Mari tumpahkan air mata seluruh dunia Mari gelakkan tawa ke angkasa Menyentuh setiap hati dengan ujung penamu dan kelamin tintaku Akan ada banyak orang yang menunggu persenggamaan kita Mereka akan membentangkan kertas putih biru itu Ayolah,... ... ... ... ... ...
Senin, 18 Oktober 2010
Membangun Kembali Gerakan Mahasiswa
Minggu, 19 September 2010
Mimpi seorang mahasiswa tua
John Maxwell yang menyusun disertasinya, Soe Hok Gie - A Biography of A Young Indonesia Intellectual (Australian National University, 1997), menjabarkan betapa banyaknya komentar penting terhadap kematian Hok Gie. Harian Indonesia Raya yang masa itu sedang gencar-gencarnya mengupas kasus korupsi Pertamina-nya Ibnu Sutowo, memuat tulisan moratorium tentang Soe secara serial selama tiga hari.
Mingguan Bandung Mahasiswa Indonesia, mempersembahkan editorial khusus: ...Tanpa menuntut agar semua insan menjadi seorang Soe Hok-gie, kita hanya bisa berharap bahwa pemuda ini dapat menjadi model seorang pejuang tanpa pamrih ... kita membutuhkan orang seperti dia, sebagai lonceng peringatan yang bisa menegur kita manakala kita melakukan kesalahan.
Di luar negeri, berita kematian Soe sempat diucapkan Duta Besar RI Soedjatmoko, di dalam pertemuan The Asia Society in New York, sebagai berikut: ... Saya ingin menyampaikan penghormatan pada kenangan Soe Hok-gie, salah seorang intelektual yang paling dinamis dan menjanjikan dari generasi muda pasca kemerdekaan .... Komitmennya yang mutlak untuk modernisasi demokrasi, kejujurannya, kepercayaan dirinya yang teguh dalam perjuangan ... bagi saya ia memberikan suatu ilustrasi tentang adanya kemungkinan suatu tipe baru orang Indonesia, yang benar-benar asli orang Indonesia. Saya pikir pesan inilah yang telah disampaikannya kepada kita, dalam hidupnya yang singkat itu.
Kepada Ben Anderson, pakar politik Indonesia yang juga kawan lengket Soe, dalam salah satu surat terakhirnya, Soe menulis,... Saya merasa semua yang tertulis dalam artikel-artikel saya adalah sejumput petasan. Dan semuanya ingin saya isi dengan bom!
Dari cuplikan berbagai tulisan Soe, terasa sekali sikap dan pandangannya yang khas. Misalnya, Soe pernah menulis begini: Saya mimpi tentang sebuah dunia, di mana ulama - buruh - dan pemuda, bangkit dan berkata - stop semua kemunafikan, stop semua pembunuhan atas nama apa pun. Tak ada rasa benci pada siapa pun, agama apa pun, dan bangsa apa pun. Dan melupakan perang dan kebencian, dan hanya sibuk dengan pembangunan dunia yang lebih baik.
Khusus soal mahasiswa, menjelang lulus sebagai sejarawan, 13 Mei 1969, Soe sempat menulis artikel Mimpi-mimpi Terakhir Seorang Mahasiswa Tua. Dalam uraian tajam itu, ia menyatakan: ... Beberapa bulan lagi saya akan pergi dari dunia mahasiswa. Saya meninggalkan dengan hati berat dan tidak tenang. Masih terlalu banyak kaum munafik yang berkuasa. Orang yang pura-pura suci dan mengatasnamakan Tuhan ... Masih terlalu banyak mahasiswa yang bermental sok kuasa. Merintih kalau ditekan, tetapi menindas kalau berkuasa.
Saat dirinya masuk korps dosen FSUI, secara blak-blakan Soe mengungkap ada dosen yang membolos 50% dari jatah jam kuliahnya. Bahkan ada dosen menugaskan mahasiswa menerjemahkan buku. Terjemahan mahasiswa itu dipakainya sebagai bahan pengajaran, karena sang dosen ternyata tidak tahu berbahasa Inggris.
Masih di seputar mahasiswa, dalam nada getir, Soe menulis:... Hanya mereka yang berani menuntut haknya, pantas diberikan keadilan. Kalau mahasiswa Indonesia tidak berani menuntut haknya, biarlah mereka ditindas sampai akhir zaman oleh pemimpin-pemimpin korup mereka.
Khusus untuk wakil mahasiswa yang duduk dalam DPR Gotong Royong, Hok Gie sengaja mengirimkan benda peranti dandan. Sebuah sindiran supaya wakil mahasiswa itu nanti bisa tampil manis di mata pemerintah. Padahal wakil mahasiswa itu teman-temannya sendiri yang dijuluki "politisi berkartu mahasiswa". Langkah Soe ini membuat mereka terperangah. Sayangnya, momentum ini kandas. Soe Hok Gie keburu tewas tercekik gas beracun di Puncak Mahameru.
Berpolitik cuma sementara
John Maxwell dalam epilog naskah buku Mengenang Seorang Demonstran (November 1999), menulis begini, "Saya sadar telah menulis tentang seorang pemuda yang hidupnya berakhir tiba-tiba, dan terlalu dini dengan masa depan yang penuh dengan kemungkinan yang begitu luas."
Kita telah memperhatikan bagaimana Soe Hok Gie terpana politik dan peristiwa nasional, setidak-tidaknya sejak masih remaja belasan tahun ... namun hasratnya terhadap dunia politik, diredam oleh penilaiannya sendiri bahwa dunia politik itu pada dasarnya lumpur kotor. Semua orang seputar Soekarno dinilainya korup dan culas, sementara pimpinan partai dan politisi terkemuka, tidak lebih dari penjilat dan bermental "asal bapak senang", serta "yes men", atau sudah pasrah.
Pandangan ini menjadi latar belakang pembelaan Soe akan kekuatan moral dalam politik di awal tahun 1966. Keikutsertaannya dalam politik hanya untuk sementara. Pada pertengahan tahun yang sama, dia menyampaikan argumentasi bahwa sudah tiba saatnya bagi mahasiswa untuk mundur dari arena politik dan membiarkan politisi profesional bertugas, membangun kembali institusi politik bangsa." Demikian tulis Maxwell.
Soe memang sudah bersikap. Dia memilih mendaki gunung daripada ikut-ikutan berpolitik praktis. Dia memilih bersikap independen dan kritis dengan semangat bebas. Pikiran dan kritiknya tertuang begitu produktif dalam pelbagai artikel di media cetak. Namun secara diam-diam, Soe ternyata juga menumpahkan unek-uneknya dalam bentuk puisi indah. Salah satunya Mandalawangi-Pangrango yang terkenal di kalangan pendaki gunung.
Pemuda lajang yang sempat pacaran dengan beberapa gadis manis FSUI, selain kutu buku, macan mimbar diskusi, kambing gunung, tukang nonton film, juga penggemar berat folksong (meski sama sekali tak becus bernyanyi merdu). Berbadan kurus nyaris kerempeng, di gunung makannya gembul.
Bagi pemuda dan khususnya mahasiswa demonstran, masih ada potongan puisi Gie yang sempat tercecer, baru muncul di harian Sinar Harapan 18 Agustus 1973. Judulnya "Pesan" dan cukilan pentingnya berbunyi:
Hari ini aku lihat kembali
Wajah-wajah halus yang keras
Yang berbicara tentang kemerdekaaan
Dan demokrasi
Dan bercita-cita
Menggulingkan tiran
Aku mengenali mereka
yang tanpa tentara
mau berperang melawan diktator
dan yang tanpa uang
mau memberantas korupsi
Kawan-kawan
Kuberikan padamu cintaku
Dan maukah kau berjabat tangan
Selalu dalam hidup ini?
Yang jadi pertanyaan sekarang, masihkah ada Soe Hok Gie - Soe Hok Gie di era ini??? Ataukah harus dilupakan sama sekali???
Selasa, 16 Maret 2010
Sekilas perenungan menyoal nasib Gerakan Mahasiswa saat ini…

Senin, 15 Maret 2010
Sudah Saatnnya Kita koalisi!!!

"Waktu awal-awal kuliah dulu, saya pernah dapat sms dari seorang aktivis terkenal di kampus yang doyan demonstrasi dan berdebat. Dia bilang "Sudah sepatutnya kita jadi oposisi sejati!" Saya waktu itu sama sekali tidak mengerti. Dan saat inilah saya ingin merenungkan apa yang pernah ia sampaikan dulu."
Pelantikan SBY-Boediono mengundang banyak sikap skeptis sekaligus pesimis dari berbagai kalangan. Banyak aksi yang digelar untuk menolak dan mempertanyakan ulang roda pemeritahan yang akan berjalan ini. Belum selesai masalah pemilu yang dinilai kurang jurdil, kini masalah tidak adanya oposisi dalam pemerintahan menjadi kekhawatiran yang jauh lebih akut. Janji PDI-P dan Golkar ternyata cuma janji tinggal janji. Sesumbar mereka untuk untuk menjadi oposisi ketika tidak memenangi Pemilu nyatanya isapan jari tengah belaka. Rupanya kue-kue kekuasaan terlampau enak untuk dilewatkan, meskipun hanya dapat sedikit, yang penting kebagian. Sebab itulah, barangkali PDIP dan Golkar enggan jadi oposisi. Hal ini makin menandaskan bahwa banyak politisi pedagang sapi di kancah politik nasional kita.
Pada dasarnya, oposisi dalam pemerintahan bertujuan sebagai check and balance. Karena tentu saja rakyat tidak akan rela jika lembaga eksekutif bertindak semaunya tanpa ada kontrol yang kuat dari rakyat yang diwakili oleh DPR MPR. Lah, kalau lembaga legislatif adalah koalisi dari penguasa eksekutif, bagaimana proses cek and balance bisa terjadi? Ini sama saja dengan menyuruh seorang tukang tagih hutang, menagih seseorang tempat ia sering berhutang. Siapa yang akan ditagih duluan? Apakah ini bukan lawakan konyol?
Dengan tidak adanya oposisi, tentu saja pemerintahan ini akan di dominasi oleh eksekutif dan terjadi pelemahan terhadap peran dan fungsi dua lembaga lain dalam demokrasi Indonesia kini. Kesepakatan politik yang terjadi antara partai yang berkuasa dengan beberapa partai lain dalam menentukan komposisi pimpinan MPR dan DPR cukup membuat kita khawatir. Semua seakan bergabung dengan pemerintah, pun partai politik yang kalah dan pernah berencana sebagai oposisi ketika masa pemilu silam. Pemerintahan eksekutif akan semakin bebas bertindak semaunya. Maka segeralah negara ini akan kembali ke era Orba, di mana presiden dari Golkar, dan DPRnya juga orang Golkar, sebuah lelucon pahit yang tak layak ditertawakan. Jika kebebasan bertindak itu begitu besar tanpa ada kontrol yang kuat, indikasi akan adanya rezim diktator untuk Indonesia tak pelak mendapat lampu hijau. Sepertinya negara ini memang akan dijadikan lahan basah untuk menyemai bibit-bibit kediktatoran.
Sebagai kelas menegah yang (jika) tidak ingin menjadi menara gading, secara ideal, mahasiswa memang harus menempatkan diri pada ranah oposisi nonstruktural yang bisa menjadi kontrol untuk keberlangsungan pemerintahan agar roda pemerintahan berjalan selayaknya.
Belakangan ini, mahasiswa sepertinya mulai melakukan aksi-aksi lagi. Meski kita susah mengindikasikan bahwa aksi ini adalah aksi-aksi monumental yang barangkali akan bertahan lama atau mungkin seperti biasa, tergerus isyu lain yang begitu cepat bergulir. Kita tunggu saja berita di tv, sebab sepertinya rezim SBY sebelumnya begitu pandai memainkan media. Masih ingat isyu BBM, Pemilu tak Jurdil, begitu cepat beriringan dengan isyu Teroris, penyakit menular dan kawin cerai artis? Mari kita ikuti bersama apakah isyu yang dibawa mahasiswa ini akan tetap sebagai isyu mayor ataukah isyu sementara yang akan cepat digilas. Tentu saja ini terpengaruh juga oleh konsistensi mahasiswa untuk mempertahankan muatan isyu yang mereka usung.
Pada hemat saya, ada tiga golongan mahasiswa yang melakukan aksi ini. Golongan pertama adalah golongan yang hanya melakukan aksi untuk menolak atau mendukung salah satu kandidiat, merasa tidak puas dengan rezim yang terpilih dan memilih untuk menolak sebab jagoannya kalah. Golongan kedua adalah golongan netral yang hanya menilik pemerintahan secara proporsional, bahwa harus ada oposisi dalam pemerintahan, kalau tidak ada, maka mereka siap jadi oposisi berserak. Yang ketiga adalah golongan yang bersikap ekstrem menolak pemilu dengan alasan-alasan tertentu (rezim ini terlalu liberal, rezim ini tak adil, rezim ini kebanyakan dosa, dll). Ada persamaan antara tiga golongan ini, meskipun pada esensisnya sungguh sangat jauh berbeda. Pandangan mengenai situasi nasional yang sungguh sedang tidak ideal dan menginginkan perubahan adalah pandangan sejenis yang barangkali menjadi tema besar bersama, sebagai tolok ukur untuk bangkit berbareng melawan.
Barangkali banyak yang pesimis, dan bahwa revolusi memang tidak harus berdarah-darah dan merubah total segalanya, kita tidak pernah bisa menyimpulkan secara sepihak pendapat ini. Namun yang paling penting saat ini adalah, menjaga dan mengawal sikap oposisi secara bersama-sama. Mahasiswa bukanlah kelas malaikat yang bisa selalu kita baptis sebagai kontrol yang kuat. Sebab penghianatan terhadap rakyat bukan saja datang dari parpol atau politisi, namun juga gerakan mahasiswa dengan orientasi kekuasaan beberapa di antaranya yang memang menjadi anak emas partai politik. Artinya, tanpa menegsampingkan sejarah gemilang sekaligus kelam mahasiswa, kerjasama beberapa item nasional mutlak dibutuhkan untuk mendatangkan kekuatan berlipat ganda guna mempercepat perbaikan bangsa. Gerakan ektraparlementer, sebagai gerakan oposan tentu saja perlu dikobarkan kembali, jika mahasiswa lengah, gerkan pemuda lengah, rakyat yang lain lengah, maka kebangkitan rezim diktator akan segera terjadi dan saat masa itu tiba, akan lebih sulit lagi bagi kita untuk memperjuangkan apa yang menjadi hak rakyat.
Kalau partai politik yang menempati jabatan eksekutif dan legislatif sudah melakukan koalisi yang massif untuk saling mendukung, maka tentu saja penghianatan terhadap trias polica sungguh nyata telah terjadi di depan kepala kita. Sebab itulah, kekuatan koalisi non parlementer juga sangat dibutuhkan. Buruh tak lagi harus sendiri melakukan aksinya, petani dan mahasiswa tak mesti harus berbeda barisan, pengamen dan gerakan pemuda tidak mesti saling mengedepankan idealisme masing-masing. Sebab idiogi bersama saat ini adalah idiologi untuk melawan ketertindasan, bukan Marxis Leninis, bukan Pacasialais bukan pula Islamis, melainkan secara Nasional Demokrasi Kerakyatan. Caranya? Tentu saja dengan melakukan gerakan ekstra parlementer, melakukan advokasi, pembangunan opini, pendampingan masyarakat, menggalang dukungan non mahasiswa dan penguatan barisan nasional yang kokoh, juga penegakan pilar keempat demokrasi yaitu lembaga-lembaga pers yang pro rakyat. Sehingga oposisi kita adalah oposisi koalisi yang kuat. Oposisi ekstra parlementer adalah oposisi tanpa hasrat berkuasa.
Kalau Marx pernah bilang "buruh sedunia bersatulah!", maka saatnya kita berbisik dari telinga ke telinga, "Hey... mahasiswa, buruh, petani, pengamen, pemuda, golongan tua, agamawan, pengusa, LSM dan siapa saja, ayo kita koalisi buat menyaingi kolasi mereka. Kita telah ditipu oleh politis yang doyan jualan sapi!"