Sabtu, 03 Januari 2009

"Kapitalisme Yang Ringkih dan solusi Sosialisme"

"Kapitalisme Yang Ringkih dan solusi Sosialisme"



ketika kapitalisme memasuki fase stagnasi pada tahun 1970-an, dengan sigap beberapa ekonom, terutama dari orde liberalisme, lansung memapah dan menyelamatkannya. Solusi yang mereka adalah mendorong neoliberalisme dan restrukturisasi peran dan fungsi institusi keuangan. Yang pertama dilakukan dengan mengintegrasikan semua ekonomi nasional dan bangsa-bangsa ke dalam perekonomian pasar global, dengan menghilangkan semua hambatan-hambatan bagi akselerasi dan perluasan capital. Sedangkan yang kedua dilakukan dengan memberi kelonggaran kepada sistem keuangan dengan sejumlah paket deregulasi.

Dua solusi ini tidak berjalan sukses, kalau tidak mau disebut gagal, karena sampai sekarangpun stagnasi tidak dapat diperangi dan diakhiri. Kapitalisme yang sudah tua dan ringkih ini pun berjalan dengan sakit-sakitan, tapi masih ada yang juga membopongnya. Belum lagi, neoliberalisme yang baru saja dipraktekkan 20-an tahun lebih telah melahirkan kerusakan luar biasa terhadap manusia dan planet. Dimana-mana neoliberalisme digugat karena telah memfasilitasi keserakahan korporasi untuk mengakumulasi profit sebesarnya, tanpa mempertimbangkan kemanusiaan dan keselamatan planet. Solusi kedua tak kalah menyedihkan, dalam waktu sekejap institusi keuangan global yang bermarkas di wall-street rontok satu persatu.

Ini merupakan salah satu krisis ekonomi paling serius dalam sejarah dunia.


Negara Keluar Kandang

Ketika krisis menyapu bersih lembaga keuangan, termasuk menggerus begitu banyak asset dan simpanan kaum kaya, Negara tampil di pasar dengan serangkaian paket bailout dan bantuan likuiditas lainnya. Keikutsertaan Negara bukan hal baru memang, tapi setidaknya hal ini menjadi aneh ditengah propaganda pengikut neoliberal yang memangkas peran Negara dalam pasar. Sebuah kolom di economist menyebutkan rencana ini sebagai hal memalukan, karena menjaga pasar dengan intervensi Negara lebih merupakan tindakan pragmatis ketimbang ideologis. Hal serupa di tulis oleh financial times pada 14 oktober; “Nasionalisasi merupakan penyimpangan dari sistem pasar bebas..”. bukankah von hayek dan tuan Friedman tidak menganjurkan negara mengintervensi, dan malah menyebut campur-tangan pemerintah sebagai distorsi.

Selama ini, sebuah kekacauan defenisi terjadi dikalangan akademisi di Universitas; mereka telah membuat defenisi sendiri dan seolah-olah menjadi consensus diantara mereka, bahwa sosialisme identik dengan peran/campur tangan Negara dalam memberikan layanan sosial, dan sebaliknya kapitalisme menentang peran Negara. Defenisi tersebut jelas salah dan tidak mencerminkan konteks perdebatan diantara dua ideology; sosialisme dan kapitalisme.

Sosialisme, dari sepanjang yang kita ketahui, merupakan sebuah adalah susunan sosial atau sistem masyarakat yang berbasiskan kepada kepemilikan kolektif terhadap alat-alat produksi (pabrik, mesin, tanah, dll). Sistem sosialisme, seperti yang banyak dijelaskan oleh Marx ataupun Lenin, merupakan tahap transisional menghilangnya klas-klas, yang juga berarti lenyapnya bentuk kepemilikan pribadi. Sehingga sosialisme menjangkau cita-cita dengan menghilangkan Negara.

Sedangkan bagi kapitalisme, ia tetap membutuhkan sebuah sistem regulator yang membantu membenarkan kapitalisme, karena serikangli terjadi disfungsi dan perilaku distorsif. Itulah sebabnya, mengapa kapitalisme membutuhkan Negara tidak hanya untuk memastikan kontrak (perjanjian) antara individu, yang berbasiskan kepada pertukaran, yaitu menimbang dan memutuskan sengketa yang mungkin timbul, tetapi juga tampil sebagai penengah dalam konflik sosial, terutama antara pemilik dan non-pemilik, yang seringkali terkait dengan isu-isu kesenjangan ekonomi.

Dalam hal ini, kapitalisme bukan sekedar regulator, tapi juga sebagai benteng yang mewakili seluruh kepentingan klas kapitalis dimana saja, terutama ketika berhadapan dengan perjuangan klas.

Menimbang Keynesianisme kedua?

Pada tahun 1930, ketika depresi hebat melanda ekonomi kapitalis, Joh Maynard Keynes datang untuk mengatasi kesulitan tersebut. Peran gemilang Keynes mengeluarkan ekonomi AS dan eropa dari krisis parah, menyemburkan namanya kepermukaan, dan selalu menjadi patokan orang sebagai salah satu jalan mengatasi krisis, seperti juga yang muncul dalam pemikiran ekonom kiri dan kanan sekarang ini.

Di AS, muncul rumor dengan kemunculan dua orang think-thank ekonomi, yang sekarang ini berdiri dibelakang Barack Obama, yaitu Tim Geithner dan Larry Summers, yang mana keduanya punya reputasi dan pendekatan berbeda dengan ekonom konservatif/republic yang sangat pro-neoliberal. Kedua orang ini, meski harus diuji lagi kebenarannya, dikenal dalam usahanya mendorong intervensi Negara dalam sistem pasar.

Sementara itu di luar AS, terutama Eropa dan Amerika Latin, pemerintahnya tidak mau menunggu penanganan petinggi Bank Sentral dan pejabat tinggi AS. Para pemimpin eropa misalnya, terutama inisiatif Jerman, Inggris, dan Perancis, yang menolak membeli produk-produk “bubble” yang dimiliki Bank-bank mereka, yang sudah terseret kemacetan likuiditas oleh wallstreet, dan sebaliknya mereka memilih menasionalisasi bank-bank tersebut. Mereka menolak imbauan IMF untuk memperketak perbankan dan menaikkan suku bunga; sebaliknya, mereka menurunkan suku bunga dan mengalirkannya kepada sector real.

Metode paling progressif di tunjukkan “blok alternative” di Amerika Latin. Venezuela menerapkan sistem Kontrol Pertukaran Mata Uang (Currency Exchange Control - CEC), selain melakukan kontrol devisa, serta mengalirkan keuntungan dari tingginya harga minyak untuk pembangunan infrastruktur, menggerakkan sector real—khususnya sector telekomunikasi dan pertanian.

Ada begitu banyak metode, yang pada dasarnya kembali “mengandalkan Negara”, tapi tujuan akhirnya berbeda-beda; memihak pada kepentingan orang kaya atau mayoritas kaum miskin. Model penyelematan AS, lewat skema bailout, terutama untuk menyelamatkan aset-aset kaum kaya dengan melancarkan likuiditas bank-bank bermasalah. Lain lagi dengan sepak terjang pemimpin eropa. Pemimpin seperti Gordon brown, Nicholas Sarkozy, ataupun Merkel, misalnya, lebih menekankan usaha praktis untuk memisahkan ekonominya dari efek-domino krisis financial di AS.

Lantas, dengan semakin menyebarnya peran negara mengendalikan kerusakan yang ditanggung kaya akibat keserakahan mereka sendiri, apakah ini yang disebut sebagai perubahan dalam ekonomi global? Sebelum melangkah jauh, saya ingin memberikan catatan, bahwa didalam eksistensi negara terdapat fungsi yang melekat, baik ditunjukkan oleh peran historiesnya, maupun oleh bentuk fungsionalnya, adalah memelihara sistem kapitalisme.

Ideology pasar bebas yang dibangun dan berjaya luar biasa selama 30-an tahun akhirnya ambruk, mengikuti kehancuran secepat kilat bank-bank besar di AS dan Eropa, yang selang waktu kejatuhannya benar-benar menakjubkan. Tangisan sejumlah kanan neoliberal di AS harus dibayar dengan “sosialisme keuangan, yang bertujuan untuk menjaga modal, bukan mengambil alihnya. Tidak ada keraguan mungkin, bahwa ukuran dosis yang diberikan oleh negara kepada sistem kapitalisme hanya mengembalikan hubungan antara negara dan modal. Kalaupun tidak demikian, namun setidaknya apa yang terjadi hari ini, telah menginkari prasangka dominan bahwa modal dan raksasa multinasional benar-benar tidak bergantung pada negara.

Kemungkinan lahirnya model Keynesian kedua, yang mungkin lebih diperbaharui dan disesuaikan dengan situasi kontemporer, adalah benar-benar mungkin, dan boleh jadi juga tidak. Tokh, ketika dogma pasar bebas berjaya, AS dan beberapa negara penganutnya tidak sepenuhnya mencabut tangan negara dalam pasar, dan mereka masih menerapkan proteksionisme—tentu dengan modus yang berbeda. Apa yang sering dipahami secara vulgar, termasuk ekonom progressif, bahwa Keynes telah berhasil menghentikan krisis kapitalisme. Apa yang dilakukan oleh Keynes pada tahun 1930-an adalah menentang pendapat sejumlah ekonom ortodoks, bahwa krisis dapat dihentikan dan tingkat keuntungan (revenue) dapat dipulihkan jika standar hidup pekerja dipotong/ditekan. Keynes hanya menertawakan kebodohan orang-orang yang percaya bahwa pasar dalam menyelesaikan krisis hari ini, tanpa melibatkan sector lain. Keynes sedikit mengikuti logika Marx, meskipun ia menolak membaca lebih jauh pemikiran marx dalam capital, bahwa semua barang di pasar hanya dapat terjual jika pekerja membelanjakan semua upahnya dan kapitalis membelanjakan semua keuntungannya.
apa yang diperlukan dari intervensi negara, seperti juga yang dikehendaki oleh Keynes, adalah menaikkan level pembayaran untuk konsumsi dan investasi. Ada dua hal yang dilakukan; pertama, pertama didorong menurunkan suku bunga. Hal ini akan mendorong orang menghabiskan pendapatannya ketimbang menyimpan, sehingga akan mendorong pasar bisa menghabiskan output produksi, serta mendorong perusahaan untuk terus berinvestasi.

Kedua, negara harus memikul pengeluaran lansung untuk membiayai pinjaman. Ketika terjadi deficit pembiayaan, akan terbayarkan dengan sendirinya, karena sejak ekonomi diperluas, pemerintah akan memperoleh peningkatan keuntungan dari pajak.

Pada tahun 1930, ketika pengangguran meningkat 100%, ia menyarankan pembukaan lapangan pekerjaan yang dilakukan lansung oleh negara. Tapi pendekatan Keynesian yang begitu radikal, setidaknya dalam ukuran ekonomi kapitalis, ia tetap harus mempertimbangkan penerbangan modal yang meluas, meningkatnya impor, keseimbangan dalam deficit pembayaran, dan kenaikan suku bunga yang drastis.

Bagaimanapun, tidak bisa mempraktekkan teori Keynesian secara gradual. Keynesian tidak menyelesaikan problem mendasar dalam sistem kapitalisme, seperti yang berulang kali dijelaskan marx, bahwa; (1). Ketidakseimbangan antara produksi kapitalis dengan kebutuhan real masyarakat, yang selalu dijelaskan dengan anarkisme produksi. (2). Ketidakseimbangan antara keluaran (kapasitas produksi) dengan kemampuan konsumsi massal—yang parameternya adalah upah (daya beli) masyarakat. (3). Akumulasi berlebihan, yakni tidak cukupnya produksi nilai lebih, dibandingkan dengan jumlah capital yang diakumulasikan.

Sosialisme Sebagai Jalan Keluar

Kendati terlampau dini, dan banyak menyebutkan bahwa ide ini terlampau liar, tapi saya berani mengatakan bahwa sosialisme-lah jalan keluar dari keserakahan ini. Beberapa kawan, bukan saja dari spektrum moderat, tapi juga kawan yang kuhitung kiri, menganggap bahwa krisis ini belum cukup menjadi kenyataan untuk memunculkan sosialisme. Alasannya, berkali-kali kapitalisme memasuki krisis dan depresi hebat, bahkan teori ekonomi borjuis pun kesulitan menjawabnya, tapi toh mereka masih memiliki jurus untuk menyelamatkannya, dan setelah itu kapitalisme bangkit lagi.
Saya tidak latah dengan ekspose besar-besaran soal peningkatan penjualan das capital—meskipun ini menjelaskan hal penting—di beberapa tempat di eropa, atau semakin seringnya economics dan banyak jurnal ekonomi ngetrend di dunia selalu merujuk pemikiran Karl Marx, tapi semata-mata karena menemukan ketepatan soal sejumlah analisa Marx soal perkembangan kapitalisme, dan kegagalan dan kemeresotan yang sudah sangat kasat mata ditimbulkan oleh kapitalisme. Seperti gurauan seorang kamerad saya; “sialnya, prediksi Marx selalu benar”.

Krisis yang terjadi sekarang, tak dapat disangkal, banyak yang luput dijelaskan oleh teori ekonomi borjuis, dan terkadang persoalan yang begitu sederhana, yang seharusnya bisa dihindari, tetap diacuhkan dan ekonomi dibiarkan berjalan yang beresiko sangat buruk. Semua itu hanya untuk melayani keserakahan kapitalis. Krisis kapitalisme sekarang, yang sedikit berbeda dengan krisis sebelumnya (krisis finansial Meksiko pada 1994-95, krisis finansial Asia 1997-1998, krisis finansial Rusia 1996, keruntuhan pasar modal Wall Street pada 2001 dan keruntuhan finansial Argentina pada 2002), karena kedatangannya bersamaan dengan krisis kapitalisme global; gugatan terhadap neoliberal mengemuka, kerusakan ekologi, krisis pangan, krisis energi, dan perubahan iklim. Dengan kata lain, bahwa kapitalisme sekarang ini tidak lagi menyediakan kesempatan untuk melanjutkan kehidupan, setidaknya kalau sistem ini tidak cepat dirubuhkan.

Pada masa krisis ini, ekonom kapitalis menganjurkan kita untuk menerima proposan bernilai jutaan dolar AS, guna menalangi bank yang bankrut, melancarkan likuiditas bagi institusi keuangan; pendeknya, mereka menalangi orang kaya. Sebaliknya, sosialisme berpendapat, bahwa dana yang besar seharusnya dipergunakan untuk membiayai pembukaan lapangan kerja baru, jaminan perumahan layak, dana tambahan untuk menjamin produksi berbasis pro-lingkungan, serta jaminan kesehatan dan harga makanan pokok yang stabil. Jika yang pertama, yaitu kapitalisme, melayani pemodal dan orang kaya, maka yang kedua melindungi mayoritas orang miskin dan keberlanjutan kehidupan diplanet. Kapitalisme menghamba kepada akumulasi profit, keserakahan, dan pemusnahan, maka sosialisme menentang logika akumulasi profit, menawarkan kesetaraan, dan solidaritas.

Venezuela, sebuah negara yang sedang berada dalam perjuangan menuju sosialisme, justru mampu mengarahkan pembangunan ekonominya guna memenuhi kebutuhan dasar rakyat. Atapun Kuba, misalnya, di negeri sosialis ini kita tidak menemukan kelaparan, penghilangan dana pension, ataupun penyitaan rumah karena penghuninya tidak sanggup melunasi kredit. Meski Venezuela sedikit mengalami kesulitan baru akibat anjoknya harga minyak dunia, tapi jelas bahwa mereka lebih imum, lebih punya perisai tebal, lebih tangguh, ketimbang negara-negara lainnya, apalagi Indonesia. Venezuela juga menghimpun negara-negara Amerika Latin lainnya untuk melepaskan diri dari ketergantungan akan mata uang dolar AS dengan merencanakan berdirinya Bank Selatan (Banco del Sur).

Tentu saja, saya tidak berfikir soal keniscayaan keruntuhan kapitalisme neoliberal secara otomatis, apalagi berfikir lebih jauh bahwa keruntuhan ini serta merta digantikan oleh sosialisme. Kita masih memiliki beberapa pekerjaan berat untuk mewujudkan sosialisme sebagai alternatif; pertama, kita perlu untuk berani memunculkan kembali gagasan sosialisme, dalam berbagai arena (akademik, media, panggung politik, akar rumput, dsb), setelah sekian lama gagasan sosialisme seperti pingsan dan ruang-ruang tersebut dikuasai ide-ide kapitalisme neoliberal. Kedua, kita perlu memelihara dan memperbanyak cermin bagi dunia baru; segala bentuk praktek mengubah masyarakat agar lebih baik, humanis, dan demokratik. Oleh karena itu, kerja memperkuat solidaritas terhadap kekuatan dunia alternatif, seperti Venezuela, Kuba, Bolivia, ataupun perlawanan-perlawanan pekerja yang menginspirasikan, perlu terus ditingkatkan. Ketiga, gerakan sosial radikal, partai politik kiri, dan sector-sektor progressif lainnya, harus memulai pembangunan gerakan politik yang kuat, untuk bertarung panggung politik nasional dan merebut kekuasaan. Tidak cukup bagi gerakan sosial menghadang daya merusak kapitalisme, jikalau hanya tetap bertahan pada memperjuangkan isu tertentu dan terpisah dari politik real.

Saya yakin, bahwa reformasi-reformasi atau solusi setengah-setengah dari negara kapitalis sekarang tidak akan mampu menyehatkan kapitalisme dari penyakit. Paling-paling obat itu hanya menghilangkan rasa nyeri, tapi tidak menghilangkan penyakitnya. Dan bagi saya, gagasan sosialisme sebagai solusi perlu diajukan sejak sekarang.

1 komentar: