Tampilkan postingan dengan label resensi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label resensi. Tampilkan semua postingan

Selasa, 17 Maret 2009

Ikhtiar Menciptakan Dunia yang Damai

Ikhtiar Menciptakan Dunia yang Damai


Judul : Menciptakan Dunia Tanpa Kemiskinan.
Bagaimana Bisnis Sosial Mengubah Kehidupan Kita
Penulis : Muhammad Yunus
Penerbit : PT. Gramedia Pustaka Utama
Alih Bahasa : Rani R Moediarta
Tebal : ix + 263 halaman
Waktu Terbit : 2008


Sebelumnya tak disangka kalau penulis buku ini, Muhammad Yunus, menerima Nobel Perdamaian pada 2006 lalu. Berkat jerih payahnya dan dibantu sejumlah orang, dia berhasil mengangkat jutaan rakyat Bangladesh dari jeratan kemiskinan. Padahal, penduduk Bangladesh merupakan sebagian dari yang termiskin di dunia. Kurang gizi merupakan masalah parah, terutama di kalangan anak-anak. Tak heran, bila Komite Nobel Swedia menetapkannya sebagai sosok yang paling pas karena masalah kemiskinan dianggap mengancam perdamaian.

Kemiskinan telah memunculkan kesenjangan parah, hingga akhirnya memunculkan ketegangan antara kelompok kaya dengan kelompok miskin, karena kelompok miskin tidak puas dengan nasib yang dialami, sementara kelompok kaya terus menerus memperkaya diri. Data menunjukkan, kesenjangan pendapatan di dunia sudah sangat mengkhawatirkan. Sekitar 94 persen pendapatan dunia jatuh ke tangan 40 persen populasi dunia, sementara 60 persen populasi dunia hidup hanya dari 6 persen pendapatan dunia. Separuh penduduk dunia hidup dengan dua dolar sehari. Lebih dari semiliar orang hidup dari pendapatan kurang dari satu dolar sehari. Dengan kondisi seperti ini, tentunya sangat sulit menciptakan perdamaian di muka bumi.

Yang menarik, Yunus menganggap upaya hampir seluruh negara-negara di dunia khususnya negara adikuasa, mengeluarkan miliaran dolar AS untuk berperan melawan terorisme ternyata tidak menciptakan perdamaian. Terorisme memang patut dihancurkan, tapi bukan dengan angkat senjata. Oleh karena itu, Yunus yakin bahwa mencurahkan sumber daya untuk meningkatkan kehidupan orang miskin adalah strategi yang lebih baik ketimbang memboroskan uang untuk senjata.

Oleh karena itu, dalam pidato pada penganugerahan hadiah nobel, Yunus meminta kita melihat perdamaian dalam perspektif berbeda. Menurutnya, perdamaian harus dipahami dengan cara manusiawi – dengan cara sosial, politik, dan ekonomi yang luas. Perdamaian terancam oleh tatanan ekonomi, sosial, dan politik yang tidak adil, hilangnya demokrasi, dan degradasi lingkungan, serta tiadanya hak asasi manusia.

Bisnis Sosial
Poin penting dalam buku berjudul Menciptakan Dunia Tanpa Kemiskinan ini adalah perlunya membangun bisnis sosial sebagai solusi mengatasi kemiskinan. Bisnis sosial dirancang untuk memenuhi kebutuhan sosial. Pelaku bisnis sosial tidak bertujuan untuk tujuan pribadi saja, tapi juga tujuan masyarakat secara luas. Dalam hal ini, bisnis yang berorientasi pada maksimisasi profit sangatlah berbeda dengan bisnis sosial.

Perusahaan akan menjual produk dengan harga yang akan membuatnya hidup sendiri. Pemilik perusahaan dapat mengambil uang yang mereka investasikah ke perusahaan setelah selang waktu tertentu, tapi keuntungan bagi investor tak dibayar dalam bentuk bagi hasil. Model bisnis semacam ini sudah ada di Bangladesh, di mana Yunus bekerja sama dengan perusahaan terkenal asal Prancis, Danone. Kerja sama ini membentuk perusahaan bernama Grameen Danone.

Bisnis sosial dianggap efektif untuk mengangkat masyarakat dari jurang kemiskinan, khususnya di negara sedang berkembang. Sebab, perusahaan ini biasanya menyediakan produk-produk yang dibutuhkan oleh penduduk dan dijual dengan harga terjangkau. Memang, syarat untuk melakukan bisnis sosial biasanya datang dari perusahaan besar, seperti yang dialami oleh Grameen Danone. Atas usaha keras Yunus, maka perusahaan tersebut telah memberikan bantuan yang sangat besar bagi kesejahteraan masyarakat di Bangladesh. Tentu saja, strategi ini bisa dilaksanakan oleh perusahaan-perusahaan yang memang memiliki kapasitas cukup.

Peran Negara, Pertumbuhan, dan Kemiskinan
Yang unik dari pemikiran Yunus dalam buku ini adalah pentingnya peran pemerintah. Pemerintah punya kuasa, dengan akses ke seluruh penjuru masyarakat, dan lewat pajak mereka dapat memobilisasi sumber daya ekonomi. Namun pemerintah memang sering gagal karena beberapa alasan, seperti sikap inefisien, lamban, cenderung korup, birokratis, dan mementingkan kelangsungan diri sendiri. Keadaan ini memberikan penekanan kuat bahwa pemerintah kadang kala tidak bisa diandalkan untuk memajukan perekonomiannya sendiri. Namun tentu saja perubahan harus ada di tubuh pemerintah agar fungsi pengaturan ekonomi dan kebijakan mengatasi permasalahan ekonomi bisa terlaksana optimal. Dengan kata lain, peran tersebut tidak boleh diserahkan sepenuhnya pada mekanisme pasar.

Salah satu peran penting pemerintah adalah mempercepat pertumbuhan ekonomi. Pertumbuhan nantinya akan mengurangi kemiskinan, sebagaimana yang terdapat pada teori ekonomi. Namun, semata-mata mengandalkan pertumbuhan juga akan kandas karena pemerintah terlalu fokus pada cara bagaimana meningkatkan pertumbuhan, seperti membangun infrastruktur, sementara aspek lain seperti pemerataan dipinggirkan. Yang perlu diandalkan dan diperhatikan adalah pertumbuhan sekaligus pemerataan. Sebab, terdapat “pertumbuhan yang berpihak pada kaum miskin”, dan “pertumbuhan yang anti kaum miskin”. Pertumbuhan yang berpihak pada kaum miskin, berarti pertumbuhan yang betul-betul merata, di mana tidak terdapat kesenjangan ekonomi di dalam masyarakat. Sebaliknya, bila pertumbuhan yang anti kemiskinan terjadi, maka pendapatan nasional hanya dinikmati oleh segelintir orang kaya yang notabene sudah “berpunya”. Tentu saja, pemerintah punya peran untuk mengarahkan pertumbuhan ekonomi yang berpihak pada kaum miskin.

Manusia Multidimensi
Teori ekonomi konvensional menegaskan bahwa manusia senantiasa berusaha memaksimalkan keuntungan. Oleh karena itu, setiap manusia diberi kebebasan untuk memaksimalkan keuntungan agar tercipta kemakmuran individu yang berpengaruh pada kemakmuran masyarakat, bahkan bangsa. Dalam hal ini, manusia senantiasa diidentikkan dengan makhluk yang hanya berorientasi pada keuntungan materi semata.

Kenyataan berkata lain. Manusia bukan entitas satu dimensi. Ia makhluk multidimensi. Emosi, keyakinan, prioritas, dan pola perilaku mereka paling pas bila digambarkan sebagai jutaan nuansa warna hasil dari paduan tiga warna dasar. Kehadiran pesona manusia multidimensi menandakan bahwa tak setiap bisnis mesti terikat melayani tujuan tunggal memaksimalkan keuntungan, melainkan dapat pula melayani tujuan lain, terutama tujuan sosial.

Jargon-jargon Kerakyatan SBY-JK

Jargon-jargon Kerakyatan SBY-JK


Judul : Kebijakan Ekonomi Pro Rakyat, Antara Komitmen dan Jargon
Penulis : Dr Fahmy Radhi MBA
Penerbit : Republika
Tahun : Oktober 2008
Tebal : 201 + xxvii halaman



Ketika masa kampanye tiba, rakyat ketiban rezeki. Para parpol, caleg, capres, dan peserta pemilihan akan mendekati rakyat dengan segala janji-janji manis. Terkadang rakyat terbuai dengan janji-janji manis tersebut, tapi ada pula rakyat yang bersikap kritis. Kebanyakan rakyat miskin akan terbuai dengan janji-janji politisi, bila dijanjikan bahwa bila terpilih akan meningkatkan kesejahteraan para pemilihnya. Pada Pemilu 2004, SBY-JK terpilih sebagai presiden dan wakil presiden karena berhasil menggugah rakyat dengan janji-janji manisnya. Namun kebijakan-kebijakan yang diterapkan setelah terpilih tampaknya jauh dari komitmen kerakyatan yang dikumandangkan saat kampanye. Sebaliknya, sebagian besar kebijakan ekonomi pemerintah dilandasi atau bercorak pro pasar.

Buku yang ditulis oleh seorang ekonom dari Fakultas Ekonomika dan Bisnis UGM ini, merupakan rangkuman puluhan artikel yang dimuat di rubrik analisis SKH Kedaulatan Rakyat dengan tema ekonomi. Tulisan-tulisan dari Fahmy kebanyakan muncul sebagai respons terhadap berbagai kebijakan pemerintah yang terkait dengan rakyat kecil dan mencoba menguak berbagai persoalan yang dihadapi rakyat kecil. Untuk mempermudah pembacaan, tulisan-tulisan ini dikelompokkan menjadi lima bagian, meliputi: Komitmen Pro Rakyat, Komitmen Pemihakan terhadap Petani dan Buruh, Komitmen Pemihakan pada Korban Bencana, Kebijakan BBM; Pengingkaran komitmen Pro Rakyat, dan Jargon-jargon Pro Rakyat. Buku ini diakhiri dengan percikan pemikiran tentang Sistem Ekonomi Kerakyatan.

Buku ini terdiri dari kumpulan tulisan yang dimuat mulai 2004 sampai 2008. Dengan kata lain, tulisan ini tampak sebagai respons kebijakan-kebijakan SBY-JK yang mulai awal jabatannya, sampai menjelang akhir jabatannya. Di awal pemerintahan SBY-JK, Fahmy langsung menyoroti pemilihan menteri bidang ekonomi. Menurut Fahmy, menteri-menteri yang dipilih presiden bukanlah orang yang punya track-record terhadap komitmen ekonomi kerakyatan. Masih teringat, saat pemilihan menteri, SBY memilih Sri Mulyani Indrawati sebagai Kepala Bappenas, Mari Elka Pangestu sebagai Menteri Perdagangan, Jusuf Anwar sebagai Menteri Keuangan. Ketiga orang ini merupakan penganut pasar bebas.

Yang dikritisi pula oleh Fahmy adalah saat reshuffle kabinet jilid 2 dilakukan, menteri bidang ekonomi seperti menteri keuangan dicopot dan diganti oleh Sri Mulyani sedangkan menteri koordinator perekonomian dipindahkan dan diganti oleh pakar ekonomi UGM, Boediono. Ini berarti pula, tidak ada perubahan mendasar dalam tubuh kabinet ekonomi. Masuknya Boediono hanya menambah keberadaan ekonom pro pasar di kabinet. Dengan kata lain, ekonom yang dipilih SBY menduduki kabinetnya ternyata berbanding terbalik dengan komitmen kerakyatan yang dicanangkan saat kampanye dulu.

Dalam buku ini, Fahmy memang mencurahkan pikirannya untuk mengkritisi pemilihan pembantu presiden, khususnya tim ekonomi yang kebanyakan berasal dari ekonom pro pasar. Ini cukup beralasan mengingat kondisi ekonomi suatu negara tergantung pada tim ekonominya, bukan pada presidennya. Siapa pun presiden yang merasa dirinya pro rakyat, namun bila tim ekonominya berasal dari orang-orang yang tidak pro rakyat (alias pro pasar), maka dipastikan kebijakan-kebijakannya juga cenderung tidak pro rakyat.

Jargon Kerakyatan dan Terpilihnya SBY-JK
Fahmy berkesimpulan bahwa terpilihnya SBY-JK menjadi pemimpin tertinggi di negeri ini erat kaitannya dengan komitmen kerakyatan yang dijanjikan saat kampanye. Di tengah kemiskinan, pengangguran, dan kesenjangan pendapatan yang masih menunjukkan wajah buram, kehadiran calon pemimpin yang menjanjikan kesejahteraan rakyat disambut dengan meriah oleh rakyat. Akibatnya, SBY-JK meraih dukungan sekitar 30% saat pemilu putaran pertama dan sekitar 60% pada putaran kedua. Pada pemilu 2004, jargon pro growth (pertumbuhan), pro job (lapangan pekerjaan), dan pro poor (kemiskinan) dikumandangkan untuk meraih suara sebanyak-banyaknya.

Sebagaimana telah ditulis di atas, komitmen kerakyatan tampak hancur setelah SBY mengisi pos kabinet ekonomi dengan orang-orang yang lebih pro pasar ketimbang pro rakyat. Bagi sejumlah ekonom, termasuk Fahmy, langkah ini mengindikasikan bahwa komitmen kerakyatan SBY-JK tampaknya hanya secedera jargon. Masalah kemiskinan dan pengangguran, serta ancaman terampasnya kedaulatan ekonomi tidak dapat diatasi selama pemerintah SBY-JK.

Kumpulan tulisan ini juga mencatat segala kebijakan SBY-JK yang cenderung menodai komitmen kerakyatannya. Kebijakan kenaikan harga BBM yang sampai tiga kali dalam pemerintahannya, dianggap sebagai bentuk pengingkaran terhadap komitmen keberpihakan terhadap rakyat. Kenaikan harga BBM telah mengakibatkan naiknya angka kemiskinan dan pengangguran. Lebih menyakitkan lagi, sebab kebijakan menaikkan harga BBM ini ternyata didorong oleh asing, dalam hal ini konsultan-konsultan IMF yang bertugas di Indonesia.

Tak luput, Fahmy juga mengkritisi rendahnya pemihakan pemerintah terhadap buruh. Kasus yang disoroti adalah PT Dirgantara. Selain itu, Fahmy juga menyoroti perhatian pemerintah pada korban bencana alam. Di bagian akhir, Fahmy memaparkan lebih detil menampilkan tulisan-tulisan yang bercerita banyak tentang jargon-jargon pro rakyat. Salah satu tulisan mengkritisi tentang pencapaian target pemerintah yang dicanangkan secara kuantitatif pada saat kampanye, di mana sampai menjelang akhir tahun ketiga (2007), target tersebut jauh dari tercapai. SBY mencanangkan pencapaian pada 2009 meliputi pertumbuhan ekonomi mencapai 7,6%, pengangguran menjadi 5,1%, angka kemiskinan menjadi 8,2%. Hingga akhir 2007, angka pengangguran masih sekitar 9,75%, angka kemiskinan bertengger di posisi 17,3%, dan pertumbuhan ekonomi hanya mencapai 6,3%.

Jalan Baru dengan Ekonomi Kerakyatan
Dalam pengantarnya, Rizal Ramli menegaskan bahwa Indonesia perlu jalan baru, yaitu jalan anti kolonialisme, jalan yang lebih mandiri, yang akan membawa kemakmuran dan kesejahteraan mayoritas rakyat Indonesia. untuk mencapainya, kedaulatan ekonomi harus direbut. Menurut Rizal, hanya dengan kedaulatan dan kemandirian rakyat, negara republik Indonesia akan berdaulat di bidang pangan dan energi, serta menarik manfaat sebesar-besarnya bagi dari kekayaan sumber daya alam, keragaman budaya, dan sumber daya manusia (hlm xv).

Dalam buku ini, Fahmy menganggap bahwa paradigma alternatif kebijakan ekonomi Indonesia adalah kebijakan ekonomi pro rakyat yang berlandaskan sistem ekonomi kerakyatan. Bahkan, Fahmy menafsirkan pasal 33 UUD 1945 sebelum diamandemen, sebagai paradigma ekonomi kerakyatan yang semestinya menjadi landasan dalam setiap perumusan strategi pembangunan dan penetapan kebijakan ekonomi di Indonesia (hlm. 189)

Memang secara konsep, ekonomi kerakyatan belumlah sematang ekonomi konvensional yang dibangun ratusan tahun lalu oleh Adam Smith. Namun dari sisi praktik, ekonomi kerakyatan sebetulnya sudah diterapkan oleh rakyat Indonesia. Pada dasarnya, sistem ekonomi kerakyatan adalah sistem ekonomi yang berasaskan kekeluargaan, berkedaulatan rakyat, bermoral Pancasila, dan menunjukkan pemihakan sungguh-sungguh pada rakyat yang lemah. Ciri utamanya adalah kebersamaan dalam menjalankan proses produksi untuk menghasilkan produk dan jasanya yang dikerjakan oleh sebagian besar rakyat dan dimiliki oleh seluruh rakyat secara merata. (hlm 188). Adapun strategi pembangunan yang dilandasi sistem ekonomi kerakyatan meliputi penanggulan kemiskinan, pengembangan kawasan, pengembangan UMKM.

Namun apa daya bila pemimpin yang terpilih pada pemilu 2009 ini berasal dari orang yang menggunakan ekonomi kerakyatan hanya sekedar jargon? Karena itu, rakyat Indonesia harus cerdas memilih pemimpin, agar pemimpin tersebut dapat membawa kemaslahatan bersama bagi bangsa Indonesia.

Jumat, 13 Februari 2009

Cerita Sampul 4,..Novel Terakhir Tetralogi Laskar Pelangi, Maryamah Karpov

MARYAMAH KARPOV

Penulis: Andrea Hirata

Penyunting: Imam Risdiyanto

Perancang Sampul :Andreas Kusumahadi

ISBN 978-979-1227- 45 – 2

Harga Rp. 79.000,-

Nukilan (cuplikan)

"Jika dulu aku tak menegakkan sumpah untuk sekolah setinggi tingginnya demi martabat ayahku,aku dapat melihat diriku dengan terang sore ini: sedang berdiri dengan tubuh hitam kumal, yang kelihatan hanya mataku, memegang sekop dengan gunungan timah, mengumpulkan nafas, menghela tenaga, mencedokinya dari pukul delapan pagi sampai maghrib, menggantikan tugas ayahku, yang dulu menggantikan tugas ayahnya. Aku menolak semua itu! Aku menolak perlakuan nasib pada ayahku dan kepada kaumku. Tuhan telah memeluk mimpiku, atas nama harkat kaumku, martabat ayahku, kurasakan dalam aliran darahku, saat nasib membuktikan sifatnya yang hakiki bahwa ia akan memihak kepada para pemberani"

Sinopsis

Keberanian dan keteguhan hati telah membawa ikal pada banyak tempat dan peristiwa. Sudut-sudut dunia telah dia kunjungi A Ling. Apa pun ikal lakukan demi perempuan itu. Keberaniannya ditantang ketika tanda-tanda keberadaan A Ling tampak. Dia tetap mencari, meski tanda-tanda itu masih samar. Dapatkah keduanya bertemu kembali? Novel ini menceritakan semua hal tentang Laskar Pelangi, A Ling, Arai, Lintang, dan beberapa tokoh dalam cerita sebelumnya. Tetap dengan sihir kata-katanya, Anda akan dibawa Andrea pada kisah yang menakjubkan sekaligus mengharukan

Senin, 19 Januari 2009

Cerita Sampul 2 (Soe Hok Gie - Catatan Seorang Domonstran)

Catatan Sampul : Soe Hok Gie - Catatan Seorang Domonstran


Soe Hok Gie dilahirkan pada tanggal 17 Desember 1942. Dia adalah seorang aktivis yang sangat aktif pada waktunya. Seorang pejuang gerakan mahasiswa yang keras menentang ketidakadilan & korupsi dizaman Presiden Soekarno. Sebuah karya catatan hariannya yang berjudul Soe Hok Gie: Catatan Seorang Demonstran setebal 494 halaman oleh LP3ES diterbitkan pada tahun 1983. Soe Hok Gie adalah mahasiswa Fakulti Sejarah Universitas Indonesia dan juga merupakan salah seorang pengasas Mapala UI yang salah satu kegiatan terpenting dalam organisasi pecinta alam tersebut adalah mendaki gunung. Gie juga tercatat sebagai pemimpin Mapala UI untuk misi pendakian Gunung Slamet, 3.442m.Kemudian pada 16 Desember 1969, Gie bersama Mapala UI berencana melakukan misi pendakian ke Gunung Mahameru (Semeru) yang mempunyai ketinggian 3.676m. Ramai sekali rakan-rakannya yang menanyakan kenapa beliau ingin melakukan misi tersebut. Dengan nada tegas Gie menjelaskan kepada mereka :-

“Kami jelaskan apa sebenarnya tujuan kami. Kami katakan bahwa kami adalah manusia-manusia yang tidak percaya pada slogan. Patriotisme tidak mungkin tumbuh dari hipokrisi dan slogan-slogan. Seseorang hanya dapat mencintai sesuatu secara sehat kalau ia mengenal obyeknya. Dan mencintai tanah air Indonesia dapat ditumbuhkan dengan mengenal Indonesia bersama rakyatnya dari dekat. Pertumbuhan jiwa yang sehat dari pemuda harus berarti pula pertumbuhan fisik yang sehat. Karena itulah kami naik gunung.”
Sebelum berangkat, Gie sepertinya mempunyai firasat tentang dirinya dan karana itu dia menuliskan catatannya :-

“Saya tak tahu apa yang terjadi dengan diri saya. Setelah saya mendengar kematian Kian Fong dari Arief hari Minggu yang lalu. Saya juga punya perasaan untuk selalu ingat pada kematian. Saya ingin mengobrol-ngobrol pamit sebelum ke semeru. Dengan Maria, Rina dan juga ingin membuat acara yang intim dengan Sunarti. Saya kira ini adalah pengaruh atas kematian Kian Fong yang begitu aneh dan begitu cepat.”
Soe Hok Gie mati di atas Puncak Gunung Semeru kerana terhidu gas beracun gunung berapi berkenaan. Sungguh beliau seorang pejuang & nikmatilah serta hayatilah beberapa ungkapan yang pernah disebutkan olehnya sewaktu hayat perjuanggan beliau:-


“Pertanyaan pertama yang harus kita jawab adalah: Who am I? Saya telah menjawab bahwa saya adalah seorang intelektual yang tidak mengejar kuasa tapi seorang yang ingin mencanangkan kebenaran. Dan saya bersedia menghadapi ketidak-populeran, karena ada suatu yang lebih besar: kebenaran.”


“Bagiku sendiri politik adalah barang yang paling kotor. Lumpur-lumpur yang kotor. Tapi suatu saat di mana kita tidak dapat menghindari diri lagi, maka terjunlah.”


“Guru yang tak tahan kritik boleh masuk keranjang sampah. Guru bukan Dewa dan selalu benar, dan murid bukan kerbau.”


“Nasib terbaik adalah tidak dilahirkan, yang kedua dilahirkan tapi mati muda, dan yang tersial adalah umur tua. Rasa-rasanya memang begitu. Bahagialah mereka yang mati muda.”


“Saya memutuskan bahwa saya akan bertahan dengan prinsip-prinsip saya. Lebih baik diasingkan daripada menyerah terhadap kemunafikan.”


“Mimpi saya yang terbesar, yang ingin saya laksanakan adalah, agar mahasiswa Indonesia berkembang menjadi "manusia-manusia yang biasa". Menjadi pemuda-pemuda dan pemudi-pemudi yang bertingkah laku sebagai seorang manusia yang normal, sebagai seorang manusia yang tidak mengingkari eksistensi hidupnya sebagai seorang mahasiswa, sebagai seorang pemuda dan sebagai seorang manusia. “


“Saya ingin melihat mahasiswa-mahasiswa, jika sekiranya ia mengambil keputusan yang mempunyai arti politis, walau bagaimana kecilnya, selalu didasarkan atas prinsip-prinsip yang dewasa. Mereka yang berani menyatakan benar sebagai kebenaran, dan salah sebagai kesalahan. Dan tidak menerapkan kebenaran atas dasar agama, ormas, atau golongan apapun.”


“Masih terlalu banyak mahasiswa yang bermental sok kuasa. Merintih kalau ditekan, tetapi menindas kalau berkuasa. Mementingkan golongan, ormas, teman seideologi dan lain-lain. Setiap tahun datang adik-adik saya dari sekolah menengah. Mereka akan jadi korban-korban baru untuk ditipu oleh tokoh-tokoh mahasiswa semacam tadi.”


“Sejarah dunia adalah sejarah pemerasan. Apakah tanpa pemerasan sejarah tidak ada? Apakah tanpa kesedihan, tanpa pengkhianatan, sejarah tidak akan lahir?”


“Bagiku perjuangan harus tetap ada. Usaha penghapusan terhadap kedegilan, terhadap pengkhianatan, terhadap segala-gala yang non humanis...”


“Kita seolah-olah merayakan demokrasi, tetapi memotong lidah orang-orang yang berani menyatakan pendapat mereka yang merugikan pemerintah.”


“Bagi saya KEBENARAN biarpun bagaimana sakitnya lebih baik daripada kemunafikan. Dan kita tak usah merasa malu dengan kekurangan-kekurangan kita.”


“Potonglah kaki tangan seseorang lalu masukkan di tempat 2 x 3 meter dan berilah kebebasan padanya. Inilah kemerdekaan pers di Indonesia.”


“To be a human is to be destroyed.”


“Saya tak mau jadi pohon bambu, saya mau jadi pohon oak yang berani menentang angin.”


“Saya putuskan bahwa saya akan demonstrasi. Karena mendiamkan kesalahan adalah kejahatan.”


“I’m not an idealist anymore, I’m a bitter realist.”


“Saya kira saya tak bisa lagi menangis karena sedih. Hanya kemarahan yang membuat saya keluar air mata.”


“Bagiku ada sesuatu yang paling berharga dan hakiki dalam kehidupan: dapat mencintai, dapat iba hati, dapat merasai kedukaan.”


“Saya tak tahu mengapa, Saya merasa agak melankolik malam ini. Saya melihat lampu-lampu kerucut dan arus lalu lintas jakarta dengan warna-warna baru. Seolah-olah semuanya diterjemahkan dalam satu kombinasi wajah kemanusiaan. Semuanya terasa mesra tapi kosong. Seolah-olah saya merasa diri saya yang lepas dan bayangan-bayangan yang ada menjadi puitis sekali di jalan-jalan. Perasaan sayang yang amat kuat menguasai saya. Saya ingin memberikan sesuatu rasa cinta pada manusia, pada anjing-anjing di jalanan, pada semua-muanya.”


“Tak ada lagi rasa benci pada siapapun. Agama apapun, ras apapun dan bangsa apapun. Dan melupakan perang dan kebencian. Dan hanya sibuk dengan pembangunan dunia yang lebih
baik. “
*P/S :- Sekiranya ada diantara Saudara Saudari yang berencana ke Indonesia, pastikan anda beli saja buku ini 2 - 3 kotak kerana ramai yang mencari buku ini di sini. Kalau malas nak baca, beli saja VCDnya yang bertajuk "GIE" lakonan Nicholas Saputra(sebagai Soe Hok Gie).
**P/S :- Sesungguhnya buku-buku Biografi seperti ini sangat tinggi nilainya, kerana ia boleh jadi saja satu perjuangan yang berlaku sekali dalam sejarah dunia & ianya mungkin saja dilakukan/diperjuangkan oleh orang-orang tertentu. MAHUKAH KITA BERJUANG SEPERTI MEREKA... ?
NAH... MARI KITA BERJUANG !...