Minggu, 19 September 2010

Mimpi seorang mahasiswa tua

John Maxwell yang menyusun disertasinya, Soe Hok Gie - A Biography of A Young Indonesia Intellectual (Australian National University, 1997), menjabarkan betapa banyaknya komentar penting terhadap kematian Hok Gie. Harian Indonesia Raya yang masa itu sedang gencar-gencarnya mengupas kasus korupsi Pertamina-nya Ibnu Sutowo, memuat tulisan moratorium tentang Soe secara serial selama tiga hari.

Mingguan Bandung Mahasiswa Indonesia, mempersembahkan editorial khusus: ...Tanpa menuntut agar semua insan menjadi seorang Soe Hok-gie, kita hanya bisa berharap bahwa pemuda ini dapat menjadi model seorang pejuang tanpa pamrih ... kita membutuhkan orang seperti dia, sebagai lonceng peringatan yang bisa menegur kita manakala kita melakukan kesalahan.

Di luar negeri, berita kematian Soe sempat diucapkan Duta Besar RI Soedjatmoko, di dalam pertemuan The Asia Society in New York, sebagai berikut: ... Saya ingin menyampaikan penghormatan pada kenangan Soe Hok-gie, salah seorang intelektual yang paling dinamis dan menjanjikan dari generasi muda pasca kemerdekaan .... Komitmennya yang mutlak untuk modernisasi demokrasi, kejujurannya, kepercayaan dirinya yang teguh dalam perjuangan ... bagi saya ia memberikan suatu ilustrasi tentang adanya kemungkinan suatu tipe baru orang Indonesia, yang benar-benar asli orang Indonesia. Saya pikir pesan inilah yang telah disampaikannya kepada kita, dalam hidupnya yang singkat itu.

Kepada Ben Anderson, pakar politik Indonesia yang juga kawan lengket Soe, dalam salah satu surat terakhirnya, Soe menulis,... Saya merasa semua yang tertulis dalam artikel-artikel saya adalah sejumput petasan. Dan semuanya ingin saya isi dengan bom!

Dari cuplikan berbagai tulisan Soe, terasa sekali sikap dan pandangannya yang khas. Misalnya, Soe pernah menulis begini: Saya mimpi tentang sebuah dunia, di mana ulama - buruh - dan pemuda, bangkit dan berkata - stop semua kemunafikan, stop semua pembunuhan atas nama apa pun. Tak ada rasa benci pada siapa pun, agama apa pun, dan bangsa apa pun. Dan melupakan perang dan kebencian, dan hanya sibuk dengan pembangunan dunia yang lebih baik.

Khusus soal mahasiswa, menjelang lulus sebagai sejarawan, 13 Mei 1969, Soe sempat menulis artikel Mimpi-mimpi Terakhir Seorang Mahasiswa Tua. Dalam uraian tajam itu, ia menyatakan: ... Beberapa bulan lagi saya akan pergi dari dunia mahasiswa. Saya meninggalkan dengan hati berat dan tidak tenang. Masih terlalu banyak kaum munafik yang berkuasa. Orang yang pura-pura suci dan mengatasnamakan Tuhan ... Masih terlalu banyak mahasiswa yang bermental sok kuasa. Merintih kalau ditekan, tetapi menindas kalau berkuasa.

Saat dirinya masuk korps dosen FSUI, secara blak-blakan Soe mengungkap ada dosen yang membolos 50% dari jatah jam kuliahnya. Bahkan ada dosen menugaskan mahasiswa menerjemahkan buku. Terjemahan mahasiswa itu dipakainya sebagai bahan pengajaran, karena sang dosen ternyata tidak tahu berbahasa Inggris.

Masih di seputar mahasiswa, dalam nada getir, Soe menulis:... Hanya mereka yang berani menuntut haknya, pantas diberikan keadilan. Kalau mahasiswa Indonesia tidak berani menuntut haknya, biarlah mereka ditindas sampai akhir zaman oleh pemimpin-pemimpin korup mereka.

Khusus untuk wakil mahasiswa yang duduk dalam DPR Gotong Royong, Hok Gie sengaja mengirimkan benda peranti dandan. Sebuah sindiran supaya wakil mahasiswa itu nanti bisa tampil manis di mata pemerintah. Padahal wakil mahasiswa itu teman-temannya sendiri yang dijuluki "politisi berkartu mahasiswa". Langkah Soe ini membuat mereka terperangah. Sayangnya, momentum ini kandas. Soe Hok Gie keburu tewas tercekik gas beracun di Puncak Mahameru.

Berpolitik cuma sementara

John Maxwell dalam epilog naskah buku Mengenang Seorang Demonstran (November 1999), menulis begini, "Saya sadar telah menulis tentang seorang pemuda yang hidupnya berakhir tiba-tiba, dan terlalu dini dengan masa depan yang penuh dengan kemungkinan yang begitu luas."

Kita telah memperhatikan bagaimana Soe Hok Gie terpana politik dan peristiwa nasional, setidak-tidaknya sejak masih remaja belasan tahun ... namun hasratnya terhadap dunia politik, diredam oleh penilaiannya sendiri bahwa dunia politik itu pada dasarnya lumpur kotor. Semua orang seputar Soekarno dinilainya korup dan culas, sementara pimpinan partai dan politisi terkemuka, tidak lebih dari penjilat dan bermental "asal bapak senang", serta "yes men", atau sudah pasrah.

Pandangan ini menjadi latar belakang pembelaan Soe akan kekuatan moral dalam politik di awal tahun 1966. Keikutsertaannya dalam politik hanya untuk sementara. Pada pertengahan tahun yang sama, dia menyampaikan argumentasi bahwa sudah tiba saatnya bagi mahasiswa untuk mundur dari arena politik dan membiarkan politisi profesional bertugas, membangun kembali institusi politik bangsa." Demikian tulis Maxwell.

Soe memang sudah bersikap. Dia memilih mendaki gunung daripada ikut-ikutan berpolitik praktis. Dia memilih bersikap independen dan kritis dengan semangat bebas. Pikiran dan kritiknya tertuang begitu produktif dalam pelbagai artikel di media cetak. Namun secara diam-diam, Soe ternyata juga menumpahkan unek-uneknya dalam bentuk puisi indah. Salah satunya Mandalawangi-Pangrango yang terkenal di kalangan pendaki gunung.

Pemuda lajang yang sempat pacaran dengan beberapa gadis manis FSUI, selain kutu buku, macan mimbar diskusi, kambing gunung, tukang nonton film, juga penggemar berat folksong (meski sama sekali tak becus bernyanyi merdu). Berbadan kurus nyaris kerempeng, di gunung makannya gembul.

Bagi pemuda dan khususnya mahasiswa demonstran, masih ada potongan puisi Gie yang sempat tercecer, baru muncul di harian Sinar Harapan 18 Agustus 1973. Judulnya "Pesan" dan cukilan pentingnya berbunyi:

Hari ini aku lihat kembali

Wajah-wajah halus yang keras

Yang berbicara tentang kemerdekaaan

Dan demokrasi

Dan bercita-cita

Menggulingkan tiran

Aku mengenali mereka

yang tanpa tentara

mau berperang melawan diktator

dan yang tanpa uang

mau memberantas korupsi

Kawan-kawan

Kuberikan padamu cintaku

Dan maukah kau berjabat tangan

Selalu dalam hidup ini?

Yang jadi pertanyaan sekarang, masihkah ada Soe Hok Gie - Soe Hok Gie di era ini??? Ataukah harus dilupakan sama sekali???

Kamis, 26 Agustus 2010

Apa sih mahasiswa itu,... kenapa "MAHASISWA" (?)

Banyak yang menganggap mahsiswa itu sesuatu yang hebat,... Hebat karena butuh kapasitas intelektual yang lebih, tapi juga tidak mudah karena tidak semua orang bisa menjadi mahasiswa. Memang, orang yang memasuki perguruan tinggi , apalagi PTN, pastilah sebagian besar orang yang pintar (Walaupun tidak semua, "Aku misalnya_red"). Tapi tidak semua orang bisa menjadi mahasiswa karena keterbatasa ekonomi, peluang dan intelektulitas. Tapi apakah hanya itu saja artinya menjadi mahasiswa?

Sebenarnya apa sih mahasiswa itu? Dan apa juga yang dibutuhkan untuk benar-benar mewujudkannya? Siswa adalah sebutan untuk orang yang mengikuti sebuah kegiatan pendidikan. Sedangkan maha adalah besar atau lebih. Jadi mahasiswa adalah orang yang lebih dari siswa biasa. Seseorang yang mengikuti pendidikan di perguruan tinggi yang lebih dari siswa SMP atau SMA.

Yang membedakannya dari siswa biasa adalah kapasitasnya dalam berpikir, terutama secara logis dan terstruktur karena digembleng oleh metode belajar akademiknya yang lebih menekankan pada keahlian, dan perjuangannya dalam mewujudkan apa yang dianggapnya benar atau ideal. Mengapa memperjuangkan apa yang ideal dan benar? Karena mahasiswa adalah seseorang yang sedang berada dalam tahap transisi, menuju kedewasaan, baik pikiran atau perilaku. Itu berarti mahasiswa sedang mempertanyakan kembali nilai-nilai yang ada di sekelilingnya dan juga yang ia anut. Mempertanyakan apa yang benar dan salah. Juga karena ia berada dalam koridor kebenaran ilmiah ilmu pengetahuan yang menuntutnya untuk selalu jujur dan memperjuangkan apa yang benar.

Lalu apa yang dibutuhkan untuk itu? Pertama adalah keberanian untuk bertanya. Ada yang bilang malu bertanya sesat di jalan. Seseorang yang menjadi mahasiswa bertanya tidak hanya supaya tidak tersesat. Tapi juga karena ia sedang berupaya untuk mendefinisikan dan mengenal dirinya sendiri juga lingkungan diamna ia berada. Apakah hal yang selama ini ia anggap kebenaran adalah memang hal yang benar? Dengan bertanya dan mencoba mengenal dirinya iapun memulai proses untuk menjadi dewasa.

Kedua adalah kemandirian. Menjadi mahasiswa berarti menjadi pribadi yang mandiri. Baik secara intelektual maupun mandiri dalam kehidupannya sehari-hari. Mandiri berarti mulai mempercayai dirinya bahwa ia mampu menjadi dan melakukan segalanya. Mandiri secara intelektual berarti mau dan mampu berpikir sendiri dan mencoba menjalankannya. Berarti menjadi mahasiswa adalah suatu kesempatan besar untuk menjadi manusia dewasa yang mandiri, pintar dan bertanggung jawab. Sebuah kesempata yang sungguh sayang untuk disia-siakan begitu saja. "SLAMAT MENJADI MAHASISWA" >>> Buat Adek-adekku, selepas PPA.

Rabu, 18 Agustus 2010

OSPEK ditengah Pertarungan Organisasi Kemahasiswaan dan Birokrasi Kampus.

Dari sinilah kebanyakan lahir para mahasiswa-mahasiswa pemikir. Mahasiswa yang mampu memainkan peran sebagai penerus bangsa yang dicita-citakan. Yang berani menyuarakan suara-suara lemah dari bawah ke atas. Yang menjelma menjadi kalangan intelek bangsa. Memperjuangkan Hak Asasi dan Kebebasan, serta mengutamakan pengabdian kepada bangsa dan Laju dari lembaga kemahasiswaan bersesuaian dengan kebutuhan mahasiswa. Akan sangat berbeda sekali jika kita membandingkannya dengan beberapa lembaga lain, misalnya organisasi politik dan semacamnya. Koridor-koridor yang telah ditetapkan benar-benar disesuaikan dengan dunia kemahasiswaan. Intelektual dan pengabdian yang dipadu dengan nilai-nilai kebangsaan, perjuangan, integritas, serta independensi dari segala bentuk pengungkungan.

Roda dari lembaga kemahasiswaan memang tidak akan selamanya bisa berputar tanpa regenerasi atau kaderisasi yang kontinyu. Faktor lama studi mahasiswa menjadi penyebab utama hal ini. Lembaga kemahasiswaan tidak akan bisa konstan menjalankan fungsi-fungsinya jika tidak bisa membina kader-kadernya. Hal ini berarti sebuah kemunduran bagi sebuah lembaga kemahasiswaan.

Sebuah langkah dalam regenerasi awal kader-kader lembaga kemahasiswaan adalah ospek. Dengan ospek, maka tingkat keberhasilan regenerasi lembaga kemahasiswaan sudah mencapai 40%, yang selanjutnya bisa dilakukan perekrutan dan semacamnya. Ada sebuah jaminan tersendiri dari ospek dimana transfer nilai-nilai akan bisa terus berlangsung.

Kepentingan Siapa?

OSPEK atau Orientasi Studi dan Pengenalan Kampus. Sebuah proses penerimaan mahasiswa baru dalam dunia kemahasiswaan. Tidak bisa dipungkiri bahwa ospek adalah sebuah transisi kehidupan siswa. Kesan pertama mereka menatap kemahasiswaan adalah dengan apa yang telah dilakukan oleh para seniornya. Dan hal itu akan sangat mempengaruhi keadaan siswa dalam menempuh dunia kemahasiswaan mereka. Dan, tidak juga bisa diingkari bahwa ospek adalah sebuah konsep yang sangat ampuh dalam kaderisasi sebuah lembaga kemahasiswaan. Sebuah ospek yang ‘benar’ bisa menghasilkan kader yang sangat berkualitas.

Bagi sebagian kalangan mahasiswa, ada beberapa yang mempercayai bahwa ospek sama sekali tidak berarti. Namun, rata-rata pemikiran itu tidak sampai bertahan lama. Ada yang menganggap bahwa ospek adalah ulah sebagian mahasiswa senior yang ingin mencari muka dihadapan mahasiswa baru dengan tendensi tertentu. Ada juga pemikiran bahwa ospek adalah hanya sebuah ajang balas dendam masal terhadap apa yang pernah senior rasakan kepada yunior. Sebuah pemikiran yang kekanak-kanakan, yang sama sekali bertentangan dengan citra mahasiswa.

Ada beberapa kejadian kebelakang yang menempatkan ospek sebagai obyek pemberitaan. Sebuah tragedi yang menyebabkan ospek membawa korban jiwa. Menjadi sebuah pertanyaan balik yang dilontarkan kepada kita, apakah masih perlu ospek dilaksanakan? Dengan segala predikat dari ospek sendiri sebagai ajang perploncoan, pembatasan HAM, dan lainnya yang dipopulerkan oleh pemberitaan media.

Banyak pihak birokrat yang sudah mengeluarkan berbagai cara untuk menghentikan ospek. Mulai dari pelarangan ospek di masing-masing kampus oleh beberapa universitas, pemberlakuan sanksi bagi para pelaku ospek, hingga yang paling mutakhir adalah pengeluaran SK dari DIKTI yang melarang ospek ditingkat universitas. Masing-masing cara itu ditujukan untuk mengantisipasi efek dari ospek dari masa lalu yang mungkin terulang.

Mungkin pihak birokrat mulai tertekan dengan pemberitaan media yang semakin menyudutkan ospek. Dan juga masyarakat yang mulai semakin rajin memberikan nilai minus terhadap ospek. Akhirnya, sebuah penyama rataan terhadap seluruh kegiatan ospek di nusantara ini bahwa kegiatan ospek adalah terlarang.

Dari sini sudah terlihat bahwa pihak birokrat sudah melupakan akarnya. Di zaman ini, rata-rata pendidikan para birokrat adalah mahasiswa. Dan salah satu kepentingan mahasiswa telah ‘dipenjarakan’. Karena alasan diatas belumlah cukup dipakai untuk merantai ospek. Dan banyak ketidak jelasan yang telah dilontarkan pihak birokrat kepada mahasiswa.

Ada sedikit keanehan ketika pihak birokrat akhirnya ingin mengambil alih kegiatan ospek, dan ‘menyingkirkan’ mahasiswa sebagai pelaksana utama kegiatan ospek. Karena tidak bisa dipungkiri juga, bahwa yang benar-benar mengerti kondisi di lingkungan kemahasiswaan adalah mahasiswa itu sendiri. Mengenai nilai-nilai apa yang sesuai dengan kondisi kemahasiswaan saat ini, mahasiswa juga lebih tahu. Ada banyak hal yang tersembunyi dalam keputusan ini, mengingat yang menjadi obyek dari ospek adalah para mahasiswa baru yang masih belum terkontaminasi doktrin apapun.

Tantangan Bagi Organisasi Kemahasiswaan ?

Manfaat besar ospek untuk lembaga kemahasiswaan adalah ospek merupakan sebuah cara yang efektif untuk melanjutkan rantai regenerasi dan transfer nilai-nilai serta ideologi kemahasiswaan. Tentu saja sasarannya adalah para mahasiswa baru. Bagi mahasiswa baru, ospek dapat membantu untuk mengarungi kehidupan kemahasiswaan yang telah menantinya. 2 hal tersebut bisa sangat sinkron dan saling memberi manfaat apabila dilakukan pada koridor yang benar.

Namun, ketika akhirnya pihak birokrat memutuskan untuk mengambil alih, maka akan terdapat beberapa persepsi. Kita sebagai mahasiswa yang akan mengambil keputusan. Ada ataupun tidak ada ospek, pembinaan mahasiswa baru akan terus berjalan.