Tampilkan postingan dengan label red rebel buletin. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label red rebel buletin. Tampilkan semua postingan

Senin, 18 Oktober 2010

Membangun Kembali Gerakan Mahasiswa

“Bagiku perjuangan harus tetap ada. Usaha penghapusan terhadap kedegilan, terhadap pengkhianatan, terhadap segala-gala yang non humanis...” (GIE)

Sejarah telah mencatat pergerakan mahasiswa setiap dekade zaman selalu dilekati karakteristik dan tantangan yang berbeda-beda. Ini terlihat pada masing-masing zaman yang selalu menampilkan figur, isu, problem yang berbeda. Menarik benang example, pergerakan mahasiswa Angkatan 66 membumikan isu otoritarian state dengan ‘Ikon tritura’. Angkatan 74 (Malari) mengusung isu NKK/BKK dengan ‘Ikon otonomisasi’. Angkatan 78 mengangkat isu perlunya merealisasi demokrasi, transparansi, akuntabilitas, bahkan pelaksanaan pancasila dan UUD 1945 secara murni dan konsekuen dengan ‘Ikon menolak Soeharto sebagai calon presiden’ (Demokrasi Suatu Keharusan, Anwari WMK, 2004). Angkatan 98 mengumbar isu reformasi dengan ‘Ikon enam visi reformasi’. Angkatan 2001 dengan isu reformasi jilid 2 berikon ‘Demokratisasi’. Akankah, angkatan 2010 harus mengusung isu revolusi dengan ‘Ikon Cut Generation (potong generasi) ?...

Power pergerakan mahsiswa, terdeskripsi sungguh menakjubkan. Membukakan memori kita pada tesis filsuf Hanna Arendt ‘The Human Condition’ (New York 1956) bahwa instrumentalisasi dan degradasi politik takkan pernah berhasil membungkam pergerakan atau menghancurkan realitas masalah-masalah kemanusian terbukti dalam setiap gelombang pergerakan mahasiswa tiap-tiap angkatan. Hal itu juga, lantaran gerakan mahasiswa terbangun diatas etika no blesse oblige (Burhan D. Magenda, 1997) yang didefinisikan suatu previlese atau etika yang terbangun atas dasar semangat militansi dalam memperjuangkan kepentingan rakyat.

Menggali alasan lain penyebab tumbuhnya kepekaan mahasiswa terhadap persoalan yang bertitik fokus pada perjuangan membela kepentingan rakyat. Menurut Arbi Sanit (1985) lima hal yang melatar belakanginya.

Pertama, mahasiswa sebagai kelompok masyarakat yang memperoleh pendidikan terbaik memiliki persepektif atau pandangan yang cukup luas untuk dapat bergerak di semua lapisan masyarakat.

Kedua, mahasiswa sebagai golongan yang cukup lama bergelut dengan dunia akademis dan telah mengalami proses sosialisasi politik terpanjang di antara generasi muda.

Ketiga, kehidupan kampus membentuk gaya hidup unik di kalangan mahasiswa, dan terjadi akulturasi sosial budaya tinggi di antara mereka.
Keempat, mahasiswa sebagai golongan yang akan memasuki lapisan atas dari susunan kekuasan, struktur ekonomi, dan memiliki keistimewaan tertentu dalam masyarakat sebagai kelompok elit di kalangan kaum muda.

Kelima, mahasiswa rentan terlibat dalam pemikiran, perbincangan, dan penelitian pelbagai masalah yang timbul di tengah kerumunan masyarakat, memungkinkan mereka tampil dalam forum yang kemudian mengangkatnya ke jenjang karier sesuai dengan keahliannya.

Rapor Merah Gerakan Mahasiswa

Ralita membahasakan 'reformasi jalan ditempat'. Artinya, mahasiswa gagal dalam mengisi dan mengawal reformasi. Padahal, daya dobrak Gerakan mahasiswa 1998 yang berhasil menggulingkan rezim Orde Baru merupakan momen penting sebagai starting point dalam rangka menyelamatkan bangsa dalam kondisi sedang sekarat. Pada kenyataan, mahasiswa lengah dan membuang kesempatan tersebut

Fenomena pergerakan melempemnya pergerakan mahasiswa pasca reformasi seolah kehingan roh merupakan rapor merah yang harus dihitamkan. Menurut hemat penulis, terdapat beberapa akar penyebab gerakan mahasiswa pasca reformasi kehilangan vitalitas perjuangan.

Pertama, terjadinya fragmentasi (perpecahan) intern dalam gerakan mahasiswa. Menurut Dr. Alfian, Seorang peneliti katalis menyebutkan bahwa salah satu penyebab terjadinya problema dalam pergerakan mahasiswa adalah fragmentasi lantaran prinsip ideologi yang menancap pada sekelompok mahasiswa yang condong mengarah pada “perbedaan Idealisme” sehingga mengerucut menjadi perpecahan dalam pergerakan.

Kedua, muncul kelompok mahasiswa oportunis, sehingga posisi mahasiswa dimanfaatkan untuk kepentingan kelompok/individu tertentu. Gejala ini, terlihat pada isu terbaru yang mengatakan gerakan mahasiswa ---antimiliterisme, anti Orde Baru, anti pelanggar HAM atau anti yang lainnya --- ditunggangi kelompok tertentu. Padahal gerakan mahasiswa harus independen dan kudu konsisten dengan gerakan moral. Perihal inilah, membuat lemahnya pergerakan mahasiswa hari ini.

Ketiga, apatisme kebanyakkan mahasiswa akan posisi dan peranya sebagai agent of change (agen perubah), moral force (kekuatan moral) dan iron stock (perangkat keras) suatu bangsa. Di tambah dengan sekelompok Mahasiswa melakukan pergerakan cenderung atas dasar kepentingan tertentu saja, problema ini membuat gerakan mahasiswa kehilangan roh dan mengalami dekadensi eksistensi di tengah masyarakat.

Pandangan miring terlihat dari pernyataan Misbah Shoim Haris (1997) dikutip dalam bukunya. "Namun, selama ini yang kita lihat, realitas tidaklah seindah bayangan (idealisme) kita. Masih terlalu banyak mahasiswa yang tidak tahu atau pura-pura tidak tahu tanggung jawabnya sebagai pengemban rakyat. Pandangan tersebut, tentunya berimplikasi pada posisi dan peran mahasiswa, sehingga eksistensi mahasiswa di mata masyarakat memudar."
(Buletin Red Rebel, Senin, 15 /03/07)

Rekonstruksi Soliditas Gerakan Mahasiswa

Mengutip pepatah para ilmuwan francis La Historie Se Pete (sejarah akan selalu berulang), mengoptimisisasi akan kembalinya roh pergerakan mahasiswa sebagaimana gerakan mahasiswa dekade sebelumnya . Adapaun lampu hijau yang harus ditempuh..

Pertama, membudayakan pemahaman sisi persamaan perjuangan dengan menerapkan sikap toleransi dalam perbedaan. Kedua, menjalin komunikasi antar sesama kelompok mahasiswa. Ketiga, meruntuhkan sikap saling curiga, dengki serta menepis jauh-jauh sikap high egoisme yang rentan menghinggapi mahasiswa. keempat, mengikis infantilisme (kekanak-kanakan) mahasiswa. kelima, membangun indepedensi pergerakan mahasiswa. Mengingat, mahasiswa adalah kelompok sejati, abadi, dan berada di barisan terdepan dalam jajaran generasi muda. keenam, membangun sikap kritis dan arif dalam memandang suatu permasalahan.

Mengevaluasi format pergerakan mahasiswa selama ini, cendrung stagnan, vakum dan mengalami fragmentasi. The big work (pekerjaan besar) mahasiswa hari ini adalah merekonstruksi soliditas pergerakan, memulai gerakan yang lebih sistematis dengan menepis fragmentasi wacana, menghindari fragmentasi gerakan, menuju sinergitas bersama. Sekaligus mengawasi dan mempresure siapa pun pemimpin bangsa Indenesia saat ini agar merealisasi enam visi reformasi yang pernah ditawarkan mahasiswa. Sebagai pertanggungjawaban mahasiswa yang telah berani memulai ‘Reformasi 1998’.

Bersimpul pada langkah dan tujuan pergerakan yang sama yaitu membawa bangsa ini keluar dari keterpurukan krisis multidimensi dan intimidasi kekuasan menuju titik Enlightment (pencerahan).

Jumat, 11 September 2009

SEMINAR: Intelektual Mahasiswa Bodoh…!!!

Beberapa bulan terakhir, sering kali emailku disinggahi oleh iklan – iklan tentang seminar. Banyak sekali teman – temanku yang berasal dari himpunan Mahasiswa, BEM, DPM, SEMA, DEMA dan berbagai rupa jubah organ intra dengan bangganya menyatakan.”eh himpunanku/Organku mau ngadain seminar lo”,atau”usul konkret,bagaimana kalau kita ngadain seminar agar rakyat tertolong”.

Terus terang,rasanya sungguh munafik bangga hanya dengan menyelenggarakan seminar. Lebih munafik lagi adalah menyatakan seminar dapat menolong rakyat. Hai teman,seminar – seminar atau apalah acara yang kau selenggarakan di gedung besar,dengan dasi,jas,dan coffee break itu hanyalah ungkapan kemandulanmu sebagai mahasiswa. Tidak perlu kau banggakan,dan tidak perlu juga kau bicarakan.

Ilmu apa yang sudah kau terapkan dengan menyelenggarakan seminar itu??Hai teman, ilmu yang kau dapatkan selama di kampus bukanlah ilmu untuk menjadi mc,untuk menjadi penerima tamu,ataukah ilmu untuk menjadi moderator. Ilmu yang kau dapatkan di kampus adalah ilmu alam yang diberikan Tuhanmu untuk kau sampaikan kepada umat-Nya. Jadi janganlah kau bangga dengan segelintir kepandaianmu menggunakan jas,dasi,atau sebagainya,sementara rakyat di luar sana menantikan uluran tanganmu.

Memang prestise kepanitiaan seminar dalam sebuah curriculum vitae lebih bergengsi daripada prestise partisipasimu dalam membantu rakyat. Tapi curriculum vitae hanya digunakan untuk mencari pekerjaan di dunia. Menyitir sebuah kalimat yang sering kali diucapkan temanku,”Tuhan tidak akan bertanya mana curriculum vitae mu,tapi Tuhan pasti akan bertanya sudahkan ilmu yang dititipkan-Nya padamu kau gunakan untuk umat-Nya”.

Ingat wahai teman,hidup ini tidak hanya di dunia saja.Kebanggaan hidup bukan saat kau memakai dasi dan jas yang menonjolkan gaya hidupmu. Gaya hidup bukan terlihat saat kau menikmati coffe break ataukah makan di hotel berbintang. Gaya hidup yang sejati adalah saat kau bisa menyatu dengan lingkungan sekitarmu. Lingkungan yang diberikan Tuhan padamu.

Wahai mahasiswa – mahasiswa hedonis, pernahkah engkau malu menggunakan dana puluhan juta rupiah dari para sponsor untuk makan2 di hotel berbintang, duduk – duduk di aula ber-ac atau malah tidur disana. Pernahkah saat itu kau memikirkan orang – orang menderita di pelosok Indonesia sana??

Sungguh ironis cermin mahasiswa Indonesia saat ini. Berkoar – koar di jalan membela rakyat,tapi di sisi lain bertipikal hedonis. Senang foya – foya menghamburkan uang yang seharusnya bisa digunakan untuk menolong rakyat. Menghabiskan listrik,BBM,atau uang hanya untuk pergiberdarmawisata sementara di sisi kiri kanan jalan yang dilalui terpampang realita bangsa saat ini.

Beginilah moral mahasiswa Indonesia yang sebenarnya, moral – moral munafik. Sama seperti pelajharan kemunafikan yang berbingkai Pancasila yang dipelajarinya. Pelajaran yang hanya mengandalkan imajinasi dan bukan realitas pribadi. Pelajaran yang hanya mengandalkan hitam di atas putih daripada realitas kebenaran hakiki.

Kuharap akupun tidak terjerumus ke dalam lembah amoral tersebut.