negeri ku

berikan aku hatimu negeriku

akan ku jadikannya sebongkah emas 24 karat

untuk membahagiakan anak-anakmu

yang telah lama tidak mengecap nikmatnya susu

yang bertelanjang kaki dan tidak bertopi

berlarian di bawah hujan yang terasa perih

di kulit yang tampak keriput dan hitam oleh penderitaan

mungkin juga telah sebulan

atau setahun tidak mengecap kenikmatan

beri aku hartamu, bumiku

agar ku bisa beli rasa untuk bocah-bocahmu

biar tidak turut mereka dalam kekacauan ini

agar punya hati, untuk bekal tersenyum

hingga bila di tanya, serempaklah jawab mereka

‘aku bangga negeriku, yang telah memberiku alas

hingga aku tidak telanjang kaki

hingga aku bisa mengecap hidup surgawi.

aku ingin mati di sini !’

negeriku

berteriaklah yang lantang tentang kebenaran

untuk putra-putramu yang berjajar rapi di pinggir jalan

beri mereka kesempatan untuk berkata jujur

bahwa hari ini adalah sahabat mereka

yang selalu menemani dalam suka duka

juga selalu memberi mereka bahagiaa

bumiku

tetaplah kau dalam cahaya

hingga ku akan selalu bercerita pada anak cucuku

inilah surgamu !

Jumat, 13 Februari 2009

Tinggal kepingan

Tunggu sejenak..usah terburu mengejarku..

bukankah telah ku berikan seprauh jiwaku untukmu?

Apakah itu tak cukup tuk membuatmu yakin?

Separuhnya lagi pasti ku berikan saat ku pulang..

aku hanya minta satu hal sederhana darimu..

tolong jaga sekeping cintaku dengan baik..

serpihan rasa yang telah hancur karenamu..

meski ia tak utuh..meski ia tak sempurna..

keyakinan yang ku berikan padamu adalah harapan yang besar dariku..

jaga baik-baik kepingan itu..

usah kau berlari..usah pula kau mencari..

yakinlah..disini akupun menjaga kepingan itu..

aku masih menyimpan sisa cinta yang dulu hancur karenamu..

aku hanya minta waktu dalam kesendirianku..

aku tahu kau masih mencintaiku..kau sangat mencintaiku..

dan mungkin aku pun seperti itu..

tapi biarkan aku nikmati kesendirianku dulu..

dengan kepingan yang tersisa dari kisah kita..

dari masa laluku..

nb. Berikan waktu tuk menata hati..

cinta tak kan pernah lari..

Jogja

Ingatkah kau..
Disana, dibatas jogja..
Tiap jengkal langkah yang kita tempuh
tiap sudut kota yang kita singgah
tersirat senyum dan tawa, bahagia..

Masihkah jelas di bayangmu
Tentang kita di benteng kota yang rapuh itu?
Mata tertutup dan langkah kita tak tentu arah?

Ataukah kau ingat
Betapa hitamnya langit jogja
Saat kau berdebat dengan perwira polisi?
Yang memaksa kita akui kesalahan semu?

Dan langkah yang gontai
susuri sisi pasar tuk sebuah skripsi tua?
Di sana..di ujung jogja..

jika kau ingat itu..
ingatlah..cinta kita begitu indah..
cinta kita menuntun tiap pijak langkah..
cinta kita kan membawa kita
kemanapun..di dunia ini..

meski sebatas kenangan..