Senin, 30 Maret 2009

Jangan Buat Aku Lelah Mencintaimu "Indonesia_ku"


Apakah anda mencintai negara anda??? Seberapa dalam cinta anda??? Rela matikah anda demi bangsa anda??? Apakah jawab anda ??? Mungkin akan dijawab begini: Aku cinta mati untuk negaraku!!! Cintaku sedalam Samudra Hindia!!! Jiwa ragaku hanya untuk bangsaku!!! Sangat Patriotik.... Mestinya memang begitu Tapi ... apa iyaaa?????? Sebagai anak bangsa, mencintai adalah sebuah kewajiban. Tanpa cinta itu, bangsa ini hanya akan kehilangan jati dirinya, ter-erosi oleh gelombang ”global” yang memang begitu dahsyat melanda, hingga pada akhirnya meredup dan mati pelan-pelan.

Cinta ternyata tidak cukup dengan kata-kata patriot jika hanya sebatas pada ungkapan semata. Perlu diterjemahkan melalui tindakan nyata. Masalahnya adalah apakah kita (masyarakat pasar) punya daya untuk berbuat sesuatu bagi negara (baca penguasa)? Yang ada justru seringkali masyarakat (akar rumput) seringkali menjadi korban dari berbagai praktik dan intrik politik sekolompok kecil golongan berkuasa.

Bisa kita saksikan saat ini, pertarungan elit politik yang nyata-nyata hanya berorientasi kepentingan golongannya semata. Apakah mereka juga mengerti bahwa politik pun seharusnya juga punya etika dan filosofi? Pernahkan diperhitungkan bahwa kesejahteraan masyarakat seharusnya jauh di atas segalanya? Jika dihitung-hitung, banyak sudah ke-”lalai”-an penguasa dalam menjalankan roda pemerintahan.

Dari kacamata penyelenggaraan negara, hal ini dapat saja di-amin-i sebagai sebuah rumusan kebijakan dan strategi yang bertujuan untuk mensejahterakan umat. Tentu saja itu sudah melalui sebuah proses ”pintar” lintas disiplin dan melibatkan berbagai pakar, ahli, cendekiawan. Namun ketika sebuah implementasi kebijakan mengalami ketidaksesuaian atau kemacetan fungsi operasionalnya, apakah segera akan dilakukan revisi dan perbaikan? (jawab sendiri). Misalnya ketika kebijakan konversi minyak tanah ke gas alam, banyak temuan di lapangan yang mengarah pada ketidaksesuaian harapan dari kenyataan, antara lain:
1) ketidaktepatan sasaran;
2) distribusi yang tidak merata;
3) ketidaksiapan pelaksana;
4) munculnya mafia-mafia dan oportunis kecil yang memanfaatkan dan mengail di air keruh;
5) ketidakmampuan masyarakat karena daya beli yang rendah, dan sebagainya.

Ternyata tidak sedikit masyarakat (kecil) yang tersaruk-saruk terjegal kebijakan ini.

Pertanyaan selanjutnya adalah apakah benar kebijakan tersebut adalah murni untuk mensejahterakan rakyat atau hanya untuk kepentingan industri semata? Bisa kita saksikan, proses pilkada di seluruh kabupaten dan kota yang menyerupai perhelatan super akbar dan menghabiskan biaya yang amat fantastis. Coba kita jawab dengan jujur, apakah ini cuklup ”fair” sementara masih begitu banyak kepentingan rakyat kecil yang minim alokasi anggaran... Inikah buah dari kebijakan otonomi daerah??? Naif betul rasanya.

Sistem pendidikan yang kian hari kian menunjukkan wajah buramnya membuat kita terhenyak dalam keprihatinan. Mahasiswa yang lebih suka menggunakan ototnya daripada otaknya, bangunan sekolah di berbagai pelosok yang lebih mirip kandang sapi daripada sebuah kelas untuk belajar. Uang pembangunan gedung sebagai syarat diterima sebuah sekolah yang makin jauh dari jangkauan orang kebanyakan. Belum lagi konflik horisontal antara kelompok vs golongan, konflik vertikal antara pedagang dan aparat yang membuat hati ini teriris perih, inikah wajah bangsaku. Dalam dunia legilatif berlaku prinsip 5 D, datang, duduk, diam, delak-delok......, duiiit, itupun jika mereka datang semua, karena dari semua anggota dewan, yang hadir lebih sering kurang dari separuh.

Parlemen amat sangat rawan kasus-kasus politik uang. Dari kasus suap, biaya pembahasan RUU, ijazah palsu, perizinan logging, sampai kasus skandal sex yang memalukan, duuh...duuuh...duuuuuh... apa iiyaaa mereka mewakili kita??? Rakyat sering cemas, was-was dan ketakutan terhadap merebaknya tindak kriminal, terorisme, dan fanatisme berlebihan yang berpotensi terjadinya kerusuhan yang berbau SARA. Sementara itu persaingan bisnis yang tidak sehat bahkan monopoli, apalagi ketika hukum tidak ditegakkan, orientasi maksimalisasi profit mendorong munculnya praktik bisnis yang ilegal atau tidak memperhatikan nilai keadilan Dalam situasi tersebut, penggusuran terhadap pusat-pusat ekonomi rakyat dihalalkan demi menciptakan pasar-pasar baru yang lebih efisien dan efektif. Konsekuensinya, masyarakat kehilangan daya tawarnya.

Dari kacamata sosial budaya meningkatnya eksploitasi terhadap konsumen dengan sistem ekonomi kapitalis yang tidak sempurna ini menyebabkan: pertama) kesejahteraan masyarakat luas tidak lagi menjadi prioritas utama. Kedua) munculnya konsumerisme. Ketiga) terjadinya praktik monopoli dan kolusi. Ketergantungan masyarakat terhadap produk-produk konsumtif tersebut cepat atau lambat berakibat pada merebaknya kejahatan sosial seperti judi, miras, prostitusi, narkoba, dan HIV/AIDS. Hal ini menjadi pemicu paling kuat dan meledaknya kekerasan yang memerosotkan penghargaan akan nilai-nilai kemanusiaan. Padahal kemerosotan dan etika menunjukkan bagaimana hati nurani telah dimatikan seperti ditemukan dalam berbagai dampak negatif, globalisasi dan kemajuan teknologi. Iklim tersebut lambat laun menyebabkan memudarnya akar budaya, sejarah dan nilai-nilai yang dimiliki hingga masyarakat kehilangan bentuk interaksi sosial yang dibangun atas dasar saling percaya. Pada akhirnya masyarakat cenderung bersikap apatis terhadap realitas sosial yang terjadi, sejauh tidak bersinggungan dengan kepentingan mereka.

Sebaliknya masyarakat cenderung menjadi reaktif dan berpotensi melakukan kekerasan, jika merasa kepentingan hidup mereka dipermainkan dan terancam. Jika sudah begini, apakah masih bisa berharap pada predikat masyarakat kita yang dulu katanya terkenal santun, ramah, dan murah senyum??? Wallahualam… Mudah-mudahan masih.

Masih ada keyakinan dalam diri atas cinta negeri tanah tumpah darah ini meski seringkali lungkrah tertatih menapaki realita dari waktu ke waktu. Ingin hati mencintaimu tanpa syarat sebagai darma bhakti putra pertiwi, namun apa lacur hati ini jujur sesambat… lelah… lelaaaahh… meski masih tetap ada dorongan kuat untuk tidak sampai jatuh dalam sebuah pengkhianatan Ooh… rakyat yang semaput … Ooh… petinggi korup yang tidak patut Ooh… orang kaya yang bisanya cuma kentut Ooh… pemimpin yang seperti siput Ooh… anak terlantar yang sering sakit perut Ooh… golongan mapan yang pengecut Ooh… orang-orang jompo yang keriput Ooh… ABG imut yang gampang kepincut Ooh… tante-tante yang lebih suka menata rambut Ooh… wakil rakyat yang bisanya cuma jadi badut Ooh… penegak hukum berperangai celurut Ooh… preman-preman yang suka bikin ribut Ooh… negeri yang mowat mawut… Ooh...Minyak tanah yang bikin kusut Ooh… suara hati yang ngelangut Oooooooh…parasku yang seperti …paaaaruuut… Lelah Mencintaimu Indonesiakuuuu..

"Israel, Berhentilah Berlagak Menjadi Korban"

 Dalam bukunya "They Dare to Speak Out" yang diterbitkanpada
1985, mantan anggota Kongres, Paul Findley, mengungkapkan betapakuatnya
cengkeraman lobi Yahudi dan Israel di Amerika Serikat, terutamadalam
masalah Timur Tengah, sehingga orang Amerika atau Barat yangberani
mengkritik Israel dicap sebagai anti Yahudi dan pendukung Nazi.

Findley mengungkapkan, orang-orang kritis yang posisinya lemah
telahdiintimidasi dan disingkirkan, sementara yang lebih kuat
diasingkanuntuk kemudian dimiskinkan secara politik dan ekonomi,
dideskreditkanoleh media massa, bahkan dilenyapkan sama sekali.

Senator Joseph Raymond McCarthy dari Partai Republik adalah salahseorang
korbannya. Dia diasingkan dari ranah politik AS dandideskreditkan oleh
media massa sebagai komunis, bahkan penyebabkematiannya pun tidak jelas.

Kini, setelah agresi Israel ke Gaza, sebagian orang Amerika dan
Baratmulai mengeluarkan kritik tajam pada Israel, bahkan
beberapadiantaranya cenderung anti Yahudi.

Di Yunani, pada 29 Desember, Harian Avriani mengaitkan Perang Gazadengan
lobi Yahudi, "Setelah Yahudi Amerika menguasai kembali
(sistem)kemakmuran dunia dan menenggelamkan dunia dalam satu krisis
keuanganyang tak pernah terjadi sebelumnya, mereka mulai berlatih
untuk(persiapan) Perang Dunia Ketiga."

Sementara itu, di Italia, asosiasi dagang bernama Flacia-Uniti
menyeruwarga kota Roma untuk memboikot segala produk usaha buatan
komunitasYahudi.

"Kami tidak bisa terus diam terhadap apa yang sedang terjadi di
Gaza.Kami telah membuat daftar pengusaha (Roma) yang berhubungan dengan
TelAviv karena rakyat (Italia) tidak tahu siapa mereka," kata
GiancarloDesiderati, otak dibalik prakarsa boikot itu.

Di AS, suara kritis terhadap Israel menyalak, bukan hanya dariketurunan
Arab, tapi juga non Arab yang muak pada eksploitasi nasibburuk Israel di
masa pasca Perang Dunia Kedua, demi membenarkanserangan kejinya ke
Palestina.

Salah seorang warga AS yang mengkritik Israel adalah aktor,
sastrawan,sosiolog, dan pengarang buku terkenal "The Pursuit of
Loneliness,"Philip Slater.

Dalam Huffington Post edisi 6 Januari 2009 yang dipublikasikan
lagiMiddle East Times pada 19 Januari, Philip menyampaikan opini
berjudul,"A Message to Israel: Time to Stop Playing the Victim Role."

Berikut adalah terjemahan artikel Philip.

Di awal tulisannya, Philip menyatakan dia tak bisa memahami Israel
yangselama ini dibela bangsanya, berubah menjadi agresor dengan masih
sajamendramatisir nasibnya di masa lalu sebagai korban permusuhan Arab.

"Kalian tak perlu lagi pura-pura menjadi korban. 'Israel yang
malang'terdengar aneh manakala kalian justru menjadi kekuatan dominan di
TimurTengah," kata Philip.

Saat kalian menduduki beberapa tetanggamu, membom dan menaklukannya
dimedan perang, menguasai tanah mereka, dan mengusirnya dari
rumah-rumahmereka, maka saatnya untuk berhenti berpura-pura tertindas.

Ya benar, negara-negara Arab menolak keberadaanmu, mengancam
akanmembuang kalian ke laut, dan semua itu retorika palsu. Faktanya
adalahkalian kuat, mereka (Arab) tidak. Kalian punya senjata canggih,
merekatidak. Kalian bersenjata nuklir, mereka tidak. Jadi
berhentilahbersikap cengeng. Itu tak laku lagi.

Ya, saya tahu, kami rakyat Amerika mesti berbicara dan selalu
bergetarsaat mendengar nama teroris, "negara brandal" dan "kekaisaran
iblis"saat kami memiliki cukup nuklir untuk meledakkan dunia dan
berbelanjasenjata lebih besar dari negara manapun. Tetapi, hanya karena
kamihipokrit dan gelisah, tidak berarti kalian harus seperti kami.

Philip berkata, menyebut Hamas agresor sungguh tidak pantas karenaJalur
Gaza lebih dari sebuah kamp konsentrasi besar Israel dimana
wargaPalestina diserang semau Israel dan harus menderita kesulitan
makan,bahan bakar, energi, bahkan suplai obat-obatan.

"Mereka tidak bisa berkeliaran dan mesti membuat terowongan
untukmenyelundupkan kebutuhan hidup sehari-harinya. Mereka tak akan
kalianperhatikan jika tidak menembakkan roket-roketnya pada kalian."

Philip menulis, lobi Israel bereaksi sejadi-jadinya manakala
merekadituduh mengadopsi metodologi Nazi yang telah menyiksa mereka,
untukmenghukum sebuah bangsa dengan menyerang bagian kecil bangsa itu
dansecara konsisten dilakukannya di Gaza.

Israel, demikian Philip, telah melanggar hukum internasional,
sebuahhukum yang ironisnya pernah diterapkan untuk mengadili praktik
kejiyang dilakukan Nazi kepada bangsa Yahudi semasa Perang Dunia Kedua.

"Ayolah, pisahkan kami dari kemunafikan dengan mengatakan setiap
upayaIsrael adalah demi mencegah korban sipil. Saat kalian
menjatuhkanbom-bom di satu kota padat penduduk, kalian membom peradaban.
Bom takpernah bertanya apa KTPmu.

Bom adalah pembunuh rakyat sipil. Bom-bom dirancang untuk
menjatuhkansemangat sebuah bangsa dengan membantai keluarga-keluarga.
Bomdigunakan selama Perang Dunia Kedua oleh semua pihak dengan
tujuanmeruntuhkan semangat bangsa. Dan ini pula yang dilakukan di Gaza.

Ayolah Israel, cobalah tahan diri kalian untuk tak berkilah
denganargumen menyesatkan yang dipinjam dari Bush, bahwa para pemimpin
Hamasbersembunyi di tengah rakyatnya, meninggalkan rumah-rumah mereka.

Yang sesungguhnya terjadi adalah Israel ingin menggiring mereka
ketempat-tempat yang tidak ada penduduknya, padahal tak ada satu
punlahan kosong penduduk dan pemukiman di Gaza. Jadinya, para
pejuangHamas bolak balik di daerah padat penduduk itu."

Philip melanjutkan, Israel telah membom tiga sekolah PBB dan
membunuhlusinan anak-anak serta orang dewasa, meskipun faktanya PBB
memberikalian koordinat semua sekolahnya di Gaza agar sekolah-sekolah
itutidak menjadi sasaran pemboman karena PBB ingin mencegah
jatuhnyakorban sipil dengan tanda itu sehingga kalian tak mungkin
membomnya.Alih-alih Israel membom sekolah-sekolah itu.

"Tampaknya kalian merasa bisa membunuh siapapun, kapanpun dan
dimanapunkalian suka, hanya karena kalian mendapat restu dari Amerika
Serikat,"kata Phiilip.

Setiap hari serangan yang dilancarkan ke Pelestina, kalian
semakinterlihat melecehkan PBB, masyarakat internasional dan hidup
manusia.Persis prilaku negara berandal.

Kalian mungkin juga memberi perhatian pada fakta bahwa kebijakan
kunokalian yang sok jagoan --kebijakan yang kalian
lakukanberdekade-dekade-- tidak berhasil!

Bangsa Palestina itu manusia. Mereka bukan anjing yang bisa
kalianperintah. Makin buruk kalian perlakukan mereka, makin ingin
merekamelawanmu. Itulah arti menjadi manusia. Semakin keras kalian
tindas,semakin kuat mereka melawan.

Kami (AS) pernah membom Vietnam dengan jumlah lebih banyak dari
seluruhbom yang dijatuhkan selama Perang Dunia Kedua. Itu belum termasuk
bomnapalm (bom curah), herbisida (bom biologi) dan semua jenis
ranjaudarat canggih. Tapi, apakah mereka (bangsa Vietnam) lantas
bersujud danmencium lutut penjajahnya? Tidak, mereka pantang tunduk.

Kalian mesti membunuh mereka semua. Dan saat kalian melakukan itu,kalian
akhirnya tidak akan lagi didukung siapapun, bahkan AmerikaSerikat.

Ingatlah, bahwa dukungan Amerika kepada kalian seluruhnya didasarkanpada
gagasan bahwa tidak ada satu pun politisi (AS) memenangkan pemilutanpa
dukungan suara Yahudi.

Tapi tak semua Yahudi Amerika berpikir Israel mengemban misi agung
dariTuhan. Banyak warga Yahudi Amerika lebih mempercayai hukum dan
keadilaninternasional.

Saya bisa mengerti Israel jengkel mendapat pelajaran seperti ini
dariseorang Amerika. Tapi bukankah ini yang telah kami orang
Amerikalakukan? Mendatangi negara orang lain, membantai 95% penduduknya
untukkemudian mengambilalihnya?

Ketika yang dirampas tanahnya serentak melawan, agresor (Israel ditanah
Arab) panik dan segera menyebut agresinya ke tanah orang lain itusah
meskipun dengan melakukan pembantaian genosidal.

"Mohon maaf saya mesti katakan padamu wahai Israel, kalian
ketinggalanzaman. Alasan genosida tidak lagi laku. Saya tahu ini tak
adil, kalianmemiliki hak untuk tersinggung dengan semua ini, namun dunia
itusemakin kecil, gaya koboy itu sudah kuno, dan para algojo tidak
lagimenjadi pahlawan," kata Philip menutup tulisannya.

Thu, 22 Jan 2009 03:54:27 -0800 "Bukan Pemimpin Arab, Tapi Pemimpin Sosialis"

Kota Bire, sebuah daerah di Lebanon Utara, terdapat sebuah nama jalan
yang bernama "Hugo Chaves Frias", nama presiden Venezuela yang baru
saja menendang keluar duta besar Israel sebagai bentuk solidaritasnya
terhadap penduduk Gaza. Bahkan, penduduk kota itu memasang poster,
menulis di tembok-tembok, bahkan banyak yang menamai anaknya baru
lahir dengan nama "Chavez", karena keberanian presiden sosialis ini
mengutuk Imperialisme AS dan Israel. Pada tahun 2006, sosok Chaves
sudah dielu-elukan Syeh Hassan Nasrallah, Pemimpin Hezboullah, sebagai
tipe pemimpin yang berani dan disegani dunia islam.


Bukan itu saja, gelombang demonstrasi di berbagai pelosok timur
tengah, setelah menunaikan Sholat Jum'at, membawa poster-poster Hugo
Chaves yang disandingkan dengan pemimpin Hezboullah, Hassan Nasrallah,
dan symbol-simbol Hamas. Deputi kementerian luar negeri Hamas sendiri
sudah mengirimkan surat kepada presiden Chaves atas komitmennya yang
tinggi kepada kemanusiaan, sesuatu yang tak dimiliki pemerintahan di
dunia Arab. Tindakan Chaves dan rakyat Venezuela, yang kemudian juga
dilakukan Mauritania, telah melambungkan politiknya sebagai "pahlawan
Palestina".

Politik Pemimpin Arab

Secara umum, pendirian politik pemimpin Arab sebenarnya cukup beragam,
tetapi mereka dipersatukan oleh keadaan bahwa mereka begitu loyal
kepada AS. Setelah kejatuhan Saddam Husein, boleh dikatakan tidak ada
lagi pemimpin Arab yang berani berseberangan dengan politik AS. Hanya
Iran dan pemimpinnya Ahmadinejad sebagai pengecualian terhadap
kesimpulan diatas.

AS punya kepentingan besar untung mengontrol timur tengah. Terutama
dalam mengontrol politik minyak Negara-negara Arab agar patuh pada
kebutuhan AS. Dalam sekejap, AS akan bereaksi terhadap kemunculan
rejim-rejim nasionalis yang mengganjal kepentingannya, seperti yang
ditunjukkan kepada Saddam Husein, dan kini kepada Ahmadinejad.

Menurut Gilbert Achcar, AS berada dibalik agresi AS ke Gaza. Hamas
merupakan sekutu potensial bagi Iran, selain Hisboullah di Lebanon.
Beberapa tahun terakhir, analisis pertahanan AS sudah menganggap bahwa
Iran merupakan ancaman terhadap dominasi AS di timur tengah. Sehingga,
segala macam cara ditempuh untuk mengisolasi Iran, dan sekaligus
memberi contoh kepada pemimpin-pemimpin Arab yang berani "membandel".
Kemenangan hamas sendiri bukan saja dimotivasi oleh sikap mereka yang
tegas menentang pendudukan Israel, tetapi tapi karena program Hamas
berupa pemerintahan yang jujur, efektif dan bersih, serta perbaikan
layanan sosial (Alan Nasser). Di bawah Fatah, gaza merupakan salah
satu teritori di Palestina yang menghambat neoliberalisme. Di Irak,
perlawanan terhadap agresi AS masih berlansung sepanjang hari, bahkan
pemerintahan boneka yang baru terbentuk tidak dapat mendapat
legitimasi dari rakyat Irak.

Diluar Iran dan faksi atau group-group bersenjata yang terlahir karena
intervensi imperialisme yang ganas, pada umumnya rejim-rejim yang
berkuasa didukung oleh Imperialisme AS. Seperti yang disebutkan Tariq
Ali, pertama kali AS mendukung rejim-rejim fundamentalis islam pada
masa perang dingin, tujuannya memperlebar front melawan blok sosialis
(Uni Sovyet). Monarki di Arab Saudi yang didirikan oleh kaum Wahabi
sebetulnya didukung oleh AS. Demikian pula dengan rejim Husni Mubarak
di Mesir, maupun rejim di Yordania, Syria, dan negeri-negeri arab
lainnya. Bahkan Mesir sangat dipersalahkan karena menutup
perbatasannya sepanjang 14 kilometer sehingga mempersulit bantuan
masyarakat internasional masuk ke Gaza.

Liga Arab sendiri tidak bisa menutupi perseteruan interen anggotanya
antara yang terbuka mendukung AS dengan yang bersikap moderat.
Beberapa kali pertemuan Liga Arab mengalami pembatalan karena
ketidakrukunan diantara mereka sendiri.

Keberanian Pemimpin Sosialis

Pemimpin Sosialis kini semakin menunjukkan pesonanya di mata dunia
Islam. Dalam aksi menentang serbuan Israel ke Lebanon selatan di Gaza
dan Ramallah, poster-poster Chaves bersanding dengan foto Arafat dan
Che Guevara. Dalam surat terbuka Dr Ahmed Yousef, mantan penasihat
politik Ismail Haniya, dijelaskan bagaimana penghargaan masyarakat
Gaza dan Hamas atas keberanian Chaves dan konsistensinya dalam
menantang imperialisme, termasuk Israel dan AS. Selain Chaves, Kuba
dan Bolivia juga mengikuti langkah radikal Venezuela terhadap Israel.
Kuba malah menuduh Israel telah melakukan genosida.

Ketika mengusir dubes Israel, Chaves mengungkapkan bahwa tindakan
Israel menggempur Gaza adalah pelanggaran berat terhadap hukum
internasional dan salah satu bentuk "terorisme Negara". Chaves menuduh
AS berada di belakang Israel, karena memang Israel merupakan sekutu
strategis AS di kawasan timur tengah. Setiap tahunnya pemerintah AS
memberi dana 4 milyar USD kepada Israel sebagai bantuan militer.
Selain itu, Chaves menuntut supaya PM Israel, Ehud Omert, diseret ke
mahkamah criminal internasional karena kejatahan kemanusiaan terhadap
warga Palestina.

Mohammed al-Lahham, seorang pejabat dari fatah, mengatakan Chaves
adalah symbol perjuangan untuk pembebasan, seperti Che Guevara. Ini
membedakannya dengan presiden lain dari dunia manapun. "saya ingin
memberikan Chaves paspor sehingga ia dapat menjadi warga Palestina.
Kemudian kami memilih dia menjadi presiden Palestina," Mahmud Zwahreh,
walikota Al-Masar, dekat kota Bethlehem.

Selain Chaves, Evo Morales juga menunjukkan sikap yang sama. Morales
malah menyerukan untuk melakukan perombakan terhadap PBB, karena
ketidakmampuan lembaga ini mengakhiri kebrutalan Israel.

Venezuela, Kuba, dan Bolivia sedang berada di garis depan perjuangan
anti-imperialisme. Solidaritas terhadap Palestina, bagi pemerintahan
sosialis, merupakan bagian dari strategi anti-imperialisme. Ketiga
Negara yang disebutkan diatas juga sedang mengupayakan integrasi
regional, dan penciptaan blok kerjasama baru berdasarkan kerjasama
yang setara dan solidaritas. Di forum-forum internasional, ketiga
Negara juga melancarkan kritikan keras terhadap dominasi AS dan system
kapitalisme-neoliberalnya.

Konsekuensi

Agresi brutal Israel ke wilayah Gaza sekarang ini, maupun agresi
militer AS ke Irak, telah memupuk sentimen anti-imperialisme di
wilayah ini. beberapa kelompok perlawanan merasa dipersatukan oleh
perlawanan terhadap invasi Amerika Serikat dan kolonialisme Zionis di
wilayah tersebut. Sikap diam dan kompromi sejumlah pemimpin Arab pada
saat agresi Israel ke Lebanon, kemudian serangan brutal Israel kepada
Hamas di Gaza, telah menanamkan kesadaran baru bahwa perjuangan
melawan AS dan zionisme perlu dipararelkan dengan perjuangan
menghadapi rejim lokal yang menjadi sekutu AS ( Arab Saudi, Mesir,
Yordania, dll).

Timur tengah telah menjadi objek utama dari doktrin "perang permanent"
Bush. Melalui perang terhadap terorisme, seperti juga diikuti oleh
retorika pejabat Israel, penggunaan kekerasan militer berjalan pararel
dengan kepentingan AS menjaga kepentingan bisnis dan korporasinya di
luar sana. Timur tengah yang kaya raya itu, terus –menerus bergolak
karena tangan-tangan imperialis yang hendak menundukkannya.

Kenyataan diatas telah melahirkan beberapa hal; pertama, bertemunya
sentiment anti amerika, ataupun gagasan anti kolonialisme Zionis,
dengan gagasan yang lebih progressif yaitu anti-imperialism. Beberapa
kelompok perlawanan telah menggabungkan gagasan ini menjadi satu misi.
Kedua, kejatuhan "pamor" rejim-rejim lokal di Arab, maupun
organisasi-organisasi yang mengklaim kepentingan rakyat di Jasirah
Arab, telah memupuk kesadaran rakyat di timur tengah untuk menerima
ide-ide politik dari dunia di luar Arab. Sebagai missal, hampir
seluruh dunia Arab kini memimpikan pemerintahan yang berani seperti
Chaves, setelah menemukan pemerintah nasionalnya "takluk" kepada
Israel. Ketiga, membanjirnya solidaritas yang dilakukan aktifis
perdamaian, aktifis anti perang, maupun gerakan sosialis di berbagai
belahan dunia, telah membuka mata masyarakat timur tengah bahwa tidak
semua orang di barat (non-islam) membenci mereka. Perlakuan
diskriminatif karena lemparan tuduhan sebagai teroris telah menjadikan
masyarakat muslim mendapat perlakuan rasial.

Tidak bisa dipungkiri, bahwa kepentingan para mullah dan tuan tanah
reaksioner yang selalu mendomplengi perjuangan anti amerika, ataupun
perjuangan anti-imperialisme merupakan tantangan perjuangan rakyat di
kawasan ini. Kekosongan partai revolusioner tentu menjadi kendala
lahirnya sebuah perjuangan anti-imperialisme yang kuat dan konsisten
di kawasan ini.